BerandaFeatureSentuhan Silaturahmi Dwikora Guyub Merajut Kembali Tali Persaudaraan

Sentuhan Silaturahmi Dwikora Guyub Merajut Kembali Tali Persaudaraan

MEDAN, PILAR MERDEKA – Silaturahmi Dwikora Guyub terasa hangat sejak langkah pertama para warga memasuki Cafe Unggu, Jalan Asrama, Pulo Brayan, Medan Timur, Rabu (15/4). Satu per satu hadir, membawa cerita lama yang sempat terputus oleh jarak dan waktu, namun tak pernah benar-benar hilang.

Silaturahmi Dwikora Guyub mempertemukan warga Jalan Dwikora, Tegal Rejo, Medan Perjuangan, baik yang masih tinggal maupun yang telah lama merantau. Dua meja panjang dengan 22 kursi telah disiapkan rapi di tengah ruangan. Di atasnya tertulis jelas: reservasi. Seolah menjadi tanda bahwa tempat itu memang telah menunggu kehadiran mereka.

Suasana awal terasa canggung, namun perlahan mencair. Saling pandang berubah menjadi senyum, lalu sapaan yang penuh ragu.

“Eh, ini siapa ya, Fikar ya? Masih ingat sama kakak?” ujar Kak Podi (72), yang menjadi sosok paling senior di antara mereka.

Silaturahmi
Bang Ucok saat membuka acara silaturahmi Dwikora Guyub. (Dok. Dwikora Guyub)

Jawaban pun datang dengan nada hangat, meski sedikit ragu, “Ingat-ingat lupa, Kak. Aku adiknya Fikar, Monang.”

Sejenak, waktu seperti mundur puluhan tahun. Nama-nama lama kembali disebut. Wajah yang dulu akrab kini berubah, namun kenangan tetap melekat.

Silaturahmi Dwikora Guyub semakin hidup saat lebih banyak warga datang. Tawa mulai pecah. Candaan ringan, cerita masa kecil, hingga kisah konyol kembali dihidupkan. Ada yang datang bersama pasangan, anak, bahkan cucu. Generasi yang berbeda duduk dalam satu meja yang sama, menyatu dalam kehangatan.

Di sela kebersamaan, makanan pun menjadi pelengkap suasana. Salah seorang warga memuji hidangan yang tersaji. “Enak juga makanan di Cafe Unggu. Tadi saya makan ayam penyet, cumi goreng crispy, dan tumis kangkung seafood. Rasanya lezat,” ujarnya.

Tak hanya berbincang, hiburan pun hadir. Kak Fitri mengambil peran, menyanyi dan menghibur teman-teman. Peralatan LCD proyektor, layar, hingga televisi yang disediakan pihak kafe turut menambah semarak suasana.

BACA JUGA  Silaturahmi PPAD - PPAU
Silaturahmi
Kak Fitri foto bersama-sama warga group Dwikora Guyub. (Dok. Dwikora Guyub)

Waktu berjalan tanpa terasa. Tepat sekitar Jam 17.00 WIB, ajakan sederhana menggema.

“Ayo, kita foto bersama dulu,” seru Bang Ucok.

Momen itu menjadi simbol kebersamaan. Senyum merekah, tawa tertahan, dan rasa haru bercampur menjadi satu dalam satu bingkai.

Setelah itu, acara resmi dibuka oleh Bang Didu. Dengan suara tenang, ia mengajak semua yang hadir untuk bersyukur.

“Kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena masih diberi kesempatan berkumpul. Ada di antara kita yang tidak bertemu selama 10 tahun, 20 tahun, bahkan 40 tahun,” ujarnya.

Ucapan itu membuat suasana sejenak hening. Ada rasa haru yang tak terucap.

“Semoga silaturahmi ini bisa terus berlanjut,” tambahnya, sebelum doa dipanjatkan bersama.

Bang Ucok kemudian melanjutkan sambutan dengan harapan sederhana namun bermakna.

“Kita harus tetap guyub. Pertemuan ini bisa kita adakan sekali atau dua kali setahun, saat Lebaran atau Tahun Baru,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar komunikasi di grup tetap hangat dan ringan.

“Jangan terlalu kaku. Kita bahas saja masa-masa dulu. Tidak perlu membahas politik atau agama. Kalau ada kabar sakit atau pesta, bisa kita saling beri tahu,” ujarnya.

Pesan itu disambut anggukan. Sebuah kesepakatan sederhana untuk menjaga hubungan tetap hidup.

Menjelang akhir, Bang Ucok mempersilakan siapa pun yang ingin pulang lebih dulu, sementara yang ingin melanjutkan kebersamaan dipersilakan tetap tinggal.

Silaturahmi Dwikora Guyub bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah ruang untuk kembali menemukan bagian diri yang sempat hilang. Mengingat masa lalu yang sederhana, penuh tawa, dan tanpa beban.

Dalam canda dan cerita, terselip kebahagiaan yang tulus. Kenangan lama yang dihidupkan kembali mampu menghadirkan tawa.

BACA JUGA  Fakta-fakta Heroik di Seputar Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya

Pertemuan itu membuktikan satu hal: waktu boleh memisahkan, tetapi kebersamaan yang pernah terjalin tidak akan pernah benar-benar hilang. (Monang Sitohang)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH