MEDAN, PILAR MERDEKA – Mangga Toba menjadi salah satu buah khas Indonesia yang memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Sumatera Utara. Buah yang juga dikenal sebagai mangga Parapat atau mangga udang ini telah lama menjadi primadona karena cita rasanya yang khas.
Mangga Toba tumbuh subur di kawasan sekitar Danau Toba. Ukurannya memang lebih kecil dibandingkan mangga apel, harum manis, maupun jenis mangga populer lainnya. Namun, justru dari bentuk mungil itulah tersimpan rasa yang membuat banyak orang selalu merindukannya.
Mangga ini memiliki bentuk yang unik. Sekilas buah ini tampak sedikit membungkuk dan melengkung menyerupai udang. Saat matang, kulitnya berwarna kuning cerah, meski ada sebagian buah memiliki bintik-bintik hitam saat matang di permukaannya. Di balik kulit tipis tersebut terdapat daging buah berwarna kuning terang dan berserat.
Mangga Toba dikenal memiliki perpaduan rasa manis dan sedikit sentuhan asam yang menyegarkan. Aroma harumnya langsung tercium bahkan sebelum buah itu disantap. Keunikan lainnya, kulit buah yang sangat tipis membuatnya dapat dimakan langsung tanpa perlu dikupas terlebih dahulu.
Keharuman itu pula yang langsung dirasakan Adawiyah ketika membuka kardus berisi kiriman mangga Toba dari Desa Janji Martahan, Kecamatan Harian Boho, Kabupaten Samosir, Kamis (18/6).
“Mangga nya harum juga,” ujar Adawiyah saat membuka kiriman buah tersebut.
Ketika mulai mencicipinya, Adawiyah merasakan perpaduan rasa yang selama ini menjadi ciri khas mangga Toba. Menurutnya, buah itu manis dengan sedikit rasa asam dan memiliki tekstur berserat yang khas.
Tanpa disadari, empat buah mangga habis disantapnya dalam waktu singkat. Kesegaran dan kelezatan buah tersebut seolah menjadi alasan mengapa mangga Toba tetap dicari dari generasi ke generasi.
Mangga Toba juga menyimpan kenangan masa kecil bagi banyak warga yang tumbuh di kawasan Danau Toba. Suami Adawiyah mengenang masa liburan saat masih anak-anak pada era 1980-an hingga 1990-an.
Saat itu, setiap kali pulang kampung ke Desa Janji Martahan bersama orang tuanya, musim mangga menjadi momen yang paling ditunggu.
Menurutnya, ketika bangun tidur, mangga sudah menjadi santapan pertama. Buah itu tidak perlu dikupas karena kulitnya sangat tipis dan bisa langsung dimakan bersama daging buahnya dan uniknya tidak buat sakit perut.
Kenangan paling membahagiakan adalah saat memanjat pohon mangga yang sedang berbuah lebat. Dari atas pohon, buah yang baru dipetik langsung disantap. Kesederhanaan itu justru menghadirkan kepuasan yang sulit dilupakan hingga sekarang.
“Jadi waktu itu sekitar tahun 80-90an, kalau pulang kampung diajak orang tua saat liburan ke Janji Martahan itu paling senang kalau musim mangga, biasanya musim sekitar di bulan Juni. Bakal puas lah makan mangga, dipanjat lalu di atas langsung dimakan,” kenangnya.
Mangga Toba tahun 2026 membawa kabar menggembirakan bagi warga Desa Janji Martahan. Salah seorang warga menyebutkan bahwa hasil panen tahun ini jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, buah yang dihasilkan pada musim 2026 tampak bagus dan melimpah. Kondisi tersebut berbeda dengan tahun lalu ketika pohon mangga hampir tidak menghasilkan buah.
Warga menjelaskan bahwa faktor hama dan cuaca menjadi penyebab utama menurunnya produksi pada musim sebelumnya. Saat pohon mulai berbunga, angin kencang datang sehingga banyak bunga gagal berkembang menjadi buah.
“Alhamdulillah buah mangga tahun ini bagus-bagus, tapi kalau tahun lalu hampir tidak ada,” ujarnya.
Di tingkat pengecer kampung, mangga Toba biasanya dijual dengan harga sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.
Mangga Toba bukan sekadar buah musiman. Bagi masyarakat sekitar Danau Toba, buah ini menyimpan rasa, aroma, dan kenangan yang melekat kuat sejak puluhan tahun lalu.
Dari pohon-pohon yang tumbuh di Desa Janji Martahan dan sekitarnya hingga meja makan para penikmatnya, mangga mungil ini terus menghadirkan cerita tentang kampung halaman, musim panen, dan kebahagiaan sederhana yang tetap hidup hingga hari ini. (Monang Sitohang)

