Oleh Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_EC., M.Si, Peletak Fondasi Kabupaten Samosir
Dua puluh dua tahun bukan usia yang pendek bagi sebuah kabupaten. Pada titik ini, sebuah daerah seharusnya sudah mengenal dirinya—tahu kekuatannya, memahami kelemahannya, dan berani menentukan arah ke depan.
Kabupaten Samosir patut bersyukur karena sudah berjalan: pemerintahan ada, pembangunan tampak, dan kehidupan masyarakat relatif stabil. Namun jujur harus dikatakan: kita belum melompat.
Berjalan artinya roda pemerintahan berputar. Jalan dibangun, kantor berdiri, program dilaksanakan. Tetapi melompat berarti lebih dari itu: ada perubahan nyata dalam kualitas hidup warga, kemajuan yang dirasakan merata, dan arah pembangunan yang jelas serta berkelanjutan.
Pembangunan Terlihat, Hasilnya Belum Merata
Kemajuan fisik di Samosir mudah dilihat. Pariwisata tumbuh, terutama di desa-desa tertentu. Pendapatan daerah meningkat, dan Indeks Pembangunan Manusia perlahan naik. Namun jika kita turun ke desa-desa jauh dari pusat wisata, ceritanya berbeda. Banyak warga hidup dalam ekonomi informal yang rapuh, sementara kesempatan kerja belum merata.
Ketimpangan antar desa masih terasa nyata. Ini menunjukkan bahwa pembangunan kita masih lebih terlihat di permukaan, belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Berjalan sudah, tetapi lompatan kesejahteraan belum terasa bersama.
Pelayanan Publik: Dekat Tapi Belum Memudahkan
Pemekaran kabupaten bertujuan mendekatkan layanan kepada rakyat. Sekarang layanan memang lebih dekat, tetapi belum selalu lebih mudah. Mengurus izin, administrasi kependudukan, dan layanan dasar masih sering lambat dan berbelit. Digitalisasi hadir, tetapi sering berhenti pada aplikasi, belum menjadi cara kerja yang benar-benar membantu warga.
Jika masyarakat masih merasa lelah berurusan dengan birokrasi, maka kita belum melompat menuju pemerintahan yang melayani. Birokrasi harus berani berubah: lebih sederhana, cepat, dan berpihak pada hasil. Banyak program masih diukur dari anggaran terserap, bukan dampaknya bagi masyarakat. Inovasi ada, tetapi belum menjadi kebiasaan.
Pariwisata Tumbuh, Lingkungan Mulai Tertekan
Pariwisata adalah kekuatan utama Samosir. Namun Samosir bukan wilayah biasa. Terletak di jantung Danau Toba, ia memiliki ekosistem purba yang rapuh dan menjadi ruang hidup masyarakat adat. Tekanan terhadap hutan, air, dan ruang hidup mulai terasa. Jika pariwisata dikejar semata melalui angka kunjungan dan bangunan besar, kita berisiko merusak sumber kehidupan itu sendiri.
Kerusakan ekologis bukan sekadar masalah lingkungan; ia juga berdampak pada ekonomi, sosial, dan moral. Pembangunan yang eksploitatif dapat memberi keuntungan jangka pendek, tetapi merugikan generasi mendatang.
Membangun Dengan Kesadaran Ekologis
Ke depan, pembangunan Samosir harus berlandaskan kesadaran ekologis jangka panjang, selaras dengan RPJMD, SDGs (Sustainable Development Goals) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dan agenda Danau Toba. Pendekatan ekoteologis menegaskan bahwa alam bukan sekadar sumber daya, melainkan titipan moral dan budaya yang harus dijaga.
Kebijakan publik, pariwisata, dan investasi harus diarahkan untuk mengoptimalkan kesejahteraan warga sambil menjaga daya dukung ekosistem, melalui pariwisata berbasis desa dan budaya, konservasi hutan, serta pengelolaan sumber daya air yang bijak. Inilah lompatan strategis yang menjadikan Samosir maju secara berkelanjutan, adil, dan harmonis dengan alam serta warisan budaya.
Mendengar Warga: Kunci Melompat
Lompatan tidak akan terjadi jika pembangunan hanya ditentukan dari balik meja. Investasi dan proyek harus dimulai dengan mendengar suara masyarakat. Warga bukan penonton, apalagi penghambat, tetapi pemilik sah ruang hidupnya.
Partisipasi warga sejak tahap perencanaan, disertai informasi jujur dan persetujuan bebas, membuat pembangunan lebih kuat, berumur panjang, dan diterima. Tanpa itu, yang muncul hanyalah konflik, resistensi, dan ketidakpercayaan.
Pariwisata Berkelanjutan dan Desa Sebagai Motor Perubahan
Samosir harus melompat dari pariwisata cepat menuju pariwisata berkelanjutan, yang menekankan desa sebagai unit pembangunan. Wisata budaya, alam, dan pengalaman lokal memberi manfaat langsung bagi warga tanpa merusak lingkungan. Desa menjadi pusat inovasi ekonomi dan pelestarian budaya, sementara pemerintah menyiapkan regulasi, pendanaan, dan monitoring berbasis data.
Pendekatan ini juga menjawab isu lingkungan secara sistematis: konservasi air dan hutan, pengelolaan sampah, dan mitigasi risiko bencana menjadi bagian dari strategi pembangunan. Sehingga pertumbuhan ekonomi dan pelestarian alam berjalan seiring, bukan saling bertentangan.
Penutup: Saatnya Berani Melompat
Samosir di usia 22 tahun telah membuktikan mampu berjalan sendiri. Itu pencapaian penting. Namun tantangan zaman menuntut lebih dari sekadar berjalan. Kita perlu keberanian melompat—menuju pembangunan yang adil, pelayanan manusiawi, dan pengelolaan alam bijak.
Melompat bukan berarti tergesa-gesa. Melompat berarti memilih arah yang benar, menyiapkan pijakan kuat, dan melibatkan semua pihak dalam perjalanan. Daerah yang benar-benar maju bukan yang paling banyak membangun, tetapi yang paling dirasakan manfaatnya oleh rakyat dan paling mampu menjaga warisan alam dan budaya bagi generasi mendatang.

