MEDAN, PILAR MERDEKA – Halaman depan rumah di bawah pohon bacang, menjadi salah satu lokasi atau tempat bermain anak-anak sebaya-semasa sekolah dasar di era 70-an. Halaman rumah itu adalah halaman rumah Pak Haji Lubis, orang tua dari Zunhanaina (65), akrab disapa Bidah.
Lokasinya persis diujung Gang Sepakat, Jalan Maphlindo, Kelurahan Tegal Rejo, Kecamatan Medan Perjuangan (dahulu Medan Timur), Kota Medan, Sumatera Utara.
Seingat Bidah, semasa masih duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, permainan anak-anak masih “kolot” yang menggunakan peralatan/bahan murah bahkan sebagian tidak harus dibeli, dan permainan-permainan tersebut menjadi tradisi mainan anak-anak di zamannya.
Kala itu, permainan yang kerap disenangi anak-anak, khususnya anak perempuan antara lain main yeye. Permainan ini menggunakan karet gelang, seperti dirajut-disambung menjadi satu simpul memanjang dua hingga tiga meter.

Cara bermain, dua anak masing-masing memegang ujung simpul karet sambil digoyang-goyangkan ke atas-bawah, seorang anak melompat-lompat sembari dihitung sebanyak mungkin selama karet tidak tersentuh dan terhenti. Jika terhenti, permainan akan digantikan si anak sebagai lawan, dan begitu pola permainan yeye seterusnya.
Yeye berbeda dengan bermain engklek. Kalau bermain engklek biasanya minimal dua orang dan idealnya lima orang. Pola bermain engklek, tiap anak yang bermain harus mengangkat kaki kiri dan kaki kanan melompat sambil menggeser sebuah benda padat seperti jenis batu atau kayu ukuran proporsional secara perlahan masuk ke dalam garis berbentuk persegi/kotak di atas tanah.
Siapa yang mampu memasukkan benda tersebut ke dalam kotak dengan mulus atau sesuai aturan maka si anak itulah pemenangnya.
Dari beberapa permainan di era 70-an sampai akhir 80-an, seperti congklak, kelereng, petak umpet/hom pim pa/alip cendong dan kuaci, bagi Bidah permainan yeye, engklek dan congklak adalah permainan yang paling berkesan. “Tahun 70-an, kakak masih remaja, sering main engklek, yeye dan congklak,” kenang lulusan PGA-SPG yang bertempat tinggal di Jalan Gaperta, Medan Helvetia, Jum’at (15/05).
Asmini Fitriani (56), warga Jalan Dwikora, Tegal Rejo, Medan Perjuangan menambahkan, di masa itu, ia juga tak ketinggalan ikut bermain yeye. Menurut Fitri, bermain yeye punya keunikan tersendiri. Seru, karena memiliki jenjang kesulitan, melompati karet mulai setinggi mata kaki, dengkul, pinggang, bahu hingga setinggi kepala.

Secara terpisah, Fitri dan Bidah mengatakan, permainan masa anak-anak dulu memang sederhana tapi punya makna. “Sekarang baru kita sadari, mainan masa anak-anak dulu, secara tidak langsung dalam hubungan sosial sangat komunikatif sehingga terjalinan rasa persaudaraan sampai sekarang,” ungkap perempuan yang selalu tampil modis.
Kenangan serupa juga disampaikan Nurhayati (71). Meski pada tahun 80-an dirinya sudah memiliki anak, ia masih sering ikut bermain bersama anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.
“Saya dulu pernah ikut main bola kasti, main pecah piring di lapangan di kawasan Medan Tembung. Gabung bersama anak-anak yang masih SMA dan SMP,” ujarnya, Sabtu (16/5).
Permainan bola kasti membuat pemain harus berlari cepat agar tidak terkena lemparan bola. Sedangkan permainan pecah piring dimainkan secara beregu menggunakan bola dari kertas atau kain berisi batu kecil dan susunan pecahan keramik atau piring.
Menurut Nurhayati, permainan itu bukan hanya menyenangkan, tetapi juga melatih kecepatan, kekompakan, dan kerja sama antar teman.
Namun kini, pemandangan anak-anak bermain di lapangan hampir tidak pernah lagi terlihat.

“Sayangnya permainan-permainan itu semua sudah tidak pernah lagi terlihat dimainkan anak-anak sekarang. Anak-anak sekarang sudah sibuk main handphone,” sebutnya.
Cerita lain datang dari Erwin (53), yang dahulu tinggal di Jalan Dwikora, Kelurahan Tegal Rejo, Kecamatan Medan Timur. Ia mengaku hampir semua permainan tradisional pernah dimainkannya.
“Hampir semua permainan anak-anak di masanya pernah saya mainkan. Seperti layang-layang, patok lele, gasing, guli, main gambar-gambaran dan lainnya,” jelasnya.
Menurut Erwin, permainan patok lele menjadi salah satu permainan paling seru pada masanya. Permainan itu menggunakan dua potong kayu yang disebut induk dan anak. Tanah sedikit dikorek untuk membuat lubang kecil, lalu kayu anak diletakkan di atasnya.
Kayu induk digunakan untuk mencungkil sekaligus memukul kayu anak sejauh mungkin. Permainan itu dimainkan dua tim di area terbuka dan membutuhkan ketangkasan serta kerja sama.
Bagi Erwin, permainan tradisional membuat anak-anak aktif bergerak dan berkeringat. Aktivitas fisik itu menjadi bagian penting dari masa kecil mereka.
Di balik kenangan itu, tersimpan pula cerita lucu yang hingga kini masih membuatnya tertawa.
“Jadi ada pengalaman lucu, saat itu ikut main alip cendong. Setelah bergiliran menjaga. Saat itu mainnya tidak jauh dari rumah. Ketika yang jaga menutup mata teman-teman lain berondok termasuk saya. Tapi saya saat itu berondok malah pulang ke rumah,” ujarnya sambil tertawa.
Kini, kenangan permainan tradisional itu hanya tersisa dalam cerita generasi lama. Lapangan yang dahulu dipenuhi tawa anak-anak perlahan sunyi. Permainan yang dulu mengajarkan kebersamaan, keberanian, ketangkasan, dan persahabatan mulai kalah oleh dunia digital. (Monang Sitohang)

