BerandaFeatureTerima Kasih, Ucap Penumpang Kepada Sopir Bus Listrik

Terima Kasih, Ucap Penumpang Kepada Sopir Bus Listrik

MEDAN, PILAR MERDEKA – Terima kasih. Dua kata sederhana ini terdengar berulang setiap kali pintu bus listrik terbuka di Kota Medan. Bukan sekadar formalitas, ucapan itu menjadi warna tersendiri dalam perjalanan para penumpang—hangat, tulus, dan penuh makna.

Terima kasih menjadi kebiasaan. Di dalam bus listrik Medan, hampir setiap penumpang yang turun menyempatkan diri mengucapkannya kepada sopir. Pemandangan ini bukan dibuat-buat, melainkan lahir dari rasa nyaman dan apresiasi yang nyata.

Alia, mahasiswi Universitas Sumatera Utara (USU), merasakan sendiri pengalaman itu. Ia rutin menggunakan bus listrik untuk berangkat kuliah. Baginya, ucapan terima kasih adalah bentuk syukur sederhana.

“Terima kasih itu ungkapan tulus karena sudah diantar sampai tujuan. Walaupun sopir digaji, tetap layak kita hargai,” ujarnya saat berada di dalam bus jurusan Tuntungan (K2) menuju kampus USU, Rabu (6/5).

Terima kasih
Para penumpang di Bus Listrik Medan turun selalu mengucapkan kata terima kasih. (Foto. Pilar Merdeka)

Perjalanan yang nyaman membuat hati hangat. Alia berangkat dari Halte Belawan, lalu transit di Halte Lapangan Merdeka tanpa biaya tambahan. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan ke kampus dengan jurusan JCity (K2) atau Tuntungan (K4).

Ia mengaku nyaman selama perjalanan. Udara sejuk dari AC, suasana tenang, hingga fasilitas charger ponsel membuat perjalanan terasa menyenangkan. Namun, ia berharap waktu tunggu dari Belawan bisa lebih cepat karena terkadang cukup lama akibat kondisi lalu lintas.

“Kalau berangkat siang seperti saya, kadang harus menunggu lebih lama,” katanya sambil tersenyum.

Tarif terjangkau jadi daya tarik. Untuk pelajar, tarif hanya Rp3.000, sedangkan umum Rp5.000. Pengurusan kartu dapat juga dilakukan di Halte Lapangan Merdeka dengan membawa KTP dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM).

Terima kasih juga datang dari penumpang lain. Seorang penumpang mengungkapkan bahwa kenyamanan bus listrik membuatnya selalu mengucapkan terima kasih saat turun. Baginya, perjalanan yang adem dan harga yang terjangkau adalah kombinasi sempurna.

BACA JUGA  Transformasi Transportasi Umum demi Kemandirian Energi Indonesia
Terima kasih
Para penumpang bus listrik Medan yang transit di Halte Lapangan Merdeka. (Foto. Pilar Merdeka)

Hal serupa disampaikan mahasiswi Politeknik Medan (Polmed) yang tinggal di Belawan. Ia biasa naik trip pertama Jam 05.30 WIB untuk berangkat kuliah.

“Saya bayar pelajar cuma Rp3.000. Sangat membantu. Dari Belawan transit di Lapangan Merdeka, lalu lanjut ke tujuan JCity atau Tuntungan,” ujarnya.

Sebagai mahasiswa, ia merasa kehadiran bus listrik sangat memudahkan mobilitas sehari-hari. Kenyamanan di dalam bus menjadi alasan utama ia memilih moda transportasi ini.

Rasa hormat yang tumbuh alami. Iwan, penumpang lainnya, juga tidak pernah lupa juga mengucapkan terima kasih kepada sopir.

“Nyaman, adem, sopirnya ramah. Jadi wajar kita bilang terima kasih. Apalagi kalau transit di Lapangan Merdeka tidak perlu bayar lagi. Dan jangan lupa kalau hendak menggunakan jasa bus listrik periksa saldo e-money anda,” katanya.

Fenomena kecil yang bermakna besar. Dari pantauan Pilar Merdeka. Com di lapangan, hampir semua penumpang melakukan hal yang sama—mengucapkan terima kasih saat turun. Sebuah kebiasaan sederhana yang mencerminkan budaya saling menghargai.

Transportasi modern yang manusiawi. Bus listrik Medan sendiri merupakan layanan transportasi umum ramah lingkungan dengan 60 armada yang beroperasi. Fasilitasnya lengkap, mulai dari AC, charger, hingga CCTV untuk keamanan.

Rute yang tersedia meliputi:
K1: Terminal Amplas – Terminal Pinang Baris
K2: J City – Plaza Medan Fair
K3: Belawan – Lapangan Merdeka
K4: Tuntungan – Lapangan Merdeka
K5: Tembung – Lapangan Merdeka

Terima kasih menjadi identitas perjalanan. Di tengah hiruk pikuk kota, bus listrik Medan tidak hanya mengantar penumpang dari satu titik ke titik lain. Tetapi juga menghadirkan nilai, bahwa di ruang publik, rasa hormat dan apresiasi masih hidup.

Dan setiap kali pintu terbuka, satu kata itu kembali terdengar, “terima kasih”. (Monang Sitohang)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH