MEDAN, PILAR MERDEKA – Sinaok merupakan cemilan atau makanan ringan dari bulir padi yang masih muda (padi masih setengah menguning) dipilah pilih untuk diolah, caranya digongseng. Untuk variasi rasa, tak jarang dicampur gula pasir.
Tradisi sajian sinaok bagi sebagian warga Samosir menjadi sebuah pertanda bahwa tak lama lagi panen Akbar segera tiba.
Hal itu disampaikan Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, penggiat lingkungan berbasis kebudayaan dan geopark serta putra Sianjur Mulamula, Kabupaten Samosir, dalam wawancara dengan media Pilar Merdeka.Com beberapa hari lalu.
Bagi Wilmar, cara masyarakat di Sianjur Mulamula mengelola pertanian tradisional menyimpan banyak nilai yang semakin penting untuk dipahami kembali.
Kesuburan Tanah
Dalam sistem pertanian tradisional, kesuburan tanah dijaga dengan mengandalkan kearifan lokal dan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun.
Setelah panen, batang padi dan sisa tanaman tidak langsung dibuang. Sisa tersebut dibiarkan membusuk beberapa waktu untuk mengembalikan unsur organik ke dalam tanah.
Lahan juga diberi kesempatan untuk beristirahat sebelum kembali digunakan. Setelah waktunya tiba, persiapan dimulai.

Pada tahap pertama, petani menggunakan tenaga kerbau untuk membajak sawah. Tahap ini dikenal dengan istilah _maninggala_.
Beberapa minggu kemudian, ketika rumput dan ilalang telah membusuk, dilakukan tahap berikutnya yang disebut _manisir_. Pekerjaan tersebut juga menggunakan tenaga kerbau, tetapi dengan alat berbentuk seperti sisir dengan panjang sekitar tiga meter.
Cara tersebut memperlihatkan bahwa pertanian tradisional tidak hanya bergantung pada alat, tetapi juga pada pengetahuan mengenai waktu, kondisi tanah, dan proses alam.
Menanam Jadi Kerja Bersama
Setelah lahan dibiarkan beberapa minggu dan siap ditanami, bibit padi yang sebelumnya telah disemaikan mulai dipindahkan ke sawah. Bibit tersebut disebut _same_.
Penanaman dilakukan secara manual dan biasanya dikerjakan bersama-sama oleh komunitas petani. Bibit ditancapkan ke tanah dengan kedalaman dan jarak tertentu.
Dahulu, pekerjaan ini adalah bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Kini, banyak yang sudah beralih ke sistem upahan.
Dalam kepustakaan mengenai pertanian Batak Toba, kerja bersama tersebut dikenal melalui konsep _marsiadapari_ atau _marsirimpa_, yang dipahami sebagai bentuk gotong royong dan solidaritas masyarakat.
Di sawah, pekerjaan bukan hanya tentang siapa yang menanam lebih cepat. Ada kebersamaan, tanggung jawab, saling membantu, dan rasa memiliki. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa bertani tradisional Batak Toba mengandung nilai kekeluargaan, kerja sama, tolong-menolong, tanggung jawab, dan saling menghargai.
Air Dikelola Bersama
Kesuburan tanah saja tidak cukup. Air untuk persawahan di Samosir bersumber dari tiga sungai induk, lalu dialirkan ke sawah penduduk melalui saluran tersier sesuai kebutuhan setiap lahan.
Pengaturan air berlangsung secara berkesinambungan, mulai dari masa penanaman hingga panen. Artinya, keberhasilan pertanian juga bergantung pada keteraturan dalam mengelola sumber air.

Dalam sistem tradisional tersebut, tanah dan air menjadi dua unsur penting yang harus dijaga bersama-sama.
Bagi masyarakat Batak, proses pertanian tidak berhenti pada pekerjaan fisik.
Upacara adat dilakukan dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Pencipta, yang dipandang sebagai sumber segala kehidupan. Ritual menyertai proses pertanian, mulai dari penanaman same hingga menjelang panen.
Ketika panen tiba, rasa syukur diwujudkan melalui pesta gotilon atau syukuran panen.
Dengan demikian, pertanian memiliki dimensi spiritual. Ada permohonan sebelum hasil diperoleh, dan ada rasa syukur ketika hasil panen tiba.
Istilah mangase taon dalam kepustakaan Batak juga berkaitan dengan persembahan atau permohonan di ladang. Hal itu memperlihatkan hubungan erat antara kegiatan pertanian dan kehidupan ritual masyarakat Batak.
Ke Sistem Upahan
Namun, zaman telah mengubah banyak hal.
Wilmar menyebut salah satu tantangan terbesar saat ini adalah ketergantungan pada teknologi dan bahan kimia, baik dalam pengolahan lahan maupun pemupukan.
Perubahan juga terjadi pada fungsi lahan. Sebagian sawah padi telah beralih menjadi lahan perkebunan atau pertanian komoditas lain, seperti kopi dan cabai.
Persoalan air turut menjadi tantangan. Sumber air tidak selalu mencukupi dan tidak tersedia secara teratur.
Di sisi lain, harga gabah menjadi persoalan ekonomi bagi petani. Harga yang diterima sering kali belum sebanding dengan tenaga, biaya, dan modal yang telah dikeluarkan.
Dahulu, pertanian dilakukan secara murni organik dengan teknologi tradisional, mulai dari mengolah tanah hingga memanen. Kini, mekanisasi dan teknologi modern banyak digunakan dalam pengolahan lahan dan pemupukan. Tahap penanaman masih banyak menggunakan tenaga manusia.
Perubahan paling terasa juga terlihat dalam cara masyarakat bekerja. Jika dahulu pekerjaan pertanian dilakukan dengan gotong royong, kini penanaman lebih banyak menggunakan sistem upahan.
Pergeseran tersebut menunjukkan perubahan dari sistem pertanian yang kuat dengan prinsip kebersamaan menuju sistem kerja yang lebih individual dan ekonomis.

Sinaok, Suka Cita Sebelum Panen
Di tengah perubahan tersebut, ada satu tradisi yang memperlihatkan betapa dekatnya masyarakat Batak dengan padi, sinaok.
Menurut Wilmar, sebelum padi benar-benar menguning dan siap dipanen, sebagian bulir padi yang masih muda dapat dipilih untuk diolah menjadi hidangan.
Bagi masyarakat, hal itu menjadi pertanda bahwa hasil sawah baik dan panen sudah mulai dinantikan. Padi muda tersebut kemudian digongseng dan diolah menjadi hidangan untuk keluarga dan komunitas petani.
Ada suasana suka cita sebelum panen raya benar-benar dimulai. Sinaok menjadi pengantar menuju masa panen.
Padi belum seluruhnya dipanen, tetapi sebagian hasilnya sudah dapat dinikmati bersama. Di situlah letak kehangatan tradisi tersebut. Hasil sawah bukan hanya milik satu orang petani. Ada keluarga dan komunitas yang ikut merasakan kegembiraan menunggu panen.
Jadi Hidangan Tradisional
Proses pengolahan sinaok dilakukan secara bertahap. Bulir padi yang telah dipetik ditanggalkan dari tangkainya, lalu ditampi untuk memisahkan bulir yang kosong atau lapung.
Selanjutnya disiapkan kuali atau hudon tano di atas api kayu bakar. Padi digongseng hingga matang, kemudian dalam keadaan masih panas ditumbuk dengan alat tumbuk tradisional hingga bentuknya pipih. Hasil tumbukan ditampi kembali untuk memisahkan gabah atau kulit padi.
Setelah seluruh proses selesai, muncul aroma khas dan cita rasa yang menjadi ciri hidangan tersebut. Sinaok kemudian disajikan kepada keluarga dan komunitas sebagai bentuk suka cita menyambut panen.
Dalam berbagai sumber kuliner Batak Toba, proses ini berkaitan erat dengan tipa-tipa yang dibuat melalui perendaman, penggongsengan, penumbukan, dan penampian. Dalam wawancara ini, istilah sinaok tetap digunakan sesuai yang disampaikan Wilmar.
Bukan Sekadar Makanan
Bagi Wilmar, setiap tahapan pengolahan sinaok memiliki nilai budaya. Memilih padi, mengolah, menggongseng, menumbuk, menampi, hingga menyajikannya memperlihatkan hubungan panjang antara manusia, tanah, padi, keluarga, dan komunitas.
Karena itu, melestarikan sinaok tidak cukup hanya dengan mempertahankan resep. Pengetahuan tentang cara membuatnya juga harus dijaga. Hubungannya dengan pertanian padi harus dipahami. Nilai kebersamaan yang menyertainya juga perlu diwariskan. Begitu pula makna budaya di balik makanan tersebut.
Wilmar menilai literasi budaya perlu dilakukan karena sistem pertanian Batak mengandung banyak nilai yang perlu dilestarikan.
Menurutnya, makanan organik khas Batak juga menunjukkan bahwa peradaban Batak tidak dapat dilepaskan dari beras.
Beras bukan hanya makanan. Dalam kehidupan adat Batak, beras memiliki tempat dalam berbagai tahapan kehidupan, mulai dari kelahiran, masa akil balig, kedewasaan, perkawinan hingga kematian.
Beras juga diberikan oleh pihak hula-hula melalui pemberian yang dikenal dalam ungkapan boras sipir ni tondi, yaitu beras yang memiliki makna penguatan tondi atau jiwa.
Karena itu, padi dan beras memiliki hubungan yang jauh lebih luas daripada sekadar kebutuhan pangan.
Padi, Keluarga, dan Identitas
Penelitian mengenai pangan Batak Toba juga menunjukkan bahwa eme atau padi merupakan tanaman yang sangat dimuliakan karena menjadi sumber tenaga dan kehidupan masyarakat.
Dalam perjalanan padi menuju beras, sinaok memiliki posisi yang menarik. Padi belum sepenuhnya menjadi beras, tetapi sebagian hasilnya sudah dapat dinikmati.
Sinaok menjadi tanda bahwa panen mulai dinantikan. Ia menghubungkan petani dengan hasil kerjanya, keluarga dengan makanan, dan komunitas dengan kegembiraan menjelang panen..
Karena itu, Wilmar menyebut sinaok sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat Batak. Baginya, makanan tersebut bukan sekadar hidangan.
Kembali ke Akar Budaya
Wilmar berharap generasi muda tidak kehilangan hubungan dengan akar budayanya.
Menurutnya, generasi yang mampu tetap berakar pada budaya leluhur akan lebih siap menghadapi zamannya dengan tegar, percaya diri, dan bangga terhadap identitasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kembali memahami pertanian dan kuliner tradisional. Sebab, menurutnya, yang natural itu menyehatkan.
Pertanian juga bukan hanya tentang menghasilkan pangan, tetapi tentang bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan tanah, air, makanan, keluarga, dan budaya.
Lappet, sinaok atau tipa-tipa, serta berbagai sajian adat lainnya menunjukkan kuatnya hubungan beras dengan kehidupan masyarakat Batak.
Harapan Wilmar untuk sepuluh tahun ke depan sederhana, tetapi besar. Pertanian padi dan kuliner tradisional Batak diharapkan tidak hanya tetap ada. Keduanya perlu semakin dihargai, dipelajari, diwariskan, dan dikembangkan oleh generasi muda tanpa kehilangan akar budayanya.
Sebab, ketika sebuah generasi masih mengenal tanah tempat leluhurnya bertani, memahami bagaimana padi ditanam, mengetahui bagaimana hasilnya diolah, dan mengerti mengapa makanan itu memiliki makna, yang diwariskan bukan hanya sebuah resep.
Yang diwariskan adalah pengetahuan tentang kehidupan.
“Bertani adalah kehidupan.”
Dan di antara padi yang mulai menguning, tangan-tangan yang bekerja, serta sinaok yang disajikan sebelum panen raya, tersimpan sebuah pesan: tradisi akan tetap hidup selama masih ada generasi yang mau mengenal, menghargai, dan meneruskannya.
Horas, horas, horas! (Monang Sitohang)

