BerandaOpiniPilar Pemberdayaan di Toba Caldera Masih Sebatas Narasi

Pilar Pemberdayaan di Toba Caldera Masih Sebatas Narasi

Oleh Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec.,M.Si
Ketika Toba Caldera ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp), harapan besar pun tumbuh. Dunia memandangnya sebagai kawasan berkelas internasional yang bukan hanya menyimpan warisan geologi, tetapi juga budaya dan kearifan lokal yang hidup di sekitar Danau Toba. Namun, setelah beberapa tahun berjalan, pertanyaan penting muncul: di mana posisi masyarakat lokal dalam seluruh narasi besar ini?

Pilar “pemberdayaan masyarakat lokal” yang semestinya menjadi ruh utama geopark tampak belum menjejak kuat — baik dalam perencanaan maupun aksi nyata di 16 geosite yang tersebar di tujuh kabupaten. Alih-alih menjadi penggerak utama, masyarakat kerap hanya tampil sebagai latar dalam festival, pengisi acara seremonial, atau penerima manfaat sesaat dari proyek-proyek yang datang dan pergi.

Padahal, dalam konsep geopark UNESCO sendiri, empowerment bukanlah kegiatan tambahan — ia adalah fondasi. Tanpa masyarakat yang terlibat dan merasa memiliki, geopark hanyalah label kosong di peta dunia.

Kearifan Lokal yang Tak Tersentuh

Di sepanjang tepian Danau Toba, hidup sistem nilai yang sangat kaya: gotong royong, pengelolaan alam berbasis adat, dan filosofi keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Namun sayangnya, kearifan lokal itu jarang diterjemahkan menjadi pijakan utama dalam perencanaan geopark.

Sebagian besar intervensi masih bersifat top-down — dirancang oleh konsultan dan birokrasi, lalu disosialisasikan kepada masyarakat. Hasilnya dapat ditebak: partisipasi semu, bukan kolaborasi sejati.

Padahal, masyarakatlah yang paling memahami lanskap ekologis dan sosialnya. Mereka tahu bagaimana tanah di lereng Pusuk Buhit dikelola agar tak longsor, bagaimana mata air di Harian Boho dan Sianjur Mula mula dijaga dengan ritual adat, atau bagaimana nilai “marsiadapari” menumbuhkan solidaritas.

BACA JUGA  Lingkungan Asri, Lestari Alamku

Ketika kearifan ini diabaikan, geopark kehilangan jiwanya. Ia menjadi proyek infrastruktur pariwisata, bukan sistem hidup yang berakar pada pengetahuan lokal.

Belajar dari Pendekatan Inklusif: Mendengarkan Sebelum Bertindak
Toba
Komunitas Masyarakat Bukit Holbung Sihotang. (Dok. Pribadi)

Apa yang terjadi di Samosir dan Labuan Bajo, melalui pendekatan GoTo Impact Foundation (GIF), bisa menjadi cermin bagi pengelola geopark. GIF tidak datang membawa proyek siap pakai, melainkan hadir untuk mendengarkan. Mereka mengembangkan pendekatan Filantropi 3.0 — di mana inovasi tumbuh dari bawah, melalui proses kreasi bersama masyarakat.

Seperti disampaikan Varyan Griyandi, Head of Connection & Growth GIF:

“Kami merencanakan setiap proyek dengan seksama. Tapi kenyataannya, kami bekerja dengan manusia, untuk manusia. Di situlah keindahan dan kesulitannya. Kegagalan bukan akhir, tapi peluang untuk belajar.”

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan bukan tentang mengajar, tetapi memfasilitasi. Bukan tentang memberi bantuan, tetapi menumbuhkan keberanian dan kapasitas untuk menciptakan solusi sendiri.

Di Samosir, masyarakat membangun sistem pengelolaan sampah dan pangan komunitas yang mandiri. Mereka bukan penerima program, melainkan perancang masa depan mereka sendiri. Itulah esensi inovasi sosial — sesuatu yang justru belum terlihat kuat di kawasan Toba Caldera.

Dari Branding ke Esensi: Membangun Geopark yang Hidup

Jika kita menelusuri dokumen dan laporan geopark, istilah seperti “pemberdayaan”, “kearifan lokal”, dan “inovasi komunitas” sering muncul. Namun, di lapangan, pilar itu tampak seperti ornamen konseptual, bukan kerangka operasional. Hingga kini, belum terlihat sistem pembelajaran komunitas yang terstruktur di 16 geosite — tidak ada mekanisme yang memastikan masyarakat bisa berinovasi secara berkelanjutan setelah proyek selesai.

Geopark seharusnya tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur wisata, tetapi harus menciptakan ekosistem sosial: tempat di mana warga lokal menjadi peneliti, pengrajin, pemandu geowisata, sekaligus penjaga warisan alam.

BACA JUGA  Dinamika 22 Tahun Samosir, Sudah Berjalan, Belum Melompat
Mendorong Reorientasi: Geopark sebagai
Ruang Belajar, Bukan Sekadar Destinasi

Toba Caldera butuh reorientasi mendasar: dari branding menuju bermakna. Belajar dari pendekatan GIF, pengelola geopark harus berani melepaskan ego proyek dan membuka ruang untuk bereksperimen bersama masyarakat. Pemberdayaan tidak lahir dari workshop dan spanduk, tetapi dari proses mendengarkan, refleksi, dan keberanian untuk gagal bersama.

UNESCO memberi mandat agar setiap geopark menjadi laboratorium hidup bagi keberlanjutan. Maka, langkah pertama adalah menjadikan masyarakat bukan sekadar “mitra kegiatan”, melainkan pemilik perubahan. Karena tanpa mereka, Toba Caldera hanya akan menjadi geopark di atas kertas — megah dalam narasi, rapuh dalam kenyataan.

Penulis adalah Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI)/Penggiat Lingkungan

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH