BerandaFeatureDi Tengah Hujan Deras, Potret Haru Mereka yang Tak Pernah Menyerah

Di Tengah Hujan Deras, Potret Haru Mereka yang Tak Pernah Menyerah

MEDAN, PILAR MERDEKA – Hujan deras menjadi saksi sebuah potret kehidupan yang begitu nyata dan menyentuh hati. Di bawah langit yang gelap, ditemani angin kencang dan suara petir yang sesekali menggelegar, orang berteduh menunggu cuaca membaik di deretan ruko yang tutup. Kecuali satu yang masih setengah terbuka.

Wajah-wajah yang kumpul di tempat sederhana itu menanti hujan reda. Meski latar mereka datang dari latar belakang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu sama-sama berjuang demi bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Seorang pengamen berdiri di dekat pintu ruko. Penampilannya tampak rapi dan necis. Ia mengenakan sepatu kasual berwarna putih, celana jeans, kaos dalam berwarna coklat serta kemeja yang dibiarkan terbuka tanpa dikancing. Di sampingnya tergantung sebuah gitar yang menjadi teman sekaligus alat mencari nafkah setiap hari.

Pria itu hanya berdiri sambil menunggu hujan reda sambil mencoba membungkus gitarnya dari hujan yang terbawa angin. Tidak ada panggung, tidak ada keramaian, dan tidak ada alunan musik yang dimainkan saat itu. Namun kehadirannya menggambarkan perjuangan seorang pencari rezeki yang harus menghadapi berbagai kondisi demi mendapatkan penghasilan.

Seorang wanita pekerja juga terlihat duduk di lantai ruko. Di tangannya terdapat sebuah tas dan plastik kecil yang dibawanya. Ia tampak lelah setelah pulang bekerja dan memilih berteduh sambil menunggu hujan berhenti.

Tidak ada percakapan panjang. Hanya suasana hening yang sesekali dipecahkan oleh suara petir dan suara hujan yang menghantam jalan dan atap bangunan. Wanita itu menunggu dengan sabar sebelum melanjutkan perjalanan pulang.

Seorang tukang becak bermotor atau betor tampak duduk di dalam kendaraannya. Pria separuh baya itu memilih tetap berada di becaknya sambil memperhatikan keadaan sekitar berharap ada penumpang yang hendak diantar.

BACA JUGA  Fakta-fakta Heroik di Seputar Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya

Hujan yang turun deras membuat aktivitas mencari penumpang terhenti. Namun ia tetap menunggu. Bagi banyak pekerja harian, setiap waktu memiliki nilai karena berkaitan langsung dengan pendapatan yang akan dibawa pulang.

Di seberang jalan, tepat di sebuah simpang Titi Sewa, perbatasan antara Kota Medan dan Deli Serdang, seorang pemuda mengenakan jas hujan berbahan plastik terlihat mengatur kendaraan yang melintas. Di tengah guyuran hujan, ia tetap menjalankan tugasnya walaupun basah kuyup.

Yang paling menyentuh, tidak terlihat seorang pun memberikan uang kepada pemuda tersebut. Meski demikian, ia terus berdiri dan mengatur arus kendaraan tanpa meninggalkan posisinya.

Perjuangan hidup kembali terlihat ketika sepasang suami istri yang kelihatan tidak muda lagi datang mendekati ruko yang paling sudut dengan menggunakan sepeda motor yang telah dimodifikasi menjadi becak barang. Keduanya tampak basah kuyup diguyur hujan.

Di kendaraan mereka terdapat dua ember yang digunakan untuk membawa sisa makanan. Dari aktivitas yang dilakukan, pasangan tersebut diduga bekerja sebagai pengepul sisa makanan.

Meski tubuh mereka basah dan cuaca tidak bersahabat, keduanya tetap melanjutkan pekerjaan dengan menembus hujan deras malam itu, tanpa jas hujan. Tidak ada keluhan yang terdengar. Mereka hanya fokus menjalankan aktivitas yang menjadi sumber penghidupan.

Disisi lain, seorang ibu berhijab pemilik ruko baju bayi pemilik ruko yang masih membuka setengah pintunya. Ia menanti anaknya pulang latihan taekwondo.

“Saya jual perlengkapan bayi usia 0-4 tahun. Dulu ruko saya penuh, stroller aja sampai ke teras. Tapi sekarang di era digital pembeli udah banyak berkurang,” ujar ibu yang sudah 11 tahun berjualan di Jalan Letda Sujono, Kota Medan, Minggu (31/5).

Sedangkan di tempat terpisah, terdengar keluhan seorang sopir angkot jurusan Terminal Pinang Baris–Pasar X Tembung sedang menunggu penumpang di tengah hujan. Wajahnya terlihat lelah dan lesu setelah seharian bekerja.

BACA JUGA  Ketua FKUB Kota Medan Tutup Kegiatan FKUB Expo 2024

“Baru dapat untuk setoran saja, padahal sudah Jam 20.44 WIB. Gaji belum dapat. Nasib…nasib…tahu gini tidak usah narik tadi,” ujarnya lirih dari dalam angkot.

Sopir angkot itu tetap bertahan di balik kemudi sambil berharap ada penumpang yang datang. Hujan deras membuat jalanan sepi dan aktivitas masyarakat berkurang.

Perjuangan hidup di tengah hujan malam itu menjadi gambaran nyata tentang kerasnya kehidupan yang dijalani banyak orang. Pengamen, pekerja yang baru pulang kerja, tukang betor, pemuda pengatur kendaraan, hingga pasangan pengepul sisa makanan dan supir angkot, semuanya memiliki cerita masing-masing.

Mereka mungkin tidak saling mengenal. Mereka juga tidak berbicara satu sama lain. Namun mereka dipertemukan oleh hujan dan oleh satu kesamaan yang kuat, yaitu semangat untuk terus berjuang.

Di balik derasnya hujan, tersimpan pelajaran berharga bahwa banyak orang tetap bekerja, tetap bertahan, dan tetap berharap demi kehidupan yang lebih baik. Mereka adalah wajah-wajah sederhana yang setiap hari berjuang tanpa banyak diketahui orang.

Malam itu, hujan bukan hanya membawa air yang membasahi jalanan. Hujan juga memperlihatkan realita kehidupan tentang orang-orang yang tidak pernah berhenti berusaha demi keluarga dan masa depan mereka. (Monang Sitohang)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH