BOGOR, PILAR MERDEKA – SMK Triwijaya Bogor menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) Pendidikan Karakter Panca Waluya pada Senin–Selasa, 29–30 Juni 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh ekosistem sekolah, mulai dari guru, staf Tata Usaha (TU), perwakilan komite sekolah, orang tua siswa, pengurus OSIS, hingga kepala sekolah.
IHT tersebut mengusung tema “Nguatkeun Atikan Karakter Pikeun Ngawujudkeun Generasi anu Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer” sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Jawa Barat.
Pancawaluya merupakan filosofi karakter yang bersumber dari nilai-nilai budaya Sunda yang mencakup lima dimensi utama pembentukan manusia seutuhnya, yakni Cageur (sehat jasmani dan rohani), Bageur (berakhlak mulia dan berbudi pekerti baik), Bener (jujur, bertanggung jawab, serta menjunjung kebenaran), Pinter (cerdas dan berwawasan luas), serta Singer (terampil, kreatif, adaptif, dan mampu memecahkan masalah).
Keterlibatan seluruh unsur sekolah dalam kegiatan ini bertujuan membangun kesamaan persepsi dan langkah dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancawaluya secara menyeluruh, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan keluarga.

Kegiatan IHT menghadirkan dua narasumber dari Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat, yakni Asep Suryanto, S.Pd. dan Nurlia Andriani, S.Pi., yang memaparkan materi secara komprehensif mulai dari konsepsi Panca Waluya hingga implementasinya dalam proses pembelajaran.
Kepala SMK Triwijaya, Sapudin Suherman, S.Pd., SH., M.M., dalam sambutan pembukaannya menegaskan bahwa IHT ini menjadi bagian dari persiapan memasuki tahun ajaran baru sekaligus bentuk komitmen sekolah untuk tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan moral dan etika peserta didik.
“Nilai-nilai Pancawaluya yang tumbuh dan berkembang di bumi Jawa Barat sebagai warisan kearifan para leluhur tidak cukup diajarkan secara teoritis semata, tetapi harus dibangun secara komprehensif dan integral dalam setiap proses pendidikan. Dengan hadirnya guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, OSIS, dan orang tua, kita bersepakat bahwa penguatan karakter merupakan tanggung jawab kolektif. Orang tua menjadi pelaku utama penerapan nilai Pancawaluya di rumah, sementara sekolah mengoptimalkannya melalui setiap proses pembelajaran,” ujarnya.
Pada hari kedua pelaksanaan kegiatan, Pengawas Pembina KCD Wilayah I Kabupaten Bogor, Iyan Rusyana, M.Pd., turut hadir dan memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan IHT Pancawaluya di SMK Triwijaya.
Menurutnya, Pancawaluya merupakan sumber nilai utama dalam pembentukan generasi unggul Jawa Barat dan menjadi landasan penting dalam pembinaan karakter siswa.
“Pancawaluya menjadi kekuatan dalam membentuk peserta didik melalui setiap proses pembelajaran, sehingga mereka mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, di sekolah, di masyarakat, maupun di dunia kerja. Dengan demikian, peserta didik dapat tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas dan memiliki jati diri yang kuat,” ungkapnya.
Para peserta IHT, khususnya para guru, menyambut positif kegiatan tersebut karena memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai arah pembinaan karakter yang diharapkan sekolah. Pemahaman ini dinilai penting agar pola pendidikan di sekolah dan pola pengasuhan di rumah dapat berjalan selaras.
Salah seorang peserta, Aditya Fahrudin, S.E., menilai bahwa peran guru dan orang tua sangat sentral sebagai teladan dalam pembinaan karakter Pancawaluya.
“Kerja sama yang intens antara sekolah dan keluarga sangat diperlukan agar nilai-nilai utama Pancawaluya dapat benar-benar tertanam dalam diri peserta didik,” katanya.
Selain sesi pelatihan, kegiatan IHT juga menampilkan pertunjukan ekstrakurikuler unggulan pencak silat dari Paguron KBPC Triwijaya. Para pesilat menampilkan berbagai jurus dan atraksi yang menarik, sekaligus menjadi contoh implementasi nilai-nilai Pancawaluya dalam seni bela diri tradisional.
Melalui kegiatan IHT ini, SMK Triwijaya semakin memantapkan langkah untuk mewujudkan lingkungan belajar yang inspiratif serta menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter Pancawaluya yang terinternalisasi dalam kepribadian dan jati diri peserta didik.(Agus/Heri)

