Oleh Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang
Saya menyampaikan penghargaan yang tulus kepada rekan-rekan jurnalis di Kota Medan, antara lain Maha Rajagukguk (AuraIndonesia.id), Dofuzogamo Gaho, SH (Deteksi.co), dan khususnya Monang Sitohang (PilarMerdeka.com), yang telah menulis mengenai Lappet Batak di Seng Hap 1881 Kesawan.
Di tengah derasnya arus informasi yang didominasi politik, ekonomi, kriminalitas, dan hiburan, Monang Sitohang memilih mengangkat sepotong pangan tradisional sebagai karya jurnalistik. Pilihan editorial seperti ini bukan sekadar menarik, tetapi mencerminkan kedewasaan intelektual dalam memandang kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan bangsa.
Bagi sebagian orang, lappet mungkin hanya makanan tradisional. Namun bagi seorang jurnalis yang memiliki sensitivitas budaya, lappet adalah pintu masuk untuk membaca sejarah, ekologi, pengetahuan lokal, dan identitas suatu peradaban. Di balik sepotong lappet tersimpan hubungan panjang antara manusia, tanah, air, hutan, pertanian, keluarga, dan Tuhan.
Inilah hakikat jurnalisme kebudayaan. Ia tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang dimakan”, tetapi berusaha menjawab “mengapa makanan itu lahir, bagaimana ia diwariskan, dan nilai apa yang dikandungnya bagi masa depan.”
Tulisan mengenai lappet sesungguhnya mengingatkan kita pada satu kenyataan besar bahwa pembangunan tidak dapat hanya bertumpu pada infrastruktur, investasi, atau pertumbuhan ekonomi. Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa pembangunan yang mengabaikan identitas budaya pada akhirnya melahirkan masyarakat yang kehilangan akar sejarahnya. Bangsa yang kehilangan memori kolektif akan kehilangan arah pembangunan.
Dalam konteks kawasan Kaldera Toba, persoalan ini menjadi semakin penting.
Selama bertahun-tahun pembangunan sering dipahami hanya sebagai pembangunan fisik. Padahal kekayaan terbesar Danau Toba bukanlah semata panorama alamnya, melainkan perpaduan antara warisan geologi, warisan hayati, dan warisan budaya yang terbentuk selama jutaan tahun akibat letusan supervulkan Toba. UNESCO menyebut keterpaduan tersebut sebagai inti konsep Geopark, yaitu pembangunan yang bertumpu pada konservasi, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sayangnya, dimensi budaya sering kali menjadi mata rantai yang paling lemah.
Padahal justru budaya merupakan jembatan yang menghubungkan manusia dengan bentang alamnya. Tanpa budaya, geologi hanya menjadi batu. Tanpa budaya, danau hanya menjadi objek wisata. Tanpa budaya, geopark kehilangan jiwanya.
Lappet merupakan contoh nyata bagaimana warisan vulkanik berubah menjadi warisan budaya.
Tanah vulkanik Kaldera Toba menghasilkan padi, kelapa, dan aren yang menjadi bahan utama lappet. Daun pisang menjadi pembungkus alami yang sepenuhnya dapat terurai kembali ke alam. Teknik memasaknya diwariskan secara turun-temurun tanpa bergantung pada teknologi modern. Seluruh proses tersebut memperlihatkan hubungan harmonis antara manusia dan ekosistem vulkanik yang menopang kehidupannya selama ratusan tahun.
Dengan demikian, lappet bukan hanya produk kuliner, tetapi representasi volcanic cultural heritage, yaitu kebudayaan yang lahir dari proses geologi dan berkembang menjadi sistem pengetahuan masyarakat. Di dalamnya terkandung pengetahuan pertanian, teknologi pangan tradisional, konservasi lingkungan, kesehatan, ekonomi keluarga, hingga nilai spiritual masyarakat Batak.
Inilah yang sering luput dari perhatian.
Selama ini warisan vulkanik lebih banyak dipahami sebagai kawah, batuan, atau bentang alam. Padahal warisan budaya yang tumbuh di atas bentang vulkanik justru merupakan bukti paling nyata bagaimana manusia beradaptasi dengan alamnya. Dalam perspektif geopark modern, kuliner tradisional, rumah adat, tenun, musik, bahasa, ritual, dan sistem pengetahuan lokal memiliki nilai yang sama pentingnya dengan geosite.
Karena itu, tulisan mengenai lappet memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar liputan kuliner.
Ia sedang mendokumentasikan hubungan antara manusia dan lanskap vulkanik Toba.
Ia sedang menyelamatkan pengetahuan lokal.
Ia sedang memperkuat identitas masyarakat.
Ia sedang membangun literasi geopark.
Lebih jauh lagi, tulisan seperti ini memberikan pelajaran penting mengenai arah pembangunan dunia pasca-target Agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDGs/ASDGs). Selama satu dekade terakhir, berbagai negara berupaya mencapai sasaran pembangunan melalui indikator-indikator global. Meskipun memberikan banyak kemajuan, pendekatan tersebut belum sepenuhnya mampu mengatasi ketimpangan, degradasi lingkungan, maupun melemahnya identitas budaya lokal.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak cukup dibangun melalui indikator ekonomi, sosial, dan lingkungan semata. Keberlanjutan juga memerlukan akar budaya yang hidup di tengah masyarakat. Tanpa identitas budaya, pembangunan mudah kehilangan legitimasi sosial dan tidak berkelanjutan.
Di sinilah konsep UNESCO Global Geopark menawarkan paradigma baru. Geopark tidak memisahkan konservasi alam dari kebudayaan masyarakat. Sebaliknya, keduanya dipandang sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan.
Warisan geologi menjadi sumber pembelajaran, budaya menjadi media pewarisan nilai, sedangkan ekonomi lokal memperoleh manfaat melalui geowisata, produk UMKM, kuliner tradisional, kerajinan, dan industri kreatif.
Dengan perspektif tersebut, lappet bukan lagi sekadar makanan tradisional. Ia adalah aset geopark.
Ia menjadi media pendidikan lingkungan.
Ia menjadi produk ekonomi kreatif.
Ia menjadi simbol identitas kawasan.
Ia menjadi narasi yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Keberadaan Lappet Batak di Seng Hap 1881 Kesawan menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat dihadirkan di ruang publik perkotaan tanpa kehilangan makna sejarahnya. Tempat seperti ini dapat berkembang bukan hanya sebagai pusat UMKM, tetapi sebagai ruang interpretasi budaya yang mempertemukan masyarakat lokal, wisatawan, peneliti, dan generasi muda.
Di titik inilah kuliner berubah fungsi. Lapet tidak lagi sekedar makanan, melainkan menjadi media edukasi, diplomasi budaya, sekaligus instrumen pembangunan ekonomi berbasis identitas.
Atas dasar itu, saya memandang bahwa tulisan jurnalis tersebut sesungguhnya telah melampaui fungsi jurnalistik biasa. Mereka bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi ikut membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga warisan budaya yang lahir dari bentang vulkanik Toba. Mereka sedang mendokumentasikan pengetahuan yang selama ini hidup di tengah masyarakat agar tidak hilang ditelan arus modernisasi.
Bangsa Indonesia memerlukan lebih banyak jurnalisme seperti ini. Jurnalisme yang tidak hanya mengejar kecepatan berita, tetapi juga membangun memori kolektif bangsa. Jurnalisme yang mampu melihat bahwa sepotong lappet, sehelai ulos, sebuah rumah adat, atau sebatang pohon aren adalah bagian dari narasi besar peradaban Nusantara.
Jika warisan budaya terus ditulis, dipelajari, dipromosikan, dan diwariskan kepada generasi muda, maka sesungguhnya kita sedang membangun fondasi baru pembangunan Indonesia. Bukan pembangunan yang tercerabut dari akar budayanya, melainkan pembangunan yang bertumpu pada kekuatan geologi, budaya, dan manusia sebagai satu kesatuan.
Di kawasan Kaldera Toba, inilah makna sejati pembangunan berbasis geopark: menjadikan warisan vulkanik sebagai sumber ilmu pengetahuan, identitas budaya, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Sebab pada akhirnya, masa depan tidak hanya dibangun oleh teknologi, tetapi juga oleh kemampuan suatu bangsa merawat ingatan peradabannya.
Penulis adalah Penggiat Lingkungan basis Kebudayaan dan Geopark

