Oleh Wilmar Eliaser Simanjorang dari Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-mula
Seni bukan sekedar keindahan. Ketika sebuah karya mengusung nama Danau Toba ke ruang publik, ia juga membawa cara pandang tentang tanah, manusia, budaya, sejarah dan alam yang dibicarakannya. Karena itu, sendratari The Ballad of Danau Toba yang dipentaskan di The Kaldera, Sibisa pada 11 September 2026, patut dibaca bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi sebagai sebuah tafsir tentang Toba.
Pertanyaan dasarnya sederhana, Toba sedang ditafsirkan dari horizon mana, dan suara Toba mana yang sedang berbicara?
Sebelum tafsir-tafsir modern itu, telah ada suara kebudayaan Batak yang kuat. Nahum Situmorang, melalui O Tao Toba, mengumandangkan rasa terhadap Toba: “O Tao Toba… Raja ni sude na tao.” Ungkapan itu tidak menjadikan Toba sebagai Tuhan, melainkan memberi martabat kultural kepada Tao Toba dalam bahasa, rasa, dan pengalaman orang Batak.
Kemudian hadir Pulo Samosir, yang memperlihatkan bagaimana tanah asal menjadi ruang kerinduan dan identitas. Samosir bukan sekadar pulau di tengah Danau Toba. Ia adalah bona pasogit—tanah asal yang menyimpan ingatan, adat, marga, sejarah, dan rasa memiliki.
Dalam perjalanan berikutnya, lahir pula gagasan “Samosir Membangun.” Ketika Wilmar Eliaser Simandjorang menjabat Penjabat Bupati Samosir, gagasan dan judul itu ditanamkan sebagai semangat untuk tidak berhenti pada rasa rindu dan bangga terhadap bona pasogit, tetapi bergerak kepada tanggung jawab membangunnya.
Gagasan tersebut kemudian dipercayakan kepada Bonar Gultom, komposer lagu Batak dan lagu rohani yang dikenal luas, untuk diwujudkan menjadi lagu—tanpa bayaran. Di sini, rasa memiliki terhadap Samosir dan Danau Toba diterjemahkan menjadi panggilan untuk membangun.
Maka terdapat sebuah garis pemikiran: O Tao Toba mengumandangkan rasa dan penghormatan; Pulo Samosir menghidupkan kerinduan kepada tanah asal; Samosir Membangun mengubah rasa memiliki menjadi tanggung jawab.
Di sinilah kritik terhadap The Ballad of Lake Toba menjadi penting. Ketika Danau Toba dipersonifikasikan sebagai ibu, penjaga, penyembuh, dan pemberi kehidupan, apakah itu sekadar bahasa artistik, atau sedang membawa suatu pandangan dunia tertentu? Bahasa boleh berubah, tetapi konsep jangan sampai kehilangan akar.
Folklor, mitos, geologi, budaya, dan iman dapat berdialog, tetapi tidak boleh dicampuradukkan seolah-olah memiliki kedudukan yang sama. Toba harus terlebih dahulu dibaca dari dalam dirinya sendiri: sebagai tano, tao, huta, marga, adat, sejarah, cerita, ingatan, dan kehidupan masyarakatnya.
Karena itu, Sidapot solup do na ro menjadi etika penting: siapa pun yang datang membawa tafsir tentang Toba harus terlebih dahulu memahami “solup” milik Toba.
Pertanyaan akhirnya bukan sekadar: apakah pertunjukan itu indah? Melainkan: setelah Toba diberi suara, apakah manusia yang mendengarnya menjadi lebih memahami dan lebih bertanggung jawab merawat Toba?
Jangan menulis Toba hanya karena melihat Toba. Tulislah Toba setelah memahami Toba.

