BerandaFeaturePandai Besi 40 Tahun, Suwandi Jaga Warisan yang Kian Punah

Pandai Besi 40 Tahun, Suwandi Jaga Warisan yang Kian Punah

DELI SERDANG, PILAR MERDEKA – Di bawah tenda biru sederhana di Jalan Besar Desa Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Suwandi (67) menghabiskan hari-harinya sebagai pandai besi, profesi sudah ditekuninya selama lebih dari 40 tahun.
Suwandi baru sekitar empat bulan membuka usaha pandai besi di lokasi tersebut. Sebelumnya, ia menjalankan usaha selama tiga tahun di Jalan Pertiwi Baru, Kota Medan.

Pandai besi bagi Suwandi bukan sekadar pekerjaan. Keahlian itu merupakan warisan keluarga yang diturunkan langsung oleh orang tuanya. Hingga kini, keterampilan menempa besi tersebut tetap ia jaga meski usia sudah tidak muda lagi.

Di usianya yang tidak lagi muda, ayah enam anak dan kakek dari 11 cucu itu masih berdiri di depan bara api yang menyala panas. Tangannya tetap cekatan membentuk besi menjadi parang, pisau, egrek, dodos sawit, cangkul, arit hingga kampak.

“Apa yang dipesan orang-orang bisa saya buat,” ujar Suwandi, kepada Pilar Merdeka.Com, Rabu (24/6).

Suwandi mengaku setiap pesanan memiliki bentuk dan kebutuhan yang berbeda. Untuk parang saja, terdapat berbagai jenis seperti parang bergagang kayu, parang bergagang besi, hingga parang untuk memotong daging.

Begitu pula dengan pisau. Ada pisau dapur berukuran pendek maupun panjang, serta pisau kulit yang biasa digunakan saat pelaksanaan kurban.

Bahan utama yang digunakan berasal dari baja per mobil bekas. Per tersebut dibelinya dari Jalan Mahkamah, Kota Medan.

Menurut Suwandi, satu batang per mobil dapat diolah menjadi tiga hingga enam bilah parang, tergantung ukuran dan bentuk yang dipesan pelanggan. Dalam kondisi tertentu, pengerjaan beberapa bilah parang bisa diselesaikan dalam satu hari.

Namun usia yang semakin bertambah membuatnya harus lebih selektif memilih bahan.

BACA JUGA  Petani di Dusun Semangka Menggunakan Pompa Air Sebagai Irigasi

“Saya pilih yang tipis karena kalau yang tebal sudah tidak sanggup untuk mukuli,” katanya.

Suwandi menjalankan proses pembuatan secara tradisional yang membutuhkan ketelitian tinggi. Per mobil terlebih dahulu dipotong menggunakan mesin gerinda tangan.

Setelah itu besi dibakar menggunakan arang di dalam tungku. Menurutnya, pembakaran harus dilakukan dengan tepat agar kualitas besi tetap baik.

Besi yang dibakar tidak boleh hanya berwarna merah, melainkan harus mencapai warna putih. Untuk itu, arang digunakan dalam jumlah banyak dengan posisi arang berada di bawah dan di atas besi.

Setelah mencapai suhu yang diinginkan, besi dipukul menggunakan palu untuk membentuk ukuran, ketebalan, dan lengkungan sesuai kebutuhan.

Sementara itu, bahan untuk membuat cangkul dan egrek berbeda dengan parang maupun pisau. Untuk alat pertanian tersebut, Suwandi menggunakan pipa besi baja sebagai bahan baku.

Suwandi memperoleh kemampuan menempa besi bukan dalam waktu singkat. Semua bermula dari didikan orang tua yang mengajarkannya secara langsung sejak muda.

Warisan keluarga itu masih bertahan hingga sekarang. Salah satu adiknya juga berprofesi sebagai pandai besi di kawasan Pasar V Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan.

Berbagai hasil karyanya dijual dengan harga yang terjangkau. Pisau dapur dibanderol Rp20 ribu per buah. Sementara parang babi dijual Rp250 ribu dan parang biasa Rp150 ribu.

Meski telah puluhan tahun menjalani usaha ini, Suwandi mengaku tidak pernah kekurangan pelanggan. Menurutnya, setiap orang memiliki kebutuhan dan desain yang berbeda sehingga pesanan terus datang silih berganti.

Kendala terbesar dalam usaha pandai besi, katanya, adalah modal. Namun untuk bahan baku seperti arang dan per mobil, hingga kini masih mudah diperoleh.

“Karena bahan usaha pandai besi, ada saja dan banyak,” ujarnya.

BACA JUGA  Rumah Makan Mandailing di Sei Deli Pertahankan Cita Rasa

Perjalanan panjang Suwandi dalam dunia pandai besi menyimpan banyak kenangan. Sekitar 16 tahun lalu, di rumah orang tuanya juga pernah membuka usaha di Jalan Selamat Ketaren Nomor 17, Bantan Timur, Medan Tembung.

Saat itu, usaha keluarga mereka dikerjakan oleh tiga orang. Pesanan datang dari berbagai daerah seperti Pekanbaru dan Berastagi.

Berbagai alat pertanian seperti egrek, dodos sawit, hingga kampak menjadi pesanan yang paling banyak dikerjakan.

Namun masa itu kini tinggal kenangan. Sosok orang tua yang dahulu ikut menempa besi bersama dirinya telah tiada.

Meski demikian, warisan keterampilan itu tetap hidup di tangan Suwandi.

Baginya, seorang pandai besi harus mampu mewujudkan apa yang diinginkan pelanggan.

“Kenapa dibilang pandai besi karena apa yang dipesan orang harus bisa. Ada yang pesan keris saya bisa buat,” ungkapnya.

Selama puluhan tahun bekerja, Suwandi mengaku belum pernah menerima keluhan dari pelanggan atas hasil pesanannya.

Di akhir perbincangan, Suwandi membagikan pelajaran hidup yang diperolehnya dari puluhan tahun berdampingan dengan bara api dan besi panas.

Menurutnya, kemampuan menaksir panas saat membakar besi menjadi hal yang sangat penting. Kesalahan sedikit saja bisa membuat seluruh pekerjaan sia-sia.

Ia kemudian mengingatkan sebuah pepatah lama yang selalu dipegangnya.

“Arang habis besi binasa.”

Sebuah ungkapan yang menggambarkan pekerjaan yang menghabiskan tenaga, waktu, dan biaya, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.

Bagi Suwandi, pepatah itu bukan sekadar kata-kata, tapi pelajaran hidup yang ditempa dari panasnya bara dan kerasnya besi selama lebih dari empat dekade. (Monang Sitohang)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH