MEDAN, PILAR MERDEKA – Di tengah derasnya arus kuliner modern yang terus bermunculan, Kue lepat tradisional Batak, biasa disebut lappet, tetap bertahan sebagai salah satu warisan kuliner tradisional yang tidak kehilangan penggemarnya.
Cita rasanya yang autentik dan proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional membuat panganan tradisional ini tetap dicari oleh berbagai kalangan, mulai dari masyarakat lokal hingga para pendatang.
Kue Lepat menjadi salah satu sajian yang sulit dilupakan bagi siapa saja yang pernah mencicipinya. Terbuat dari bahan dasar tepung beras atau tepung ketan, kue tradisional ini memiliki isian kelapa parut yang dipadukan dengan irisan gula merah di bagian tengahnya. Seluruh adonan kemudian dibentuk menyerupai limas dan dibungkus menggunakan daun pisang sebelum dikukus hingga matang.
Kue lepat Batak ini menghadirkan perpaduan rasa manis dan gurih yang begitu khas. Teksturnya empuk hingga kenyal, sementara aroma harum daun pisang yang keluar saat proses pengukusan menjadi ciri yang langsung membangkitkan selera. Kesederhanaan bahan yang digunakan justru melahirkan cita rasa yang telah bertahan dari generasi ke generasi.

Panganan khas ini hingga kini masih menjadi pilihan masyarakat meski berbagai jenis kue modern semakin mudah ditemukan. Keaslian rasa yang tetap dipertahankan menjadi alasan mengapa panganan tradisional ini tidak pernah kehilangan tempat di hati para penikmat kuliner.
Selama ini banyak orang beranggapan bahwa untuk menikmati Kue Lepat Batak, mereka harus datang langsung ke kawasan Danau Toba, seperti Toba, Tarutung, Samosir, dan daerah Batak lainnya. Namun kini anggapan tersebut tidak lagi sepenuhnya benar.
Kue Lepat Batak ternyata dapat dengan mudah ditemukan di pusat Kota Medan, tepatnya di Seng Hap 1881 Kesawan yang berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kota Medan. Kehadiran pusat produk lokal tersebut memberikan kemudahan bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin menikmati beragam kuliner khas Sumatera Utara tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Seng Hap 1881 Kesawan menghadirkan berbagai produk unggulan UMKM dari sejumlah daerah di Sumatera Utara. Tidak hanya menawarkan aneka makanan tradisional, pengunjung juga dapat menemukan produk fesyen, kerajinan tangan, hingga berbagai hasil karya UMKM lainnya yang ditata dalam satu lokasi.
Berbagai kuliner tradisional tersusun rapi di rak-rak yang tersedia. Pengunjung dapat memilih aneka cemilan seperti getuk, bolen, Sus, dadar, lepat Batak, dan beragam panganan khas lainnya. Seluruh produk dikemas dengan rapi serta dilengkapi informasi mengenai nama UMKM pembuat dan masa berlaku makanan. Harganya juga tergolong terjangkau sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Suasana mencicipi kuliner tradisional itu juga dirasakan oleh Pak Fuad, tim IT media dari Jakarta. Dalam kunjungannya ke Seng Hap 1881 Kesawan, ia bertemu dengan sejumlah pemilik media di Kota Medan, di antaranya AuraIndonesia.id Maha Rajagukguk, Deteksi.co Dofuzogamo Gaho, SH, dan Pilarmerdeka.com Monang Sitohang.

Di tengah beragam pilihan makanan tradisional yang tersedia, mereka memilih menikmati aneka kue diantaranya Lepat Batak. Gigitan pertama menghadirkan perpaduan tekstur lembut dengan manisnya gula merah yang langsung terasa.
“Rasanya enak, lembut, gula merahnya terasa banget, jadi rasanya manis dan ukurannya juga lumayan besar dan padat,” ujar Monang.
Kesan serupa juga disampaikan Maha Rajagukguk. Menurutnya, cita rasa Kue Lepat Batak memang enak dan layak diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.
Ia berharap keberadaan pusat kuliner tradisional seperti Seng Hap 1881 Kesawan terus berkembang. Menurutnya, akan sangat baik apabila setiap daerah di Sumatera Utara memiliki kesempatan menampilkan jajanan khasnya di satu tempat yang mudah dijangkau masyarakat.
Dengan konsep seperti itu, masyarakat yang belum pernah mencicipi makanan khas dari suatu daerah tidak perlu lagi melakukan perjalanan jauh. Semua dapat ditemukan dalam satu lokasi yang menjadi etalase kekayaan kuliner Sumatera Utara.
Harapan tersebut juga dinilai memiliki potensi besar untuk memperkenalkan budaya daerah kepada wisatawan. Kawasan Kesawan hingga kini masih menjadi salah satu tujuan yang ramai dikunjungi, termasuk oleh wisatawan mancanegara. Saat kunjungan berlangsung, terlihat sekitar empat wisatawan asing datang ke Seng Hap 1881 Kesawan untuk berbelanja.
Kehadiran wisatawan tersebut menjadi gambaran bahwa kuliner tradisional bukan sekadar makanan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang dapat dinikmati siapa saja. Di tengah Kota Medan, Kue Lepat Batak membuktikan bahwa warisan rasa dari masa lalu masih mampu menghadirkan kehangatan, nostalgia, dan pengalaman kuliner yang tetap relevan hingga hari ini. (Mons)

