BerandaFeaturePondok Kue Nabila, Puluhan Tahun Bertahan Jajakan Kue Tradisonal

Pondok Kue Nabila, Puluhan Tahun Bertahan Jajakan Kue Tradisonal

MEDAN, PILAR MERDEKA – Berdiri di pinggir Jalan Karya Kasih No. 81C, Medan Johor, Kota Medan, itulah Pondok Kue Nabila. Tidak megah dan juga tidak lusuh, kata orang-orang Pondok Kue Nabila tampak sederhana tapi punya daya tarik tersendiri. Terlihat di etalase terpajang aneka kue tradisional, aromanya khas, bukan aroma produk kue zaman now.

Lokasinya persis di sisi kanan jalan bila datang dari arah Jalan Karya Wisata, dan sebaliknya Pondok Kue Nabila berada di sebelah kiri dari Jalan Karya Jaya. Tepat di bagian depan, tampak kokoh pohon mahoni yang seolah sebagai pertanda setia pondok kue tradisional tersebut.

Pondok Kue Nabila menjajakan aneka kue tradisional Indonesia yang tertata rapi di etalase. Ada sekitar 15 jenis kue yang dipajang setiap hari. Bentuknya beragam, warnanya menggoda, dan aromanya khas santan serta gula.

Beberapa kue yang tersedia antara lain kue talam hijau, lapis, bika ubi, tumpur banda, talam pulut, lemper, sus, martabak telur, risol, pastel, dadar, donat, talam ubi, dan lainnya. Harga kue sangat terjangkau, mulai dari Rp2.500 hingga Rp3.000 per buah.

Pondok
Aneka kue tradisional Pondok Kue Nabila, ada kue tumpur banda, Sus, talam ubi, dan dadar. (Foto. Pilar Merdeka)

“Kue tradisional yang dipajang di etalase sekitar 15 macam. Tapi sebenarnya produksi di Pondok Kue Nabila mencapai 40 jenis kue jadi siapa saja boleh pesan daftarnya ada,” ujar Nabila, kasir Pondok Kue Nabila sambil menunjukkan daftar aneka kue yang ditempelkan disamping etalase, Rabu (4/2).

Ia menjelaskan, kue yang dipajang biasanya adalah jenis yang selalu habis setiap hari. Dari semua kue, yang paling diminati pembeli adalah talam hijau dan talam ubi.

Pondok Kue Nabila bukan usaha baru. Usaha ini berdiri sejak tahun 2005 di Jalan Rahmadsyah. Enam tahun kemudian, tepatnya tahun 2011, usaha ini pindah ke Medan Johor, Jalan Karya Kasih.

BACA JUGA  Heritage C. Willem Menautkan Menteri Mukhtarudin dan Sejarah Kopasgat di Pangkalan Bun

“Dulu waktu awal pindah ke Johor, kuenya dibuat di Johor lalu dijual di Jalan Rahmadsyah. Sekarang semuanya sudah terpusat di Karya Kasih, Medan Johor,” jelas Nabila.

Nama Pondok Kue Nabila menyimpan cerita keluarga yang hangat. Usaha ini didirikan oleh sang ibu, Nursaidah, yang akrab disapa Ibu Nona. Nama “Nabila” diambil dari nama anaknya sendiri.

“Itu nama saya,” kata Nabila, sambil tersenyum. Saat usaha ini berdiri, ia masih berusia sekitar lima tahun dan masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Kesetiaan pelanggan menjadi bukti rasa kue yang konsisten. Rabiatul, pelanggan dari Jalan Letda Sujono, datang bersama suaminya khusus untuk membeli kue di Pondok Kue Nabila.

“Saya suka kue talam hijau yang berwarna coklat dan hijau, itu rasanya gurih, manis dan tumpur banda. Teksturnya lembut sekali saat dikunyah,” ujarnya.

Sementara sang suami lebih menyukai talam ubi, dadar dan kue sus. Menurut Rabiatul, kue-kue di Pondok Kue Nabila memiliki aroma harum, lezat rasa manis pas, dan cita rasa khas.

“Kalau main ke Johor, kami pasti singgah. Biasanya beli sampai lima atau enam macam,” katanya.

Kue tradisional Indonesia, yang sering disebut jajanan pasar, terbuat dari bahan sederhana seperti tepung beras, ketan, ubi, santan, dan gula aren. Meski tampil sederhana, rasa dan nilai budayanya tidak tergantikan.

Di tengah maraknya kue kekinian dengan tampilan modern dan promosi besar-besaran di media sosial, Pondok Kue Nabila tetap bertahan. Kue tradisional yang dijual bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang kenangan, ketulusan warisan nenek moyang, dan kehangatan yang terus hidup dari generasi ke generasi. (Monang Sitohang)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH