BerandaFeatureDesa Bawomataluo Diusulkan Bagian Situs Warisan Dunia

Desa Bawomataluo Diusulkan Bagian Situs Warisan Dunia

MEDAN, PILAR MERDEKA – Viral, menjadi sorotan berbagai pihak, Desa Bawomataluo, desa adat di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara diusulkan agar tercatat di UNESCO menjadi salah satu Situs Warisan Dunia. Pondasi usulan, Desa Bawomataluo memiliki budaya original turun-temurun, mengakar dan terjaga hingga kini, serta memiliki sejarah panjang yang tak lapuk digilas waktu.

Bawomataluo bukan sekadar desa biasa. Menurut jesta.kemenpar.go.id yang disadur media Pilar Merdeka.Com, Selasa (7/4/2026), Desa yang berarti “Bukit Matahari” ini berdiri megah di ketinggian 324 meter di atas permukaan laut. Dari atas bukit, deretan rumah adat tradisional khas Nias Selatan tampak rapi dan kokoh, seolah membawa pengunjung kembali ke masa lalu.

Bawomataluo memiliki 137 rumah adat Omo Hada yang masih utuh. Di tengahnya berdiri Omo Sebua, rumah adat besar yang dahulu menjadi tempat tinggal raja. Bangunan ini telah berusia lebih dari 200 tahun dan menjadi simbol kejayaan masa lampau yang tetap hidup hingga kini.

Keunikan desa ini tidak berhenti pada arsitektur. Omo Hada Nifolasara, salah satu rumah adat terbesar, dibangun tanpa menggunakan paku. Teknik konstruksi tradisional ini menjadi bukti kecerdasan leluhur Nias dalam menciptakan bangunan yang kuat dan tahan lama.

Di sepanjang desa, batu-batu megalitik tersusun rapi dan masih berdiri kokoh. Tangga batu menyambut setiap langkah pengunjung yang masuk. Kuburan bangsawan dan panjuran bersejarah tetap terjaga, menghadirkan suasana sakral yang menyentuh hati.

Tradisi Bawomataluo juga menjadi daya tarik yang tak tergantikan. Lompat batu atau Fahombo masih dilakukan hingga kini. Tradisi ini bukan sekadar atraksi, tetapi simbol kedewasaan dan keberanian masyarakat Nias.

Selain itu, berbagai kesenian tradisional masih hidup di tengah masyarakat. Musik batu (Feta batu), Ndruri Dana dari bambu, tari perang Maluaya, hingga Hoho sebagai tradisi lisan terus dilestarikan. Ada pula ritual arak-arakan seperti Famadaya Hasi dan Famadaya Harimao yang sarat makna spiritual.

BACA JUGA  Heritage C. Willem Menautkan Menteri Mukhtarudin dan Sejarah Kopasgat di Pangkalan Bun

Desa ini sebenarnya sudah masuk dalam daftar sementara UNESCO sejak tahun 2009. Kini, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kembali mendorong agar Bawomataluo mendapatkan pengakuan dunia.

Menurut Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Sumut, Yuda Pratiwi Setiawan saat konferensi pers di Lobby Dekranasda Kantor Gubernur Sumut, Rabu (1/4/2026), menjelaskan bahwa proses pengusulan sedang berjalan. Sosialisasi telah dilakukan di Nias dan akan dilanjutkan dengan penyusunan dokumen penting atau dossier.

Tahapan berikutnya adalah Preliminary Assessment, yaitu syarat utama sebelum pengajuan resmi ke UNESCO. Proses ini menjadi langkah krusial untuk memastikan Bawomataluo memenuhi standar sebagai warisan dunia.

Yuda menegaskan, nilai budaya Bawomataluo sangat tinggi. Kondisi geografis, kehidupan masyarakat, hingga keaslian tradisi menjadi kekuatan utama desa ini.

Ia juga menyoroti tradisi lompat batu yang masih asli dan menjadi daya tarik wisatawan. Tradisi ini telah lama menjadi ikon Sumatera Utara di mata dunia.

Upaya pelestarian tidak hanya berhenti di Bawomataluo. Pada tahun 2025, lima objek di Sumatera Utara telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional, yaitu Candi Bahal I, II, dan III, Masjid Azizi di Langkat, serta Istana Maimun di Medan.

Pada tahun 2026, tujuh objek lain juga diusulkan naik status menjadi cagar budaya nasional. Objek tersebut meliputi Candi Tandihat 1, 2, dan 3, empat sumur minyak di Langkat, Makam Papan Tinggi di Barus, serta Situs Hilimase di Nias Selatan.

Data menunjukkan, saat ini terdapat 894 cagar budaya di tingkat kabupaten/kota dan 46 cagar budaya tingkat provinsi di Sumatera Utara.

Pemerintah menegaskan bahwa pelestarian budaya membutuhkan kerja sama semua pihak. Biaya perlindungan yang besar tidak dapat ditanggung sendiri, sehingga kolaborasi antara pemerintah daerah, provinsi, dan pusat menjadi kunci utama.

BACA JUGA  Kebun Teh Sidamanik, Pesona Alam yang Menyegarkan Jiwa

Bawomataluo kini menunggu pengakuan dunia. Di balik batu-batu tua dan rumah adat yang kokoh, tersimpan cerita panjang tentang identitas, keberanian, dan warisan leluhur yang tak ternilai. (Mons) 

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH