MEDAN, PILAR MERDEKA – Dapur pada umumnya berada di bagian belakang sebuah rumah. Namun bagi ibu yang satu ini, Fitri namanya, bagian depan rumah dimanfaatkan menjadi “dapur” dan sekaligus warung untuk menjajakan olahan masakan tradisional berupa pecel, tahu goreng dan ayam penyet.
Pecel Medan Johor, brand yang menjadi saksi bisu jerih payah Fitri bersama putrinya guna menafkahi keluarga. Dapur plus warungnya, berlokasi di pinggir Jalan Karya Jaya, Kecamatan Medan Johor.
Pecel Medan Johor bukan sekadar makanan. Bagi Fitri, ini adalah jalan bertahan hidup sejak pandemi Covid-19 melanda. Pada tahun 2019, Fitri kehilangan pekerjaannya setelah butik tempat ia bekerja tutup. Sejak saat itu, hidupnya berubah drastis.
“Kebutuhan mendesak. Kebutuhan hidup tidak bisa ditunda,” ujar Fitri kepada Pilar Merdeka.Com, Selasa siang (13/1), sambil melayani pembeli. Dengan suara tenang, ia mengaku memilih berjualan makanan tradisional karena itulah kemampuan yang dimilikinya.

Pecel Medan Johor kini menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Setiap hari, Fitri dibantu anak perempuannya. Siang itu, seorang pelanggan memesan 11 bungkus ayam penyet, satu bungkus pecel, dan satu bungkus tahu goreng. Pesanan besar itu membuat dapur kecil di depan rumahnya mendadak sibuk.
Fitri mulai meracik bumbu pecel secara manual. Ia meletakkan kencur, bawang putih, kulit jeruk purut, dan garam di atas batu gilingan. Semua digiling perlahan hingga halus. “Kalau orang biasa pakai daun jeruk, saya pakai kulitnya, sedikit saja,” jelasnya.
Kacang tanah kemudian ditambahkan, disusul cabai sesuai permintaan pembeli. Untuk tingkat pedas sedang, Fitri hanya memasukkan tiga buah cabai. Setelah itu, air asam jawa dan gula aren dimasukkan, lalu digiling hingga tercampur sempurna.
“Rasa enak itu dari kacang tanah dan gula aren yang harus terasa,” kata Fitri sambil terus menggiling.
Pecel Medan Johor disajikan dengan sayuran rebus seperti kangkung, daun ubi, kacang panjang, toge, dan terkadang daun pepaya. Semua ditata rapi dalam bungkus sederhana, namun penuh rasa.

Untuk tahu goreng, bumbunya hampir sama. Bedanya, Fitri menambahkan potongan nanas saat menggiling bumbunya agar rasanya lebih segar. Isinya terdiri dari tahu, tempe, dan selada. Harga per bungkus pecal dan tahu goreng Rp13.000 sedangkan ayam penyet Rp12.000.
Anggi, salah satu pelanggan, mengaku puas. “Mantap kali rasa bumbu pecalnya. Sayur-sayuran lembut dan segar, paduan bumbu, kacang tanah dan gula arennya terasa banget rasanya. Pedasnya pas,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Nina usai menyantap tahu goreng pesanannya. “Tahu gorengnya enak, segar. Tahu dan tempenya lembut. Bumbunya kena kali rasanya, rasa pedasnya pas,” katanya kepada sang suami.
Pecel Medan Johor mengingatkan bahwa pecel adalah makanan tradisional khas Jawa. Pecel terdiri dari sayuran rebus yang disiram sambal kacang. Meski berasal dari Jawa, khususnya Jawa Timur, pecel kini menyatu dengan lidah masyarakat Medan.
Di balik rasa yang nikmat, tersimpan kisah keuletan seorang ibu. Dari dapur sederhana di pinggir jalan, Fitri membuktikan bahwa bertahan hidup bisa dimulai dari satu cobek, satu gilingan, dan tekad yang tidak pernah padam. (Monang Sitohang)

