BerandaOpiniSelamat Ultah, Memaknai Merdeka dan Sekilas Potret Kelam Reformasi

Selamat Ultah, Memaknai Merdeka dan Sekilas Potret Kelam Reformasi

Oleh : Dr. Hery Buha Manalu, S.Sos, M.Si
Dosen Pasca Sarjana STT Paulus Medan
Gemar mendaki gunung bisa menjadikan seseorang secara tidak langsung untuk belajar tentang kehidupan, dan perlahan akan menimbulkan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. Contohnya, seseorang itu menjadi kritis berpikir (positif) dan sensitifitas perasaan untuk mencintai dan merawat alam.

Di tengah proses gejolak jiwa kritis itu, tumbuh dan termotivasi untuk mengungkapkan suatu narasi yang dapat menjelaskan kegelisan yang sebenarnya. Satu hal, “kami menjadi manusia-manusia tidak percaya akan slogan”. Sebab slogan itu cenderung berupa kata-kata yang ditata menjadi satu atau dua kalimat “manis” bernuansa janji belaka.

Slogan-slogan yang dibuat semenarik mungkin biasanya untuk mudah diingat dan disuarakan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu sebelum kepentingannya tercapai. Berbeda dengan seorang patriotisme, ia tidak mungkin dapat tumbuh dari hipokrisi (kemunafikan) dan slogan.

Jadi, seseorang hanya dapat mencintai secara jernih jika ia mengenal objeknya. Begitu halnya, mencintai tanah air sejatinya hanya dapat tumbuh dengan mengenal alam Indonesia bersama rakyatnya dari dan lebih dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat harus berarti pula bagi pertumbuhan jiwa yang kuat dan tangguh. Pandangan itu mestilah terpatri di jiwa generasi muda. “Karena itulah kami gemar mendaki gunung”.

Berfikir merdeka mengembangkan minat dan bakat di alam bebas, setuju dengan gagasan Soe Hok Gi. Melihat kekayaan alam Indonesia dan juga kaya ragam budayanya yang tiada tars, namun ancaman ekologi membayanginya.

Berpetualangan dan berorientasi terhadap lingkungan bisa menumbuhkan serta membangkitkan kecintaan akan alam. Kesadaran berpikir merdeka harus diperjuangkan melalui suatu karya tulis.

Kenangan Potret Masa Lalu

Menyaksikan perjalanan negeri ini, tertarik untuk mengenang kembali dari semasa mahasiswa. Idealisme saat itu, mengkritik dan menuntut suatu cita-cita ke-sejati-an arti merdeka. Menyaksikan dan merasakan perjuangan proses reformasi yang dimulai terjadinya petistiwa Mei 1998, dalam hal ini di Kota Medan, Sumatera Utara.

Awal reformasi waktu itu, dimulai dengan gejolak aksi unjuk rasa di depan Universitas HKBP Nomensen, Jalan Sutomo, Medan. Gejolak unjuk rasa di Kota Medan itu, menjadi peristiwa yang pertama mensuarakan reformasi dan disusul sejumlah kota-kota lainnya, seperti Jakarta, Surabaya dan Solo. Kalau tidak salah, peristiwa pertama itu pada 30 April dan puncaknya Mei 1998. Tuntutan mahasiswa kala itu antara lain, pemerintah segera melakukan reformasi di bidang politik, ekonomi dan hukum.

Rencana aksi hari itu akan digelar di Kantor DPRD Provinsi Sumatera Utara (DPRD Provsu). Namun aksi terhalang oleh aparat yang siap siaga melakukan pengamanan hampir di setiap jalan menuju Gedung DPRD Provsu, Pusat Kota Medan dan sekitarnya.

Selain di sejumlah jalan, aparat juga melakukan pengamanan di beberapa kampus, sehingga mahasiswa kesulitan mencapai kantor perwakilan rakyat tersebut. Salah satu aksi yang mendapatkan perlawanan aparat adalah unjuk rasa mahasiswa Universitas Nomensen. Terjadi kekerasan terhadap mahasiswa serta warga sipil sekitar. Akibatnya sebelas mahasiswa UHN, dua laki-laki dan sembilan perempuan diamankan ke Poltabes Medan.

Gejolak semakin berkembang dan membara. Aksara Plaza dan toko-toko di sekitarnya tidak luput dari perusakan dan penjarahan massa. Untuk menghalau massa, aparat keamanan menembakkan senjata ke udara dan massa pun kocar kacir ke berbagai penjuru. Di sepanjang jalan massa melempari rumah-rumah penduduk, perkantoran, mobil-mobil yang terparkir di pinggir jalan rusak, dan Plaza Aksara terbakar.

Di Kampus IKIP Medan atau saat ini dikenal UNIMED di Jalan Pancing adalah lokasi terjadi kekerasan seksual terhadap mahasiswi pada Mei 1998. Pada 3 Mei, mahasiswa IKIP berencana unjuk rasa ke DPRD Provsu.

Melihat pergerakan mahasiswa IKIP, aparat memblokade setiap gerbang kampus. Mahasiswa tak diam, dari dalam kampus mereka melempari aparat pakai batu, memanah pakai ketapel dan melempar bom molotov.

Ketika malam, mahasiswa memutuskan keluar kampus dihadang aparat dan terjadi kekerasan verbal dan kekerasan seksual terhadap mahasiswi. Kekerasan seksual oleh aparat berupa perkataan cabul.

Selamat Ultah Ke-1

Ini refleksi singkat mengenang melawan lupa. Jangan lupa untuk selalu bahagia dan merdeka. Berkarya dan menulis dalam kebebasan pers yang bertangungjawab. Media online Pilar Merdeka.com adalah inspirasi memahami makna merdeka.

Masih setia mendaki gunung, menatap indahnya alam Indonesia dan mengagumi budaya warisan leluhur. Pilar Merdeka.com hadir mewarnai jejak digital dunia jurnalistik nasional. Selamat Ulang Tahun Ke-1 Pilar Merdeka.com. Sukses selalu dan selalu sukses…!!!

ONLINE TV NUSANTARA
Klik Play Untuk Menyaksikan Online TV Nusantara

Iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments