MEDAN, PILAR MERDEKA – Farid Fardian kembali membuktikan atraksi freestyle BMX bukan sekadar permainan keseimbangan di atas dua roda. Di tengah ramainya Car Free Day (CFD) di kawasan Kota Tua, Kesawan, Jalan Jend. Ahmad Yani, Medan, Minggu (19/7) Jam 09.00 WIB, sang legenda membuat ratusan pasang mata terpaku.
Farid Fardian tidak hanya mempertontonkan kemampuan mengendalikan sepeda. Ia menghadirkan pertunjukan yang mengundang ketegangan, kekaguman, tawa, senyum hingga tepuk tangan panjang yang berkali-kali terdengar di kawasan bersejarah tersebut
Sejak pagi, suasana CFD sudah dipenuhi komunitas BMX Medan. Di sisi lokasi atraksi, sejumlah sepeda BMX tersusun rapi. Pengunjung duduk dan berdiri di sisi kiri maupun kanan jalan, tidak jauh dari Rumah Tjong A Fie, demi mendapatkan posisi terbaik untuk menyaksikan penampilan pria asal Bandung yang kini menetap di Kota Medan.
Dengan mengenakan helm, sarung tangan, serta pelindung kaki hingga lutut, Farid menaiki sepeda BMX freestyle berwarna merah. Rangka sepeda yang kokoh dan ban standar menjadi teman setianya menampilkan satu demi satu teknik yang membutuhkan keseimbangan, ketelitian, dan penguasaan penuh.

Farid Fardian membuka pertunjukan dengan teknik-teknik keseimbangan yang membuat penonton langsung terpukau. Ban, stang, hingga rangka sepeda diputar dengan presisi tinggi. Tidak lama kemudian, tingkat kesulitan meningkat.
Di atas sepeda yang terus bergerak, Farid berdiri dengan kaki kanan bertumpu di stang, sementara kaki kiri berada di atas jok. Tangan kanannya lurus mengarah ke depan, sedangkan tangan kiri menjaga keseimbangan tubuh. Seluruh gerakan dilakukan dengan tenang tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan.
Sorak-sorai spontan terdengar dari berbagai sudut kerumunan.
“Wah keren banget,” seru beberapa pengunjung yang tidak mampu menyembunyikan kekaguman mereka.
Tak lama berselang, Farid kembali mengejutkan penonton dengan melakukan jungkir balik menggunakan sepeda BMX tanpa terjatuh. Tepuk tangan kembali pecah mengiringi keberhasilannya menyelesaikan setiap atraksi dengan sempurna.

Namun, momen yang paling menyita perhatian terjadi ketika Farid Fardian menaikkan tingkat kesulitan pertunjukan.
Seorang anak laki-laki diminta berbaring telentang di atas aspal dengan kedua kaki direnggangkan.
Suasana yang sebelumnya riuh mendadak berubah sunyi.
Seluruh mata tertuju kepada Farid dan anak tersebut. Tidak ada lagi suara selain roda sepeda yang perlahan bergerak mendekat.
Dengan kecepatan yang terukur, Farid mengayuh sepedanya menuju tubuh sang anak. Tepat di antara kedua kaki anak itu, ia mengerem mendadak. Dalam hitungan detik, roda depan diangkat dan melompati salah satu kaki anak tanpa sedikit pun menyentuhnya.
Begitu roda kembali menyentuh permukaan aspal, tepuk tangan langsung membahana.
Ketegangan belum berakhir.
Farid kembali mengayuh sepeda, kali ini melompati tubuh anak tersebut. Setelah berhasil melewati bagian depan, ia kembali mendekat dengan perlahan. Roda belakang kemudian diangkat hingga berhasil melewati tubuh sang anak tanpa menyentuh sedikit pun.
Rasa cemas yang sejak tadi menyelimuti penonton berubah menjadi lega. Sorakan dan tepuk tangan panjang kembali menggema sebagai bentuk apresiasi atas aksi yang berlangsung mulus.
Sepanjang pertunjukan, berbagai atraksi freestyle terus diperlihatkan. Setiap teknik yang ditampilkan selalu berhasil menarik perhatian masyarakat yang memadati kawasan Kesawan.
Farid Fardian hadir dalam Car Free Day Medan untuk memeriahkan peringatan BMX Day bersama sejumlah komunitas BMX di Kota Medan.

Salah seorang anggota komunitas Old School BMX Medan, Binsar (49), menjelaskan bahwa BMX Day sedunia sebenarnya diperingati setiap 20 Juli. Namun karena tahun ini bertepatan dengan hari Senin, seluruh komunitas sepakat menggelar perayaan pada hari Minggu agar lebih banyak peserta dan masyarakat dapat ikut merasakan kemeriahan acara.
Menurut Binsar, kegiatan tersebut mempertemukan berbagai komunitas BMX Medan yang menampilkan atraksi dari kategori new school maupun old school.
Selain pertunjukan freestyle, komunitas BMX juga menggelar berbagai kegiatan santai, termasuk lomba sepeda BMX paling lambat yang diikuti para anggota komunitas. Suasana penuh keakraban membuat kegiatan tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan, tetapi juga mempererat persaudaraan antarpegiat BMX Kota Medan.
Usai kegiatan di kawasan Car Free Day, seluruh peserta dijadwalkan melanjutkan aktivitas di skatepark Jalan Pasar Merah yang memiliki area lebih luas untuk berlatih dan berkumpul.
Sepeda BMX atau Bicycle Motocross merupakan jenis sepeda yang dirancang khusus untuk balapan maupun aksi freestyle yang mengandalkan teknik, keseimbangan, serta penguasaan penuh terhadap sepeda.
35 Tahun Farid Fardian Menjadikan BMX Sebagai Jalan Hidup

Di balik atraksi yang terlihat ringan dan menghibur, tersimpan perjalanan panjang yang dibangun selama puluhan tahun.
Farid Fardian mengungkapkan dirinya mulai mengenal freestyle BMX pada tahun 1991 ketika masih berusia 13 tahun.
Kini, usia Farid sudah 48 tahun, sekitar 35 tahun hidupnya dihabiskan bersama sepeda BMX.
Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, itu mengaku aktivitas sehari-harinya tidak pernah jauh dari dunia sepeda. Baginya, apa pun hobi seseorang, apabila dijalani dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri.
Tidak hanya tampil dalam berbagai acara,
Farid juga rutin menggelar pertunjukan edukatif di sekolah-sekolah sebagai sarana memberikan motivasi kepada generasi muda.
Program tersebut telah dijalankannya selama sekitar 24 tahun sebelum sempat terhenti akibat pandemi Covid-19.
Selama menjalankan kegiatan itu, Farid mengaku telah mengunjungi ribuan sekolah, dengan sebagian besar berada di Kota Medan. Pertunjukan biasanya dilakukan saat jam istirahat sehingga tidak mengganggu proses belajar mengajar.
Pengalaman itu juga membawanya tampil di Trans TV, Gama TV, hingga masuk SCTV Music Awards. “Jadi saya sudah keliling Indonesia,” ujar Farid kepada Pilar Merdeka.Com.
Kecintaannya terhadap freestyle BMX bermula dari keinginan belajar kepada para senior di Bandung.
Saat masih duduk di bangku kelas satu SMP, para senior yang menjadi panutannya sudah berada di tingkat SMA dan lebih dulu menguasai berbagai teknik freestyle.
Farid kemudian mempelajari setiap gerakan yang mereka tampilkan.
Proses tersebut tidak pernah mudah.
Ia berkali-kali terjatuh ketika mencoba berbagai trik dasar.
Cedera pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan panjangnya.
Bahkan sambil tersenyum, Farid menunjukkan bahwa cedera sudah menjadi hal biasa baginya.
Namun setiap kegagalan tidak pernah membuatnya berhenti. Justru dari setiap jatuh itulah ia belajar, menguasai teknik demi teknik, hingga akhirnya mampu mengembangkan gaya bermainnya sendiri.
Farid juga terus bertukar ilmu dengan pegiat freestyle BMX dari berbagai daerah. Setiap menemukan teknik baru, ia mempelajarinya, kemudian mengembangkannya sesuai kemampuan yang dimiliki.
Sebelas Kali Berturut-turut Menjadi Juara Pertama
Perjalanan panjang itu akhirnya melahirkan prestasi yang membanggakan.
Farid Fardian bukan hanya dikenal sebagai penampil atraksi, tetapi juga atlet freestyle BMX berprestasi.
Ia mengikuti kompetisi kategori flatland yang terbagi dalam kelas old school, mid school, dan new school.
Farid memilih bertanding pada kategori old school dan mid school.
Prestasi terbarunya diraih pada Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) VIII Tahun 2025 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dalam ajang tersebut, Farid berhasil meraih medali emas sekaligus menjadi Juara I Nasional kategori Old School Freestyle Open Class sebagai wakil kontingen DKI Jakarta.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejak mulai mengikuti kompetisi pada 2018 hingga sekarang, dirinya telah meraih gelar juara pertama sebanyak 11 kali berturut-turut.
Pesan Farid untuk Generasi BMX: Jangan Takut Jatuh

Di sela-sela pertunjukan, Farid Fardian membagikan pesan kepada para pengunjung, terutama generasi muda yang ingin belajar freestyle BMX.
Menurutnya, proses belajar tidak pernah lepas dari kegagalan.
Seseorang bisa jatuh satu kali, dua kali, puluhan kali, bahkan ratusan kali. Namun selama terus mencoba, kemampuan akan terus berkembang.
Bagi pemula, ia menyarankan agar fokus menguasai teknik dasar terlebih dahulu dan tidak tergesa-gesa mencoba trik yang lebih sulit.
Menurut Farid, lebih baik benar-benar menguasai tiga trik dengan sempurna daripada memiliki banyak trik tetapi tidak dikuasai secara maksimal.
Ia juga mengingatkan seluruh pesepeda BMX agar selalu menjaga etika saat berkendara di jalan raya.
Baginya, kemampuan tinggi mengendarai BMX tidak akan berarti tanpa sikap disiplin, tertib, dan menghormati pengguna jalan lainnya.
Pesan itu menjadi penutup yang menguatkan makna seluruh pertunjukan hari itu. Di balik setiap aksi menegangkan yang membuat penonton menahan napas, Farid Fardian menunjukkan bahwa keberanian bukan hanya tentang berani melompat atau menaklukkan rintangan.
Keberanian juga tentang kesabaran untuk terus bangkit setiap kali terjatuh dan tetap rendah hati saat berada di puncak prestasi. (Monang Sitohang)

