MEDAN, PILAR MERDEKA – Gunung Sibuatan menjadi destinasi baru bagi para pendaki setelah menyandang sebagai puncak gunung tertinggi di Sumatera Utara (Sumut) dengan ketinggian 2.457 meter di atas permukaan laut. Status ini menegaskan perubahan lanskap pegunungan pasca aktivitas erupsi Gunung Sinabung yang memengaruhi perhitungan ketinggian kawasan.
Gunung Sibuatan bukan sekadar tujuan pendakian. Gunung ini menghadirkan pengalaman alam liar yang autentik, medan ekstrem, dan panorama Danau Toba yang memukau dari ketinggian.
“Saran, setiap pendaki harus punya persiapan fisik. Untuk Sibuatan setidaknya seminggu latihan fisik karena medannya agak ekstrem, spiritual, dan menanamkan nilai cinta tanah air,” ujar Hery Buha Manalu kepada Pilar Merdeka.Com, Senin (23/2).
Menurut Hery, mendaki Gunung Sibuatan berbeda dengan gunung lain. Kesan sakral dan magis masih terasa kuat. Ia menegaskan bahwa aura keikhlasan diri dan cinta tanah air harus menjadi dasar niat atau motivasi bagi setiap pendaki.

Dari puncak Gunung Sibuatan, bentangan Danau Toba yang menjadi ikon Indonesia terlihat begitu megah. Danau terbesar di Asia Tenggara itu tampak luas membiru dengan siluet Pulau Samosir yang menenangkan. Momen itu sering memunculkan rasa bangga dan haru.
Ada rasa ingin menangis ketika menatap Danau Toba dari ketinggian. Keindahan itu menjadi karunia Tuhan bagi bangsa ini. Pemandangan tersebut seolah mengingatkan bahwa Indonesia tidak kalah dari bangsa lain dalam anugerah alam.
Perjalanan menuju Gunung Sibuatan dimulai dari Kota Medan menuju Merek. Dari sana, pendaki menuju Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Gunung ini memiliki dua jalur pendakian utama, yakni dari Desa Nagalingga dan Desa Pancur Batu, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.
Namun, jalur Pancur Batu saat ini ditutup sementara karena proses penghijauan hutan untuk menjaga ekosistem tetap lestari. Jalur Nagalingga menjadi pilihan utama para pendaki.
Dari basecamp Nagalingga, perjalanan menuju pintu rimba memakan waktu sekitar 20 hingga 30 menit. Setelah itu, pendaki memasuki hutan rapat dengan jalur yang didominasi akar-akar besar, menjadi ciri khas Gunung Sibuatan.

Pendakian terbagi dalam lima shelter dengan total waktu tempuh sekitar 7 hingga 9 jam. Shelter 1 dapat dicapai dalam waktu 30 menit dari pintu rimba, dikelilingi pepohonan besar yang menjulang tinggi.
Shelter 2 berjarak sekitar 45 menit dari Shelter 1. Di sini, pendaki memasuki hutan lumut lebat yang lembap dan terasa misterius. Tantangan sesungguhnya dimulai setelah Shelter 2.
Menuju Shelter 3, perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam melalui jalur menanjak dan berlumpur. Dari Shelter 3 ke Shelter 4, medan berubah semakin terjal dan licin dengan waktu tempuh sekitar satu jam.
Shelter 5 menjadi titik favorit. Dari sini panorama mulai terbuka. Danau Toba terlihat luas dengan Pulau Samosir yang berdiri anggun di tengahnya.
Perjalanan menuju Puncak Pilar atau puncak sejati Gunung Sibuatan membutuhkan waktu sekitar satu jam lagi hingga mencapai ketinggian 2.457 mdpl. Di titik ini, rasa lelah terbayar lunas oleh lanskap dramatis yang terbentang tanpa batas.
Keunikan Gunung Sibuatan terletak pada hutan lumut tebal dan ekosistem alami yang masih terjaga. Jalur penuh akar besar membentuk trek alami yang menantang fisik pendaki.
Gunung ini juga menyimpan kekayaan flora dan fauna langka. Di sepanjang jalur, pendaki kerap menemukan kantong semar dan anggrek hutan yang tumbuh alami. Keberadaan flora ini menegaskan nilai konservasi kawasan tersebut.
Pendakian Gunung Sibuatan bukan hanya perjalanan menuju puncak. Pendakian ini adalah eksplorasi hutan purba, ujian mental dan fisik, sekaligus momen perenungan tentang cinta tanah air.
Gunung Sibuatan menghadirkan pengalaman yang utuh. Medan ekstrem, suasana sakral, dan panorama Danau Toba menjadikannya salah satu ekspedisi paling berkesan di Sumatera Utara. (Mons)

