MEDAN, PILAR MERDEKA – Suasana even Kopi Fest Indonesia (KFI) 2026 di Sun Plaza Medan sore itu dipenuhi aroma kopi dan aneka jajanan khas. Di tengah ramainya booth makanan modern, sebuah sepeda onthel hitam justru mencuri perhatian pengunjung.
Di batang sepeda tua yang dimodifikasi itu terpampang jelas tulisan merah “Ciongfan Siantar”.Sebuah standing banner dengan lebel berdiri disampingnya.
Di belakang sepeda, terdapat kotak kaca (steling) berisi ciongfan, bawang goreng, kacang panggang, wijen sangrai, hingga sambal. Semua tertata rapi dan sederhana, seperti membawa pengunjung kembali ke suasana kuliner tempo dulu.
Booth sederhana itu dijaga oleh Koko, generasi kedua penjual Ciongfan Siantar. Dengan cekatan ia melayani pembeli yang datang silih berganti selama gelaran festival yang berlangsung dari 27-31 Mei 2026.

Menggunakan gunting, Koko memotong lembaran ciongfan tipis sebelum meletakkannya di atas daun yang telah dilipat rapi. Setelah itu ia menuangkan saus, taburan bawang goreng, wijen sangrai, dan kacang panggang. Sedangkan isian Ciongfan ada daun bawang dan taiso ayam.
Satu porsi Ciongfan Siantar dijual seharga Rp30 ribu dan pembayaran menggunakan Qris. Bagi pengunjung yang ingin menikmati dengan membawa pulang, Koko juga menyediakan tinwall kotak.
Di balik ramainya pembeli, tersimpan perjalanan panjang usaha keluarga yang dimulai sejak 1985 di Kota Siantar. Ayah Koko dahulu berjualan keliling menggunakan sepeda onthel yang sama di kawasan Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka.
“Usaha kuliner Ciongfan Siantar ini dari orang tua sejak 1985,” kata Koko kepada Pilar Merdeka.Com, di sela saat melayani pembeli, Rabu (27/5).
Bagi Koko, sepeda onthel itu bukan sekadar alat jualan. Sepeda tersebut menjadi saksi perjuangan ayahnya mencari nafkah selama puluhan tahun.
Ciongfan sendiri dibuat dari bahan dasar beras. Koko menjelaskan, dahulu keluarganya menggunakan beras khas yang dikenal dengan nama beras kodok. Beras tersebut tidak biasa dikonsumsi sebagai nasi karena teksturnya memang khusus digunakan untuk membuat kue dan makanan tradisional.
Proses pembuatannya juga masih dilakukan secara manual. Beras direndam, digiling, diadon, lalu dikukus tipis-tipis hingga menjadi lembaran ciongfan.
Koko mengatakan seluruh bahan dibuat sendiri (handmade) tanpa menggunakan bahan instan.
“Mulai dari beras digiling sendiri, bawang kita kupas dan goreng sendiri, kacang dipanggang sendiri, wijen disangrai sendiri,” ujarnya dengan semangat.
Menurutnya, keaslian rasa itulah yang membuat banyak pelanggan tetap bertahan hingga sekarang. Di tengah maraknya makanan instan, banyak orang justru mencari makanan dengan proses rumahan dan handmade.
Nama “Ciongfan” yang digunakan juga memiliki alasan tersendiri. Pada umumnya makanan tersebut dikenal dengan nama “Ci Ciong Fan”. Namun Koko sengaja menghilangkan kata “Ci”.
Ia menjelaskan, dalam bahasa Hongkong kata “ci” berarti babi. Karena produk yang dijualnya sudah halal, maka nama itu diubah menjadi Ciongfan Siantar.
Kini ayahnya masih berjualan di kawasan Sunggal. Sementara Koko berjualan di Pasar Beruang dekat Simpang Kelinci dan Pasar Besi di Kota Medan.
Perjalanan Koko melanjutkan usaha keluarga dimulai pada 2014. Saat itu ia sedang tidak bekerja dan bingung menentukan arah hidup.
Ayahnya kemudian bertanya apakah ia percaya diri untuk melanjutkan jualan ciongfan keluarga.
“Kamu percaya diri gak kalau jualan Ciongfan?” tanya sang ayah saat itu.
Tanpa ragu, Koko menjawab dirinya pede (percaya diri) untuk berjualan. Ia tidak malu meneruskan usaha makanan tradisional keluarga.
“Yang penting halal,” ucap Koko.
Keputusan sederhana itu akhirnya mengubah hidupnya. Dari seorang pengangguran, kini ia menjadi penerus kedua kuliner keluarga yang tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.
Rasa Ciongfan Siantar juga mendapat respons positif dari pengunjung acara KFI 2026. Seorang pembeli wanita berhijab yang didampingi pasangannya mengaku rasa makanan itu mirip kwetiau enak, tetapi lebih tipis dan lembut.
Ia menyukai perpaduan saus manis dan sambal pedas yang disajikan terpisah dalam plastik kecil.

Senada dengan itu, pengunjung bernama Nina mengatakan rasa gurih bawang goreng, wijen sangrai, dan kacang panggang membuat ciongfan Siantar terasa semakin nikmat.
Gelaran even Kopi Fest Indonesia 2026 diselenggarakan di dua lantai, di Atrium Sun Plaza aneka produk olahan kopi dan lainnya sementara lantai bawahnya ada jajanan khas Kota Medan. Pengunjung juga bisa duduk santai bareng keluarga sambil nikmati hidangan
Namun di antara banyaknya booth modern, Ciongfan Siantar menjadi bukti bahwa rasa sederhana, kerja keras, dan warisan keluarga tetap memiliki tempat di hati masyarakat. (Monang Sitohang)

