Sahut atas Kerinduan kepada Tao Toba
Oleh Wilmar Eliaser Simandjorang
dari Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-mula
Membaca tulisan Soekirman tentang “Satu Paragraph yang Bikin Gencor, Asal Uli Pangkulingna”, saya seperti mendengar sebuah suara yang datang dari jauh, tetapi terasa dekat. Ia bukan lahir dari tanah Batak, tetapi kerinduannya kepada Tao Toba justru mengajak kita yang lahir dan besar di sekitarnya untuk melihat kembali sesuatu yang terlalu lama kita anggap biasa.
Di situlah saya menangkap isi hatinya.
Ia tidak sekadar berbicara tentang umpasa, paragraf, persepsi, atau simulasi. Di balik semua itu ada satu kerinduan: bagaimana kata-kata tentang Tao Toba dapat membangunkan kesadaran, lalu mendorong orang berbuat sesuatu untuk Toba.
Soekirman mengutip:
“Sibigo ambaroba,
rara huling-hulingna,
nauli do naroa,
molo uli pangkulingna.”
Saya tidak hendak buru-buru menetapkan asal-usul, bentuk baku, ataupun tafsir tunggal ungkapan itu. Justru percakapan kebudayaan menjadi menarik ketika kita mau bertanya kembali dan tidak merasa paling tahu.
Tetapi dari uli pangkulingna itu saya menangkap satu pertanyaan sederhana: apakah yang indah dikatakan juga indah dilakukan?
Di sinilah saya ingin menyahut.
Uli pangkulingna harus diuji oleh uli pambahenanna.
Ini bukan hendak mengubah umpasa yang disampaikan Soekirman. Ini adalah refleksi saya atas kerinduannya. Sebab kata-kata yang indah tentang Tao Toba akan menjadi lebih bermakna apabila melahirkan perbuatan yang baik bagi Tao Toba.
Soekirman mengajak kita melihat hubungan antara umpasa, paragraf, persepsi, simulasi, dan aksi. Saya melihatnya sebagai sebuah perjalanan: kata melahirkan pikiran; pikiran membentuk persepsi; persepsi menumbuhkan kesadaran; kesadaran seharusnya berujung pada tindakan.
Kalau berhenti pada kata, kita baru sampai pada keindahan bahasa.
Kalau sampai pada tindakan, barulah kata menemukan pertanggungjawabannya.
Karena itu, menulis Tao Toba tidak cukup hanya dengan menggambarkan keindahan danaunya, gunungnya, budayanya, atau kisah-kisah yang hidup di dalamnya. Kita juga perlu berani menulis tentang luka-lukanya: hutan yang berkurang, air yang tercemar, ruang hidup yang tertekan, budaya yang kehilangan makna, serta pembangunan yang kadang lebih cepat daripada kemampuan alam untuk memulihkan diri.
Di sini saya kembali bercermin pada kehidupan Batak.
Manat mardongan tubu, elek marboru, somba marhula-hula bukanlah teori lingkungan. Ia adalah tatanan hubungan dalam kehidupan Batak. Tetapi nilai yang dikandungnya mengajak kita bertanya: bagaimana manusia memperlakukan sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupannya?
Bukankah Tao Toba juga ruang kehidupan?
Maka kita tidak cukup bertanya: berapa banyak yang dapat kita ambil dari Toba?
Kita juga harus bertanya:
berapa banyak yang mampu kita pulihkan?
Ada ungkapan yang dikenal dalam tradisi Batak: “Adat do ugari, sinihathon ni Mulajadi, siradotan manipat ari, siulaon di siulubalang ari.” Redaksi ungkapan ini ditemukan dalam beberapa variasi. Namun pesannya mengingatkan bahwa adat bukan hanya untuk diucapkan, melainkan untuk dijalankan dalam kehidupan.
Begitu pula tulisan.
Tulisan bukan sekadar suara yang indah. Ia adalah tanggung jawab.
Karena itu saya merasa tulisan Soekirman tidak perlu dijawab dengan bantahan. Ia perlu disambut dan dilanjutkan.
Tulislah Tao Toba.
Bunyikanlah Tao Toba.
Nyanyikanlah Tao Toba.
Bacakanlah Tao Toba.
Tetapi setelah itu, lakukanlah sesuatu untuk Tao Toba.
Sebab uli pangkulingna akan memperoleh maknanya ketika menjadi uli pambahenanna.
Indah kata-katanya, indah pula perbuatannya.
Dan akhirnya, mungkin inilah yang mempertemukan kerinduan Soekirman dengan perenungan saya: Tao Toba tidak hanya membutuhkan orang yang pandai menceritakannya. Tao Toba membutuhkan manusia yang bersedia merawatnya.
Dari kata menuju kesadaran.
Dari kesadaran menuju tindakan.
Dari tindakan menuju pemulihan.
Paulihon Tao.
Memulihkan Tao Toba bukan hanya pekerjaan pemerintah, akademisi, penulis, seniman, atau masyarakat tertentu. Ia adalah tanggung jawab bersama—karena sebelum menjadi destinasi, Tao Toba adalah ruang kehidupan.
Dan ruang kehidupan itu adalah amanah.
Horas.

