MEDAN, PILAR MERDEKA – Hampir tiap tahun di Kota Medan, bila tiba Bulan Ramadhan, bermunculan kuliner dadakan ‘bak jamur di musim hujan’. Tampak para pedagang memajang aneka kuliner di atas meja dan stealing berjejer di pinggir jalan. Pemandangan itu, kerap terlihat menjelang berbuka puasa.
Pedagang aneka kuliner musiman di Kota Medan itu, salah satu bisa dikunjungi di sepanjang Jalan Karya Jaya, Medan Johor, tepat di depan Bina Swalayan ada lahan kosong. Suasana sore hari disana, hiruk pikuk tak biasanya.
Terpajang kue-kue tradisional seperti risol, dadar, dan kue sus. Selain itu, mie kuning, miehun, mie tiauw dan urap. Bukan itu saja, sejenis minuman segar dan jus juga tersedia. Bahkan aneka takjil lainnya pun tak ketinggalan.
Sejumlah warga memilah milih jenis kuliner sesuai selera ke masing-masing meja dan stealing yang menjajakan aneka kuliner tersebut. Namun, salah satu stealing terlihat “diserbu” para pembeli.
Pada stealing tertangkap mata bertuliskan ‘Kue Tradisional Minang’ dan di bagian bawah diikuti gambar Bika Bakar, Kue Mangkok serta onde-onde. Aroma wangi santan-kelapa langsung menyengat seakan penarik bagi calon pembeli untuk merapat.

Rabia, seorang wanita berhijab yang datang dari Medan Tembung, tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia menghampiri penjual dan bertanya, “Kak, kue bika bakar dan kue mangkok berapa harganya?”
Penjual menjawab singkat, “Satu bika bakar harganya Rp2.000, begitu juga dengan kue mangkok.”
Harga yang terjangkau itu membuat pembeli semakin tertarik. Rabia pun membeli lima bika bakar dan lima kue mangkuk kemudian mencicipinya saat berbuka puasa.
“Kue bika bakarnya harum aromanya. Enak rasanya. Terasa kelapa dan manisnya. Saya rasa kalau panas dikonsumsi lebih enak,” ujarnya.
Kue Tradisional Minang asal Pariaman, Sumatera Barat, ini memang berbeda. Berdasarkan pantauan Pilar Merdeka.Com, Selasa (24/2) di lokasi, sekitar lima orang bekerja di tempat tersebut. Ada yang membakar bika, ada yang mengukus kue mangkok.
Prosesnya dilakukan langsung di lokasi jualan. Bika bakar dibuat dari tepung beras, kelapa muda parut, dan gula. Kue dibakar menggunakan daun pisang sebagai alas. Cara ini menghasilkan aroma khas dan tekstur sedikit garing di bagian luar, sementara bagian dalamnya lembut.
Begitu matang, bika bakar langsung diantar ke stealing untuk dijual. Pembeli bahkan sudah datang memesan sebelum proses memasak selesai.
Sementara itu, kue mangkok dikukus menggunakan batok kelapa. Warnanya putih santan dengan bagian tengah berwarna hijau, biasanya dari pandan. Bentuk dan tampilannya mirip kue apem kukus atau kue mangkok yang dikenal luas di Indonesia.
Menurut salah satu penjual berhijab, kue-kue tradisional ini berasal dari Pariaman. Untuk wilayah Medan Johor, hanya mereka yang menjualnya. Namun di Jalan Amaliun juga ada pedagang serupa.
Ia menambahkan, di Jalan Karya Jaya mereka sudah berjualan bahkan sebelum Ramadan tiba.
Sore itu, suasana terasa hangat. Satu per satu pembeli dilayani dengan sabar. Kue belum sepenuhnya siap dimasak, tetapi pesanan sudah berdatangan.
Ramadan di Medan Johor bukan hanya tentang menunggu azan magrib. Di balik aroma santan dan asap pembakaran bika bakar yang dialasi daun pisang, ada kerja keras, tradisi Minangkabau dari Pariaman, dan kebahagiaan sederhana berbuka dengan kue hangat seharga Rp2.000. (Monang Sitohang)

