BerandaOpiniUngkapan Batak: Si Bola Timbang, Paninggala Si Bola Tali

Ungkapan Batak: Si Bola Timbang, Paninggala Si Bola Tali

Oleh Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga
Parhatian sibola timbang, parninggala sibola tali” adalah umpama Batak yang padat dengan metafora. Ia tidak tepat dibaca seperti kalimat biasa yang maknanya cukup dicari melalui terjemahan kata demi kata. Sebagai umpama, ungkapan ini bekerja melalui simbol, perbandingan, pengalaman hidup, dan pemadatan nilai.

Parhatian sibola timbang dapat dibaca sebagai gambaran manusia yang memiliki hati untuk menimbang dan ukuran dalam menilai. Timbangan mengandaikan adanya ukuran agar sesuatu tidak berat sebelah. Karena itu, manusia tidak cukup hanya mempunyai perasaan; ia membutuhkan ukuran untuk membedakan apa yang benar, apa yang patut, dan apa yang baik.

Parninggala sibola tali melengkapinya. Parninggala berkaitan dengan bajak atau alat untuk mengolah tanah, sedangkan tali menghadirkan gambaran tentang garis yang menjadi pedoman. Secara filosofis, bagian ini dapat dibaca sebagai gambaran manusia yang bertindak dengan arah, kendali, dan batas, sehingga tindakannya tidak berjalan tanpa tujuan dan tidak keluar dari garis kepatutan.

Dengan demikian, kedua bagian umpama ini membentuk satu kesatuan pemikiran:

Sebelum bertindak, manusia harus mampu menimbang; setelah bertindak, ia harus mampu mengarahkan dan mengendalikan.

Hati memberi pertimbangan. Timbang memberi ukuran. Bajak membutuhkan arah. Tali memberi kendali dan batas.

Prinsip itu kemudian diteruskan melalui ungkapan:
Tu ginjang so ra monggal,
tu toru so ra meleng,
tu lambung so ra teleng.

Di bagian ini, kita perlu berhati-hati agar makna literal tidak langsung disamakan dengan tafsir filosofis.

“So ra monggal” tidak sebaiknya langsung diterjemahkan sebagai “tidak membengkokkan kebenaran”. Makna literalnya lebih dekat kepada keadaan tidak terjungkal atau terguling ketika bergerak ke atas. Dari makna literal tersebut, barulah secara filosofis dapat dikembangkan gagasan bahwa ketika bergerak ke atas atau berhadapan dengan sesuatu yang lebih tinggi, seseorang tidak kehilangan keseimbangan.

BACA JUGA  Mengenal Suatu Sisi Jagat Wartawan

Demikian pula “tu toru so ra meleng” lebih aman dipahami secara literal sebagai keadaan ke bawah tidak oleng atau tidak miring. Secara filosofis, ia dapat dibaca sebagai pesan bahwa ketika seseorang berada dalam posisi yang lebih kuat atau lebih tinggi, ia tidak boleh kehilangan keseimbangan moral dalam memperlakukan yang berada di bawahnya.

Sementara itu, “tu lambung so ra teleng” menghadirkan dimensi lain: relasi dengan yang berada di samping, dengan sesama. Tidak condong karena kedekatan, kepentingan, hubungan pribadi, ataupun keberpihakan.

Dengan pembacaan demikian, ginjang, toru, dan lambung bukan hanya menunjukkan arah ruang. Ketiganya dapat menjadi perangkat untuk membaca ruang relasional manusia.

Ke atas, manusia diuji apakah ia tetap teguh ketika berhadapan dengan otoritas.

Ke bawah, manusia diuji apakah ia tetap adil ketika memiliki kekuatan.

Ke samping, manusia diuji apakah ia mampu memperlakukan sesama tanpa kehilangan keseimbangan.

Maka terbentuk suatu filsafat relasional yang sederhana tetapi dalam:

ke atas tidak kehilangan martabat,
ke bawah tidak menyalahgunakan kekuasaan, ke samping tidak kehilangan keadilan.

Di sinilah relevansi umpama ini bagi kehidupan masa kini. Ia tidak hanya berbicara tentang keseimbangan sebagai suatu keadaan, tetapi tentang keseimbangan sebagai cara hidup.

Manusia membutuhkan hati untuk mempertimbangkan, ukuran untuk menilai, arah untuk bertindak, dan batas untuk mengendalikan diri.

Dalam perspektif Batakologi, pembacaan seperti ini sebaiknya bergerak secara bertahap: bahasa → teks → konteks → konsep → struktur relasi → praktik → kritik → transformasi.

Dengan cara itu, warisan leluhur tidak berhenti pada terjemahan. Ia dipahami berdasarkan bahasa dan konteksnya, kemudian dibaca kembali dalam kehidupan masa kini.

Karena itu, kita tidak perlu memaksakan bahwa setiap istilah lama telah mengandung terminologi filsafat modern. Istilah vertikal, horizontal, dan diagonal, misalnya, adalah perangkat analitis masa kini untuk membantu membaca ruang relasional yang terkandung dalam umpama—bukan klaim bahwa istilah-istilah tersebut merupakan terminologi asli leluhur.

BACA JUGA  Tipatipa, Camilan Tradisional Batak yang Unik

Pada akhirnya, keseluruhan umpama ini dapat dipadatkan ke dalam empat kata:
HATI — UKURAN — ARAH — BATAS.
Hati tanpa ukuran dapat berubah menjadi keberpihakan.
Ukuran tanpa hati dapat berubah menjadi kekakuan.
Tindakan tanpa arah dapat kehilangan tujuan.

Arah tanpa batas dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Karena itu, “Parhatian sibola timbang, parninggala sibola tali” dapat dibaca sebagai ajaran tentang menimbang sebelum bertindak, bertindak dengan arah, menjaga batas, dan tetap seimbang dalam setiap relasi.
Warisan leluhur menjadi hidup bukan ketika hanya dihafalkan, melainkan ketika maknanya dipahami, diuji, dan diwujudkan dalam kehidupan.

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga, Pegiat Lingkungan Basis Budaya — Geopark Kaldera Toba, Dolok Pusuk Buhit. 7 September 2026

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH