BerandaPariwisataLibatkan Warga Lokal Kelola Destinasi Wisata di Harian Boho

Libatkan Warga Lokal Kelola Destinasi Wisata di Harian Boho

MEDAN, PILAR MERDEKA – Kabupaten Samosir memiliki sejumlah destinasi wisata yang mempesona dan religi. Setidaknya, di Kecamatan Harian Boho saja terdapat empat distinasi wisata, yakni Menara Pandang Tele, Puncak Sibeabea, Air Terjun Efrata dan Bukit Holbung. Dalam dua tahun terakhir, empat destinasi wisata itu terlihat mampu “menghipnotis” wisatawan untuk mengunjunginya.

Masing-masing dari empat lokasi tujuan wisata tersebut memiliki daya tarik tersendiri. Seperti di Menara Pandang Tele menjadi salah satu spot terbaik bila ingin menikmati indahnya Danau Toba dan alam sekitarnya. Menara empat lantai itu, tampak semakin menjulang keatas, berada di ketinggian 1479 mdpl.

Tiap lantai menara memberikan kesan berbeda ke semua sudut pandang sejauh mata menatap ke arah danau dan perkampungan penduduk terdekat. Semakin ke lantai empat menara, pandangan matapun seakan dimanjakan untuk lebih mengagumi keoriginalan wisata alam di wilayah Kabupaten Samosir.

Disana juga tersedia rest area, dimana pengunjung yang melintas singgah di kawasan itu, bisa duduk santai meneguk kopi, teh dan menguyah renyah makanan ringan khas daerah, seperti ombus-ombus dan lapet (berbahan tebung beras). Tentu leluasa melepaskan pandang ke pebukitan, pepohonan tumbuh hijau tanpa aturan dan besar kecil bebatuan berada disana sini pebukitan adalah suatu bukti kelestarian alami masih terjaga.

Harian Boho
Menara Pandang Tele saat ini sedang berbenah. (Foto. Monang Sitohang)

Kini, Menara Pandang Tele terlihat sedang berinovasi, perlahan berbenah nilai tambah fasilitas berupa jembatan penyeberangan berbentuk setengah tabung, pada bagian atas tertutup menekuk hingga ke sisi kiri dan kanan jembatan, sehingga pengunjung bisa lebih nyaman bila berjalan di jembatan tersebut, terhindar terik matahari dan hujan.

Fasilitas jembatan penyeberangan ini bisa menjadi dayak tarik baru. Para pelintas di sepanjang jalan dari dan ke arah Menara Pandang Tele yang tadinya tidak punya niat singgah, kemungkinan menjadi singgah. Karena, jembatan itu bisa dijadikan akses untuk lebih mempermudah dan memberikan rasa nyaman bagi para pelintas jalan baik dari jalur kiri maupun kanan yang mau singgah di Menara Pandang Tele.

Berbeda dengan Bukit Sibeabea, faktor daya tarik utama lebih kepada wisata religi, berdirinya sebuah Patung Yesus di ketinggian bukit sekitar 1.000 mdpl. Dan jalan meliuk-melingkar bagaikan ular yang ditata sedemikian rupa bisa menjadi penambah daya tarik bagi para wisatawan untuk menapakkan kaki di Bukit Sibeabea.

Harian Boho
Salah seorang pengunjung dari Kota Medan saat berkunjung ke Sibeabea, tampak jalan yang berliku-liku dan panorama Danau Toba dengan air nan biru. (Foto. Istimewa)

Sisi lain daya tarik puncak Bukit Sibeabea adalah memiliki spot yang cukup ideal, pandangan mata bebas ‘menjelajahi’ pesona alam sekelilingnya, panorama danau dengan air nan biru dan berlatar belakang pebukitan yang begitu esklusif bila diabadikan lewat berswafoto.

Lain halnya dengan Air Terjun Efrata atau Sampuran Sosor Dolok, daya tarik destinasi wisata yang satu ini adalah air beningnya, dari kejauhan terlihat bergulung-gulung bak kapas, jatuh menelusuri bukit tempatnya bersandar, dan bila mendekat percikan air pun seakan mengajak pengunjung agar segera berbasah ria dengannya.

Ketinggian Air Terjun Efrata dari atas ke permukaan tanah mencapai 25 meter, berada di Desa Sosor Dolok, berjarak relatif dekat dengan Menara Pandang Tele di Desa Turpuk Limbong, dan waktu tempuh sekitar 25 menit ke Air Terjun Efrata baik menggunakan kendaraan roda dua maupun empat. Untuk biaya masuk ke lokasi relatif murah, cuma Rp.7.000,- per orang. Fasilitas parkir memadai, tersedia gazebo, spot foto dan toilet.

Harian Boho
Cardo Tobing bersama istri dan anaknya saat berkunjung ke Air Terjun Efrata. (Foto. Istimewa)

Destinasi wisata Bukit Holbung punya daya tarik berbeda yang tidak dimiliki Menara Pandang Tele, Bukit Sibeabea dan Air Terjun Efrata. Bukit Holbung punya spesifikasi lokasi camping pilihan kawula muda, berada di Desa Hariara Pohan.

Trend camping Bukit Holbung, setidaknya sudah terekspos digemari muda-mudi sejak 8 tahun terakhir. Berdiameter kurang lebih 30 meter, panjang diatas 100 meter menjorok ke arah danau dan berposisi di ketinggian lebih dari 1.000 mdpl. Bagaimana asal usul, kapan dan siapa yang memulai Bukit Holbung dijadikan trend camping hingga kini belum diketahui informasi yang sahih.

Kata seorang pengunjung, datang dari Kota Pinang, Kabupaten Labuhan Batu Selatan, ia sudah dua kali ke Bukit Holbung, 2021 camping bersama teman-temannya. Dan lebaran ketiga 2024 (12/4-red), bersama adiknya cuma jalan-jalan saja.

Menurut pemuda kurus tinggi itu, saat terik matahari merupakan moment pas untuk camping. Meskipun Jam 12.00-15.00 WIB terasa menyengat, namun seakan terusir seiring hembusan angin, rasapun tetap nyaman menikmati pemandangan bebas sekitar Bukit Holbung bahkan hingga terlihat Pulau Samosir di seberang danau.

Harian Boho
Togar BJ Sibagariang, A.Md.Par, alumni Poltekpar Medan saat berkunjung ke Bukit Holbung. (Foto. Istimewa)

Itulah empat destinasi wisata masing-masing punya daya tarik tersendiri, berlokasi di Kecamatan Harian Boho, Kabupaten Samosir. Jika dijadikan satu paket perjalanan wisata, cukup praktis dan efisien. Waktu tempuh dari dan ke satu lokasi wisata mengendarai roda dua atau empat relatif singkat Urutannya, dari Menara Pandang Tele ke Air Terjun Efrata sekitar 25 menit, Air Terjun Efrata ke Bukit Sibeabea juga 25 menit dan Bukit Sibeabea ke Bukit Holbung waktu tempuh bisa 30 menit.

Hendra (49) warga Kota Medan, tahun lalu berwisata ke wilayah Samosir, dan menyempatkan diri singgah di Menara Pandang Tele mengatakan, sekecil apapun potensi suatu objek wisata kalau dikelola secara baik dan terencana akan memeberikan nilai tambah. Contoh kecil, how to say-bagaimana komunikasi yang baik warga setempat dengan wisatawan, juga patut menjadi perhatian.

Sebaliknya, sebesar apapun potensi satu destinasi wisata kalau salah kelolah, dikhawatirkan destinasi wisata tersebut bisa tertinggal atau jalan di tempat. Warga lokal sebagai bagian dari ujung tombak pelaku wisata, sangat perlu mendapat pelatihan/pembinaan dari pemerintah yang tujuannya agar warga lokal paham bagaimana menghadapi dan melayani wisatawan sebagai tamu sebaik mungkin. Sekedar contoh, menjaga sopan santun, tata keramah dan kejujuran adalah cerminan budaya lokal.

Alumni Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Medan, Togar BJ Sibagariang, A.Md.Par, Jurusan Manajemen Perjalanan Wisata, Angkatan 98, ini menyarankan agar masyarakat setempat/lokal haruslah dilibatkan dalam pengelolaan di empat destinasi wisata yang berada di Kecamatan Harian Boho, apalagi trend empat lokasi wisata itu tergolong baru. Intinya, bagaimana masyarakat lokal peduli dan sadar wisata, sehingga mereka sebagai ujung tombak turut merawat dan menjaga kelestarian lingkungan alam sekitar. (Monang Sitohang)

Iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments