MEDAN, PILAR MERDEKA – Di bawah pohon rindang di Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, sebuah tenda biru sederhana masih berdiri tegak. Di tengah hiruk-pikuk kota, tempat itu jadi mesin waktu yang mengembalikan kenangan tukang pangkas rambut pada zamannya.
Tukang pangkas di bawah pohon rindang kini hampir tidak lagi terlihat di Kota Medan. Namun, Pak Is Tanjung (69) masih setia menjalani profesi yang telah menjadi bagian hidupnya selama tiga dekade.
Sekitar 10 meter sebelum lampu lalu lintas di Jalan Perintis Kemerdekaan, jika datang dari Simpang Jalan Sutomo, pria itu setiap hari membuka tempat pangkas rambut sederhananya. Tidak ada bangunan permanen. Hanya tenda biru yang dibentangkan di bawah pohon rindang dengan bantuan tali dan tiang kayu.
Pak Is Tanjung memulai usaha pangkas rambutnya pada 23 Maret 1996. Hingga kini, tepat 30 tahun kemudian, ia masih berada di lokasi yang sama.
“Tepat 23 Maret 1996 lalu saya buka usaha pangkas rambut. Sudah genap 30 tahun. Tarif pangkas rambut kala itu masih Rp500,” ujar ayah empat anak yang kini telah memiliki dua cucu itu saat ditemui Pilar Merdeka.Com pada Minggu sore (6/6)..
Selama 30 tahun, Pak Is tidak pernah benar-benar berpindah tempat. Ia hanya sedikit bergeser di sekitar lokasi yang sama. Kesetiaan terhadap tempat usaha sederhana itu menjadi saksi perjalanan panjang hidupnya.
Pak Is masih mempertahankan peralatan yang sederhana. Sebuah kaca ditempel pada batang kayu. Di bawahnya terdapat papan kecil tempat meletakkan gunting potong, gunting sasak, bedak, alat cukur, handuk kecil dan kursi kayu tempat pelanggannya.
Di antara peralatan tersebut, masih tersimpan ketam rambut manual yang hingga kini tetap digunakannya.
“Saya masih pakai ketam yang manual. Sekarang susah dicari, beda sama ketam sekarang sudah pakai charger. Buat nyukur saya pakai silet. Dulu pakai pisau diasahnya menggunakan bahan kulit,” katanya.
Pria yang tinggal di Jalan Gorila Medan itu terlihat cekatan saat melayani pelanggan. Setiap pelanggan dipersilakan duduk terlebih dahulu, lalu tubuh sampai leher mereka ditutupi kain agar potongan rambut tidak mengenai pakaian.
Setelah itu, gunting mulai bergerak perlahan di tangannya yang sudah terlatih selama puluhan tahun.
Pak Siregar, salah satu pelanggan setia, menjadi saksi perjalanan panjang usaha pangkas rambut tersebut. Ia mengaku sudah sekitar 20 tahun memangkas rambut di tempat Pak Is.
“Saya sudah sekitar 20 tahunan menjadi pelanggan tukang pangkas di bawah pohon rindang ini. Sejak saya narik becak,” ujarnya.
Kenangan tentang tukang pangkas bawah pohon ternyata menyimpan sejarah panjang di Kota Medan.
Menurut Pak Is, kawasan yang kini bernama Jalan Perintis Kemerdekaan dahulu dikenal sebagai Jalan Jati. Pada masa itu, banyak pohon akasia dan asam jawa tumbuh rindang di sepanjang jalan.
“Tahun 1996 saya mulai jadi tukang pangkas di sekitar Jalan Jati. Kata orang yang lebih tua dari saya, tahun 1980-an pusat tukang pangkas bawah pohon ada di Jalan Jati, Lapangan Merdeka, dan Jalan Gudang,” tuturnya.
Sebelum menjadi tukang pangkas, Pak Is pernah berdagang di Tanah Abang, Jakarta. Namun, jalan hidup membawanya kembali ke Medan hingga akhirnya menekuni profesi yang kini telah digelutinya selama 30 tahun.
Tukang pangkas di bawah pohon rindang bukan sekadar pekerjaan bagi Pak Is. Profesi itu telah menjadi sumber nafkah bagi keluarganya selama puluhan tahun, sedangkan istrinya guru SD swasta yang sudah tidak mengajar lagi.
Dalam sehari, satu pelanggan bisa membutuhkan waktu antara 20 menit hingga satu jam untuk dipangkas rambutnya. Semua tergantung jenis dan kondisi rambut.
Saat pelanggan datang, Pak Is biasanya terlebih dahulu menanyakan model rambut yang diinginkan. Namun, pengalaman panjang membuatnya mampu menyesuaikan potongan rambut dengan bentuk kepala dan wajah pelanggan.
Tiga dekade bertahan tentu bukan perjalanan yang mudah.
Pak Is mengaku memilih tetap membuka usaha pangkas rambut di bawah pohon karena faktor usia dan keterbatasan modal. Di tengah menjamurnya barbershop modern, ia memilih bertahan dengan cara yang sudah dikenalnya sejak lama.
Sebelum pandemi Covid-19, usaha pangkas rambutnya pernah berada pada masa yang cukup ramai.
“Bahkan untuk melayani pelanggan sampai saya sering telat makan dan akhirnya kena asam lambung,” kenangnya.
Kini keadaan telah berubah.
Perlahan jumlah pelanggan berkurang. Banyak pelanggan lama yang kini terlebih dahulu menghubunginya melalui telepon sebelum datang.
Pada hari itu, hingga sore hari, baru dua orang yang datang memangkas rambut.
Meski demikian, tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya.
“Syukuri saja. Berapa pun yang dapat tetap disyukuri,” katanya dengan senyum sederhana.
Tukang pangkas bawah pohon seperti Pak Is kini menjadi pemandangan langka di Kota Medan. Modernisasi telah mengubah wajah kota dan kebiasaan masyarakat. Barbershop dengan ruangan berpendingin udara dan peralatan modern kini lebih mudah ditemukan dibandingkan kursi pangkas sederhana di bawah pohon rindang.
Namun, di sudut Jalan Perintis Kemerdekaan itu, Pak Is masih setia menunggu pelanggan datang. Di bawah naungan pohon yang sama, dengan peralatan sederhana yang sebagian masih bertahan dari masa lalu, ia menjaga tradisi yang perlahan menghilang.
Bagi sebagian orang, tempat itu mungkin hanya usaha pangkas rambut biasa.
Namun bagi Pak Is Tanjung, tempat itu adalah saksi perjalanan hidup, sumber penghidupan keluarga, dan jejak terakhir sebuah tradisi yang pernah menjadi bagian dari wajah Kota Medan. (Monang Sitohang)

