BerandaBudayaWilmar Simanjorang: Rumah Batak Manifestasi Etika Kristen dan Penatalayanan Ciptaan Tuhan

Wilmar Simanjorang: Rumah Batak Manifestasi Etika Kristen dan Penatalayanan Ciptaan Tuhan

SAMOSIR, PILAR MERDEKA – Sumatera Utara, awal Agustus 2026 — Pegiat lingkungan Danau Toba berbasis Geopark sekaligus akademisi, Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, menyatakan bahwa Rumah Batak bukan sekadar warisan budaya atau mahakarya arsitektur tradisional, melainkan manifestasi Etika Kristen yang mencerminkan hikmat Allah, tanggung jawab manusia sebagai penatalayan ciptaan, dan kehidupan yang diarahkan bagi kemuliaan Tuhan.

Menurut Wilmar, pemaknaan tersebut melengkapi perspektif batakologi yang selama ini lebih banyak menempatkan Rumah Batak sebagai simbol kosmologi, struktur sosial, sistem Dalihan Na Tolu, dan identitas masyarakat Batak.

“Rumah Batak adalah karya berpikir manusia yang diberkati Tuhan. Kemampuan leluhur Batak merancang bangunan yang kokoh, harmonis dengan alam, dan bertahan lintas generasi menunjukkan bahwa hikmat Allah bekerja melalui akal budi manusia sebagai gambar dan rupa-Nya,” ujar Wilmar di Samosir, awal Agustus 2026.

Ia menjelaskan bahwa dalam satu kompleks perkampungan tradisional Batak, setiap bangunan memiliki fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi sebagai sistem kehidupan yang utuh.

Batak
Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang saat meneliti ke Perkampungan Hariarapohan Sihotang 2024, Kecamatan Harian Bojonegoro, Kabupaten Samosir. (Foto. Istimewa)

Ruma Bolon merupakan rumah utama tempat keluarga bernaung, membangun kehidupan, mendidik generasi, serta menanamkan nilai kasih, tanggung jawab, kejujuran, dan penghormatan kepada sesama. Rumah ini menjadi pusat kehidupan keluarga yang mencerminkan panggilan manusia untuk hidup sesuai kehendak Tuhan.

Ruma Parsattian berfungsi sebagai tempat perenungan, pembentukan hikmat, dan pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan keluarga maupun masyarakat. Menurut Wilmar, fungsi tersebut menunjukkan bahwa setiap keputusan penting harus dilandasi kebijaksanaan, keadilan, dan rasa takut akan Tuhan.

Sementara itu, Sopo Godang merupakan ruang musyawarah adat, tempat para pemimpin dan masyarakat berkumpul untuk menyelesaikan persoalan bersama, menegakkan keadilan, serta memelihara persaudaraan. Nilai musyawarah tersebut, menurut Wilmar, sejalan dengan ajaran Kristen tentang kasih, perdamaian, dan tanggung jawab sosial.

BACA JUGA  Hariara Guest House Bak Istana di Tepi Danau Toba

Adapun Sopo Bolon berfungsi sebagai lumbung penyimpanan hasil panen dan cadangan pangan masyarakat. Bangunan ini mencerminkan etos kerja, sikap mengelola berkat Tuhan dengan bijaksana, serta tanggung jawab mempersiapkan kebutuhan generasi yang akan datang.

“Keempat bangunan itu membentuk satu kesatuan yang utuh. Ruma Bolon menjaga kehidupan keluarga, Ruma Parsattian membentuk hikmat, Sopo Godang membangun keadilan dan kebersamaan, sedangkan Sopo Bolon mengajarkan pengelolaan berkat Tuhan secara bertanggung jawab. Seluruhnya merupakan tempat manusia bernaung, bertumbuh, bekerja, bermusyawarah, dan mengucap syukur kepada Tuhan,” katanya.

Wilmar menilai, keagungan Rumah Batak tidak hanya terletak pada bentuk arsitekturnya yang megah atau simbol-simbol budaya yang melekat di dalamnya, tetapi juga pada nilai-nilai moral yang melandasi proses pembangunannya. Leluhur Batak memanfaatkan kayu, bambu, ijuk, batu, dan berbagai material alam secara bijaksana tanpa merusak keseimbangan lingkungan.

Menurutnya, cara tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan Batak sejak awal dibangun di atas kesadaran bahwa manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan penatalayan ciptaan Allah.

Ia menggunakan analogi Rumah Batak untuk menjelaskan kondisi ekologis Danau Toba saat ini. Sebagaimana atap rumah melindungi seluruh penghuni dari panas dan hujan, demikian pula hutan, tanah, dan sumber air menjadi penyangga kehidupan masyarakat Batak.

“Apabila atap rumah rusak, seluruh penghuni akan menderita. Demikian pula apabila hutan rusak, mata air mengering, dan Danau Toba tercemar, seluruh kehidupan masyarakat akan ikut terdampak. Karena itu, menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab iman kepada Tuhan,” ujarnya.

Wilmar menegaskan bahwa Rumah Batak harus dipahami sebagai manifestasi Etika Kristen yang mengintegrasikan hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam ciptaan. Seluruh karya berpikir, membangun rumah, bermusyawarah, bekerja, mengelola hasil bumi, serta memelihara lingkungan merupakan wujud syukur atas anugerah Tuhan.
“Rumah Batak bukan hanya rumah adat. Ia adalah rumah peradaban, rumah ekologi, dan rumah iman.

BACA JUGA  Desa Tuktuk Siadong "Rumah" Bagi Wisman

Melalui Ruma Bolon, Ruma Parsattian, Sopo Godang, dan Sopo Bolon, leluhur Batak mewariskan nilai bahwa seluruh aktivitas manusia harus dilaksanakan dengan hikmat, tanggung jawab, dan kasih kepada sesama, sehingga pada akhirnya semuanya bermuara pada satu tujuan, yaitu memuliakan Tuhan Sang Pencipta (Soli Deo Gloria),” kata Wilmar. (*)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH