MEDAN, PILAR MERDEKA – Payakumbuh Kota Rendang bukan sekadar julukan. Kota di Sumatera Barat ini dikenal luas karena berdirinya sentra produksi rendang yang menjadi rujukan banyak orang. Dari kota inilah rendang autentik Minangkabau lahir, dimasak dengan kesabaran, dan dijaga resepnya turun-temurun.
Payakumbuh Kota Rendang juga menjadi tujuan bagi siapa pun yang ingin belajar membuat rendang terbaik. Orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi untuk memahami proses, filosofi, dan rasa yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Di setiap dapur, aroma santan dan rempah seakan menyimpan cerita panjang tentang tradisi.
Selain rendang, Payakumbuh Kota Rendang memiliki beragam kuliner khas. Semua memiliki satu benang merah, yaitu penggunaan rempah yang kuat, santan yang kental, dan cita rasa pedas yang bersahaja namun dalam. Berikut menurut kuliner khas Payakumbuh yang menjadi identitas daerah.
Rendang Payakumbuh
Menurut Sukrinaldi Sutan Rang Kaya Sati, Sabtu (20/12) mengatakan Payakumbuh dikenal dengan kota rendang, ada rendang daging, ada juga rendang telur. Rendang Payakumbuh berbeda dengan rendang Padang. Jenis rendang ini dikenal sebagai rendang darek atau rendang pedalaman. Bumbunya sangat pekat dan berwarna hitam karena penggunaan jintan dan merica.
Cita rasanya lebih ringan, gurih, dan sedikit manis. Teksturnya kering, namun tetap menyimpan rasa yang dalam. Salah satu tempat terbaik mencicipi berbagai jenis rendang adalah Kampung Rendang, yang menjadi ikon kuliner kota ini.
Sate Danguang-Danguang
Sate danguang-danguang berasal dari daerah Guguak, Payakumbuh. Sekilas bentuknya mirip sate Padang, namun racikannya berbeda. Sate ini menggunakan potongan daging sapi dan lidah yang dilumuri serundeng kelapa.
Setelah dibakar, sate disajikan dengan kuah terpisah. Kuah kuningnya terasa gurih dan pedas karena menggunakan tiga jenis cabai, yaitu cabai merah keriting, cabai rawit, dan cabai hijau. Sensasi pedasnya langsung membangkitkan selera.
Pangek Cubadak
Pangek cubadak mudah ditemukan di Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Cubadak dalam bahasa Minang berarti nangka muda. Masakan ini dimasak dengan teknik pangek, yaitu memasak gulai dalam waktu lama hingga kuahnya menyusut.
Bumbunya terdiri dari santan dan rempah lengkap, seperti cabai, jahe, lengkuas, daun jeruk, dan daun kunyit. Rasanya gurih, pedas, dan kaya aroma, menghadirkan kehangatan di setiap suapan.
Batiah
Batiah adalah camilan tradisional khas Payakumbuh. Terbuat dari beras ketan putih yang dimasak hingga matang, kemudian dibentuk pipih. Adonan ini dijemur sampai kering sebelum digoreng.
Tampilannya mirip rengginang, namun rasanya khas. Batiah bisa dimakan langsung atau diberi topping gula merah cair. Saat ini, batiah menjadi salah satu oleh-oleh favorit dari Payakumbuh.
Kue Kering Kusuik
Kue kering kusuik sering dijadikan oleh-oleh khas Payakumbuh. Dalam bahasa setempat, kusuik berarti kusut, sesuai dengan bentuknya yang berantakan.
Kue ini terbuat dari tepung beras dan diberi campuran karamel di bagian atasnya. Rasanya manis dan sederhana, namun meninggalkan kesan yang kuat bagi siapa pun yang mencicipinya.
Payakumbuh Kota Rendang bukan hanya tentang makanan. Kota ini menyimpan rasa, tradisi, dan emosi yang hidup di setiap hidangan. Setiap kuliner adalah bukti bahwa warisan budaya bisa dirasakan, bukan hanya diceritakan. (Mons)

