BerandaFeatureMenembus Jalan Rusak, Menyalakan Mimpi Anak Desa di Cipicung

Menembus Jalan Rusak, Menyalakan Mimpi Anak Desa di Cipicung

BOGOR, PILAR MERDEKA – Jalan sempit dan rusak itu seperti menguji niat siapa pun yang hendak melintas. Berliku, berlubang, dan tak ramah bagi perjalanan panjang. Namun siang itu, langkah tak berhenti. Sebab di ujung jalan, ada harapan yang menunggu untuk disapa.

Di Kampung Pasirangin, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kompleks Edukasi Putra Bangsa berdiri sederhana. Tapi dari tempat itulah, semangat besar anak-anak desa tumbuh.

Kedatangan Bunda Halimah Munawir dari Rumah Budaya HMA sekaligus Owner Obor Sastra disambut hangat bukan dengan kemewahan, melainkan tatapan penuh rasa ingin tahu dan semangat belajar yang menyala.

Jumat siang (10/4/2026), usai salat Jumat, anak-anak mulai berdatangan. Tanpa perlu diajak berulang, mereka duduk rapi, membawa harapan masing-masing. Waktu baru menunjukkan Jam 13.00 WIB, namun ruang belajar sudah dipenuhi antusiasme.

Jalan
Bunda Halimah memberikan apresiasi berupa buku dari Obor Sastra kepada lima anak yang berhasil menyelesaikan tulisannya lebih awal. (Foto : Agus Oyenk)

Dalam Lingkar Diskusi Sawala Dasa Wacana #11, Bunda Halimah tak sekadar berbicara. Ia membuka ruang ruang bagi anak-anak untuk mengenal diri, budaya, dan masa depan mereka. Tentang perempuan Sunda, tentang jati diri, hingga tentang mimpi yang selama ini mungkin hanya tersimpan dalam diam.

“Coba tuliskan cita-cita kalian,” ujarnya lembut, namun penuh dorongan.

Ajakan sederhana itu menjadi pintu awal. Kertas-kertas mulai terisi. Kata demi kata dituliskan dengan sungguh-sungguh. Dari sana, lahirlah gagasan besar: sebuah buku kompilasi bertajuk “Cita Anak Desa.”

Kegiatan ini terasa semakin hidup dengan kehadiran para siswa dari berbagai jenjang—mulai dari SD Cipicung 1, MTs Bina Takwa Mandiri, hingga SMK Sirojul Huda 3 dan SMK Triwijaya. Perbedaan usia tak menjadi sekat. Semua larut dalam semangat yang sama: belajar dan bermimpi.

Namun alam sempat “menguji” suasana. Hujan deras turun tiba-tiba, disertai angin kencang yang mengguncang Saung Saidun Hamdanah Putra Bangsa. Listrik pun padam. Ruangan menjadi redup.

BACA JUGA  Ramadan di SMK Taruma: Bukber, Doa Bersama dan THR untuk Guru

Tapi tidak dengan semangat mereka.
Anak-anak tetap menunduk di atas kertasnya, menulis. Suara hujan justru seperti menjadi latar yang menguatkan suasana bahwa mimpi tak boleh padam hanya karena gelap sesaat.

Melihat itu, Bunda Halimah tersenyum haru. Ia kemudian memberikan apresiasi berupa buku dari Obor Sastra kepada lima anak yang paling cepat menyelesaikan tulisannya. Sebuah penghargaan kecil, namun bermakna besar.

Di sudut lain, Heri Cokro, tuan rumah kegiatan, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Bunda Halimah tetap bertahan di tengah hujan, bahkan saat busananya basah. Tak ada keluhan. Yang ada hanya dedikasi untuk berbagi.

Di akhir sesi, sebuah pesan sederhana namun kuat mengalun: “Tong ngaku urang Sunda mun teu apal kana jati dirina.” Jangan mengaku orang Sunda jika belum mengenal jati dirinya.

Kalimat itu menggantung di udara, seolah menjadi pengingat bagi siapa pun yang hadir siang itu.

Kegiatan pun ditutup dengan doa dan foto bersama. Namun yang tertinggal bukan sekadar dokumentasi, melainkan harapan bahwa tulisan-tulisan kecil dari tangan anak desa ini suatu hari akan menjelma menjadi buku, menjadi suara, dan menjadi cahaya bagi masa depan mereka.

Di tempat sederhana, di tengah keterbatasan, mimpi-mimpi itu sedang ditulis. Dan hari itu, di Cipicung, mimpi tidak lagi terasa jauh. (Agus Oyenk)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH