BerandaFeatureTimpan Buatan May sampai ke Negeri Kincir Angin

Timpan Buatan May sampai ke Negeri Kincir Angin

MEDAN, PILAR MERDEKA – Kue lapis cokelat bukan sekadar jajanan tradisional. Di tangan May, perempuan asal Medan yang juga alumni BPLP-Akpar-Poltekpar Medan, kue berlapis dengan tekstur kenyal dan rasa manis itu menjadi sumber penghidupan sekaligus pengingat perjuangan bersama sang ibu yang telah meninggal dunia.

Kue lapis cokelat buatan May dikenal lembut, wangi, dan memiliki lapisan rapi yang menggugah selera. Aroma pandan, hingga cokelat yang khas membuat kue tradisional ini sering menjadi rebutan di meja makan maupun acara keluarga.

Namun di balik manisnya rasa kue, tersimpan kisah panjang seorang ibu rumah tangga yang berjuang menjaga warisan kuliner tradisional Indonesia tetap hidup.

May mengaku kecintaannya pada dunia memasak dimulai sejak kecil saat membantu ibunya berdagang di Pasar Peringgan, Jalan Iskandar Muda, Medan. Kala itu, pasar tersebut dikenal ramai dikunjungi pembeli dari kalangan menengah ke atas.

May
Kue lapis coklat buatan May. (Dok. May)

“Dari bantu-bantu ibu akhirnya saya menyukai dunia masak memasak. Saya fokus ke pembuatan kue tradisional,” ujar ibu tiga anak itu melalui whatsapp, Minggu (24/5).

Sejak muda, May terbiasa membuat kue lalu menitipkannya di warung sayur dan warung lontong di sekitar rumah. Setelah menikah dan menjadi ibu rumah tangga, ia kembali menghidupkan usaha kecilnya dengan memanfaatkan waktu luang di rumah.

Setiap malam selepas magrib, dapurnya mulai sibuk. Tepung beras, tapioka, santan, gula, garam, vanili, hingga bubuk cokelat diolah menjadi berbagai kue tradisional.

Selain kue lapis cokelat, timpan menjadi salah satu produk favoritnya. Selain itu, ia juga membuat timpan labu inti srikaya, timpan pisang inti srikaya, bugis ubi ungu inti gula merah, hingga klepon.

May mengatakan, pesanan timpan cukup sering datang untuk acara lamaran adat Aceh. Dalam tradisi tersebut, timpan menjadi hidangan wajib yang tidak boleh absen.

BACA JUGA  Meluangkan Waktu Baca di Ruang Publik

Dari usaha sederhana itu, ada satu pengalaman yang hingga kini tidak pernah ia lupakan.

May
Timpan buatan May yang siap diantar ke pelanggan kemasan mika besar. (Dok. May)

Suatu hari, seorang ibu memesan 100 potong timpan untuk dibawa ke Belanda yang dikenal dengan Negeri Kincir Angin. Pemesan sempat khawatir karena perjalanan panjang dengan beberapa kali transit bisa membuat kue rusak.

Pengalaman May pernah bekerja di Outside Catering Bandara Polonia menjadi solusi. Ia menyarankan agar timpan dititipkan ke lemari pendingin pesawat dan mengingatkan agar tidak tertinggal saat transit.

“Kalau ibu lupa, ya pramugari dan kru pesawat yang menikmati,” katanya sambil tertawa mengenang kejadian itu.

Kekhawatiran itu ternyata tidak terjadi. Timpan berhasil sampai di Belanda dalam kondisi baik dan masih beku. Setelah dihangatkan kembali, kue tradisional itu dinikmati bersama keluarga.

Momen paling membekas bagi May adalah ketika salah satu anggota keluarga di Belanda merasa kagum dengan timpan buatan Indonesia.

Menurut cerita pelanggan tersebut, keluarga berkebangsaan Belanda itu heran bagaimana orang Indonesia bisa memasukkan inti kelapa manis ke dalam kue yang dibungkus daun.

Cerita sederhana itu masih terus diingat May hingga sekarang.

Di tengah naiknya harga bahan baku dan kemasan, May tetap mempertahankan kualitas kuenya. Ia mengaku tidak mengurangi bahan dasar maupun gramasi utama.

“Ukuran kuenya saja yang sedikit diperkecil,” katanya.

Harga kue tradisional buatannya dijual mulai Rp2.500 hingga Rp3.000 per potong. Untuk pesanan khusus, pelanggan biasanya diminta memesan minimal dua hari sebelumnya.

Menariknya, May tidak merahasiakan resep kuenya. Baginya, hasil masakan bukan hanya soal bahan, tetapi juga soal rasa dan ketulusan saat membuatnya.

“Orang yang hanya sekedar membuat kue dengan orang yang passionnya membuat kue pasti berbeda hasilnya,” ujar alumni SMIP Pencawan itu.

BACA JUGA  Alumni BPLP Medan 92/93 "Menjemput" Berkah Ramadan

Saat ini, May juga sedang mengurus izin PIRT atau Pangan Industri Rumah Tangga agar usahanya memiliki legalitas resmi. Ia berharap sertifikasi tersebut bisa membuka peluang lebih luas untuk memasukkan produknya ke berbagai instansi dan pasar yang lebih besar.

“Kalau ada PIRT jadi ada nilai tambah dan bisa menaikkan harga jual,” katanya.

Promosi usahanya masih sederhana. Ia hanya mengandalkan status WhatsApp untuk menawarkan kue buatannya kepada pelanggan.

Meski begitu, pesanan terus berdatangan, misalnya minggu lalu ada pesanan yang dibawa ke Samarinda, Kalimantan Timur. Bahkan dalam seminggu terakhir, salah satu laboratorium di Kota Medan memesan sekitar 100 potong kue setiap hari.

Bagi May, usaha rumahan bukan sekadar mencari keuntungan. Dari dapur kecilnya, ia ingin membuktikan bahwa perempuan di rumah tetap bisa berkarya dan membantu ekonomi keluarga.

“Usaha rumahan kecil sekalipun bisa mendukung perekonomian keluarga. Kuncinya fokus dan konsisten,” tutup May penuh harap.

Kini, perempuan yang mulai serius kembali menjalankan usahanya sejak tahun 2020 itu berharap mendapat perhatian dari pemerintah maupun instansi terkait, terutama dalam bantuan permodalan seperti KUR Syariah Super Mikro serta dukungan masuk ke jaringan UMKM yang lebih luas. (Monang Sitohang)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH