PILAR MERDEKA— Kisah perjalanan Baedah akhirnya membawa dirinya kembali ke tanah air. Setelah lebih dari dua dekade menjalani kehidupan di Yordania, Baedah kini pulang ke Indonesia bersama kelima anaknya untuk memulai kehidupan baru bersama keluarga di tanah kelahirannya.
Baedah tiba di Indonesia dari Amman, Yordania, pada Jumat (25/9/2026). Kedatangan Baedah bersama kelima anaknya diterima oleh Direktur Reintegrasi dan Penguatan Keluarga Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Hadi Wahyuningrum, di Lounge Pekerja Migran Indonesia Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.
Kepulangan tersebut menjadi langkah awal bagi Baedah dan kelima anaknya untuk kembali membangun kehidupan di Indonesia. KP2MI memastikan pendampingan tidak berhenti ketika Baedah dan anak-anaknya tiba di tanah air. Mereka akan diantar hingga ke kediaman di Majalengka, Jawa Barat, sekaligus mendapatkan pendampingan untuk menjalani proses reintegrasi keluarga.
Sekelumit Kisah Baedah
Baedah tiba di Yordania pada 2003. Di negara tersebut, ia sempat bekerja melalui agen selama kurang lebih empat tahun dengan empat majikan. Dalam perjalanan hidupnya di Yordania, Baedah menghadapi sejumlah kendala terkait status keimigrasian dan ketenagakerjaan.
Pada 2010, Baedah membangun kehidupan bersama seorang warga negara Mesir. Dari kehidupan tersebut, mereka dikaruniai lima orang anak.
Namun, perjalanan keluarga Baedah tidak sepenuhnya mudah. Hingga kepulangannya ke Indonesia, kelima anaknya belum memiliki dokumen kelahiran. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu ditindaklanjuti setelah mereka tiba di tanah air.
Karena itu, KP2MI melalui Direktorat Reintegrasi dan Penguatan Keluarga akan mendampingi Baedah dan anak-anaknya setelah sampai di Majalengka. Pendampingan tersebut mencakup penyelesaian berbagai kebutuhan administrasi dan layanan dasar yang diperlukan keluarga.
“Kami akan membantu proses kepulangan Baedah dan anak-anak sampai ke Majalengka. Setelah itu, KP2MI akan membantu menindaklanjuti kebutuhan administrasi dan reintegrasi keluarga, termasuk pengurusan dokumen administrasi dan akta kelahiran anak, pendaftaran BPJS Kesehatan, kebutuhan pendidikan,” ujar Yayuk, sapaan Hadi Wahyuningrum.
Tidak hanya persoalan administrasi, KP2MI juga akan membantu memenuhi kebutuhan kesehatan anak-anak Baedah. Fasilitasi tersebut antara lain mencakup kebutuhan khitan bagi anak yang memerlukannya.
KP2MI juga akan memberikan dukungan kesehatan mental bagi Baedah dan kelima anaknya sebagai bagian dari proses reintegrasi keluarga setelah mereka kembali ke Indonesia.
“Harapannya, keluarga ini dapat kembali menjalani kehidupan dengan baik setelah berada di tanah air,” imbuhnya.
Sebelum tiba di Indonesia, Baedah dan kelima anaknya mendapatkan pendampingan dari KBRI Amman dalam perjalanan dari Amman hingga ke tanah air. Sebelumnya, KBRI Amman juga telah memberikan bantuan selama proses penanganan di Yordania, termasuk dukungan logistik dan kebutuhan lainnya.
KBRI Amman turut berupaya mendapatkan data dokumen paspor Baedah melalui pencarian biometrik. Namun, data tersebut belum ditemukan.
Dukungan pemerintah Indonesia tersebut akhirnya mengantarkan Baedah dan kelima anaknya kembali ke tanah air. Bagi Baedah, kepulangan ini bukan sekadar perjalanan meninggalkan Yordania, tetapi juga menjadi kesempatan untuk kembali berkumpul dengan keluarga dan membangun kehidupan yang lebih baik di Indonesia.
Baedah menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah Indonesia atas dukungan yang diberikan sehingga dirinya dapat kembali ke tanah air bersama kelima anaknya.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin yang sudah membantu kepulangan saya dan anak-anak ke Indonesia. Saya ingin pulang karena ingin membahagiakan anak-anak dan ibu saya. Saya berharap bisa memulai kehidupan yang lebih baik bersama keluarga di Indonesia,” ujar Baedah.
Kepulangan Baedah bersama kelima anaknya menjadi awal dari proses panjang reintegrasi keluarga di tanah air. Dengan pendampingan KP2MI, Baedah dan anak-anaknya diharapkan dapat memperoleh dokumen kependudukan, akses kesehatan dan pendidikan, serta dukungan lain yang dibutuhkan untuk kembali menjalani kehidupan bersama keluarga di Indonesia. (*/di)

