BerandaOpiniTumbler dan Iman Tak Bijak Sekedar Dirayakan

Tumbler dan Iman Tak Bijak Sekedar Dirayakan

Oleh Hery Buha Manalu
Meskipun tersirat, ada ironi sering luput dibaca dalam perayaan keagamaan,”langit dipenuhi do’a” tetapi bumi terbiarkan menanggung kebiasaan buruk manusia.

Di ruang ibadah orang berbicara tentang kasih, pengorbanan dan hidup baru. Namun, sesaat usai acara, botol plastik, gelas sekali pakai serta jejak konsumsi yang serba instan kerap dianggap remeh dan menjadi pemandangan biasa. Iman dirayakan, tetapi jarang sungguh-sungguh dihidupi.

Karena itu, Perayaan Paskah Majelis Pendidikan Kristen Wilayah Sumatera Utara-Aceh Tahun 2026 layak diperhatikan bukan hanya karena kemeriahannya, melainkan karena keberaniannya menyisipkan pesan yang membumi: satu tumbler untuk satu siswa. Sekilas, ini hanya soal wadah minum.

Terlalu kecil untuk dibicarakan dalam peristiwa keagamaan yang besar. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Kebiasaan yang merusak bumi juga lahir dari hal-hal kecil yang terus diulang tanpa pikir panjang. Maka, perubahan pun harus berani masuk dari celah yang sama: tindakan sederhana, dekat, dan bisa dibiasakan.

Di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumatera Utara, Medan, Sabtu, (11/4/2026), sekitar 1.200 peserta hadir dalam perayaan bertema “Kristus Bangkit, Generasi Muda Bersinar” berdasarkan Efesus 5:14. Dari jumlah itu, 800 merupakan siswa dan 100 guru.

Selebihnya tokoh Kristen, unsur sinode, tokoh masyarakat, dan undangan. Subtema yang diangkat pun jelas: menjadi generasi muda yang hidup dalam kebenaran untuk menjadi terang bagi dunia.

Masalahnya, kalimat semacam itu sering terlalu cepat selesai sebagai slogan. “Hidup dalam kebenaran” enak didengar. “Menjadi terang bagi dunia” terdengar mulia. Tetapi bagaimana wujudnya dalam kehidupan sehari-hari? Apakah terang itu hanya berhenti di mimbar, atau benar-benar turun ke ruang kelas, tas sekolah, halaman, dan cara hidup?

BACA JUGA  Isra Mikraj: Momentum Religius yang Menginspirasi Kekuatan Iman dan Kesabaran

Jawaban atas pertanyaan itu tampaknya ingin diberikan melalui tumbler. Kepada media, Inge Halim dari MPK Pusat menegaskan bahwa gerakan ini ditujukan agar siswa dan pelajar Kristen di Sumatera Utara dan Aceh hidup sehat, mengurangi sampah plastik, serta membangun kesadaran lingkungan.

Secara terpisah, RE Nainggolan dan Ketua Panitia Dr. Adolfina Elisabeth Koamesakh juga menjelaskan bahwa satu tumbler untuk satu siswa bukan sekadar bingkisan, melainkan pesan pembiasaan.

Di titik ini, tumbler tidak lagi netral. Ia menjadi simbol pendidikan moral. Anak yang membawa tumbler belajar menyiapkan diri. Anak yang memakainya berulang-ulang belajar disiplin.

Anak yang tidak lagi bergantung pada botol atau gelas plastik sekali pakai belajar bahwa hidupnya punya konsekuensi terhadap lingkungan. Sebuah benda kecil berubah menjadi alat didik yang efektif karena ia menyentuh kebiasaan, bukan sekadar kesadaran.

Inilah yang kerap hilang dari banyak pendidikan karakter. Kita terlalu sibuk mengajarkan nilai sebagai konsep, tetapi gagal menanamkannya sebagai ritme hidup. Kita pandai membuat slogan tentang kepemimpinan, tanggung jawab, dan kepedulian, tetapi sering lupa bahwa watak dibentuk oleh pengulangan.

Karakter bukan pertama-tama lahir dari pidato yang baik. Karakter lahir dari hal-hal kecil yang dikerjakan terus-menerus sampai menjadi kebiasaan.

Dalam konteks itu, gerakan satu tumbler untuk satu siswa patut dibaca lebih jauh dari sekadar kampanye kebersihan sekolah. Ia mengandung dimensi teologis sekaligus ekologis.

Secara teologis, Paskah adalah berita tentang hidup baru. Kebangkitan Kristus bukan dekorasi liturgi, melainkan panggilan untuk meninggalkan pola hidup lama dan masuk ke tata hidup yang diperbarui. Secara ekologis, hidup baru itu semestinya tampak dalam cara manusia memperlakukan ciptaan, lebih hemat, lebih sadar, dan tidak rakus dalam mengonsumsi apa yang akhirnya berubah menjadi sampah.

BACA JUGA  "Itak Gurgur," Simbol Roti Hidup Merekatkan Spiritualitas Tradisi Masyarakat Batak di Tahun Baru

Khotbah Bambang Yonan dari GBI Rumah Persembahan Medan memberi dasar rohani bagi hal itu. Ia berbicara tentang pengampunan, rasa syukur, dan penghargaan atas karya Tuhan Yesus di kayu salib. Tetapi rasa syukur yang otentik tidak berhenti di bibir.

Ia menuntut pertobatan dalam tindakan. Dan pertobatan, dalam dunia yang dibanjiri budaya instan seperti sekarang, harus pula berarti keberanian mengubah kebiasaan sehari-hari yang merusak.

Karena itu, tumbler dalam perayaan ini dapat dibaca sebagai simbol pertobatan sosial. Dari budaya sekali pakai menuju budaya pakai ulang. Dari hidup praktis yang menghasilkan sampah menuju hidup sadar yang menghormati ruang bersama.

Dari iman yang dikhotbahkan menuju iman yang dipraktikkan. Perubahan seperti ini memang tidak spektakuler. Ia tidak viral. Ia tidak memproduksi sensasi. Tetapi justru karena sifatnya yang sunyi dan konsisten, ia punya peluang lebih besar untuk bertahan.

Tentu, tidak perlu naif. Satu tumbler tidak akan menyelesaikan krisis plastik. Ia juga tidak otomatis membentuk karakter generasi muda dalam semalam. Namun masalah besar selalu menuntut pintu masuk yang konkret. Dan tumbler adalah pintu masuk yang cerdas, sederhana, dekat, mudah dipahami, dan langsung menyentuh gaya hidup.

Akhirnya, perayaan Paskah yang baik bukanlah perayaan yang paling meriah, melainkan yang paling berhasil membawa iman keluar dari gedung acara dan masuk ke kebiasaan hidup. Jika generasi muda sungguh hendak diajar menjadi terang bagi dunia, mereka tidak cukup hanya diberi tema besar. Mereka perlu diberi disiplin kecil yang bisa dijalani setiap hari.

Dari sana, satu hal menjadi jelas, kadang-kadang kebangkitan tidak pertama-tama tampak dalam kata-kata besar, melainkan dalam keputusan sederhana untuk hidup lebih bertanggung jawab. Dan bisa jadi, terang itu mulai menyala justru dari sebuah tumbler yang dibawa seorang siswa ke sekolah.

BACA JUGA  Makna Filosofi "Mata Guru Roha Sisean" dalam Konteks Pendidikan 
Penulis adalah Dosen Pasca Sarjana STT Paulus Medan, Pemerhati Lingkungan dan Budaya

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH