BerandaFeaturePenghayatan Sang Pengamen Jalanan Menggesekkan Senar Biola Memukau Pendengar

Penghayatan Sang Pengamen Jalanan Menggesekkan Senar Biola Memukau Pendengar

MEDAN, PILAR MERDEKA – Alunan biola terdengar di tengah kesibukan kawasan Kesawan, tepatnya di persimpangan Jalan Ahmad Yani, Kota Medan. Di antara kendaraan dan pengunjung yang menikmati Car Free Day (CFD), seorang pria tampak berdiri memainkan biola dengan penuh penghayatan.

Di hadapannya, sebuah kotak biola terbuka serta biola dan senar diletakkan di atas aspal. Sebuah pengeras suara portabel berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sesekali, pengunjung CFD menghampiri dan memasukkan uang ke dalam kotak tersebut.

Pemandangan sederhana itu menyimpan cerita tentang perjuangan, kecintaan terhadap musik, dan usaha seorang ayah dalam mencari nafkah melalui alat musik yang tidak mudah dikuasai.

Pria tersebut bernama Andi. Ia bukan sekadar pengamen jalanan yang mengandalkan alunan musik untuk menarik perhatian orang. Di balik kemampuannya memainkan biola, ada perjalanan belajar panjang yang kini membawanya menjadi pemain sekaligus pengajar biola.

Empat Tahun Menekuni Biola

Andi mengaku mulai serius menekuni biola sekitar empat tahun lalu. Sebelumnya, ia bekerja dan hanya belajar biola sekadar mengisi waktu.

Namun, rasa penasaran yang awalnya sederhana perlahan berubah menjadi ketertarikan mendalam. Ia kemudian memutuskan untuk menekuni alat musik tersebut hingga akhirnya mampu menjadikannya sebagai sumber penghasilan.

“Kalau dulu masih pekerja. Jadi serius belajar dan jadi pemain biola 4 tahunan,” ujar Andi kepada Pilar Merdeka.Com, Minggu (25/10) setelah bermain biola di persimpangan Jalan Ahmad Yani.

Menurutnya, proses belajar pada awalnya berlangsung cukup lama karena belum dilakukan secara serius. Setelah memiliki tekad untuk mendalami biola sebagai pekerjaan, ia mulai lebih fokus berlatih.

Kini, selain bermain di jalanan, Andi juga menerima murid les privat. Bahkan, kegiatan mengamen di kawasan Kesawan dimanfaatkannya sebagai tempat untuk mengajar sekaligus memberikan pengalaman tampil kepada murid-muridnya.

Melatih Mental Murid

Bagi Andi, bermain biola di ruang publik bukan hanya tentang mendapatkan uang. Ada kesempatan lain yang ingin ia berikan kepada murid-muridnya, yaitu pengalaman tampil di hadapan orang banyak.

Ketika tampil di kawasan CFD, ia sesekali memberikan kesempatan kepada muridnya untuk membawakan satu atau dua lagu.

Dengan cara itu, murid dapat menguji kemampuan sekaligus melatih keberanian tampil di depan umum.

“Saya di sini sekalian perform, sekalian ngamen. Sekaligus nanti ada murid saya yang bisa sudah membawakan satu, dua lagu di sini mencobanya,” jelasnya.

Ia ingin murid-muridnya tidak hanya mampu memainkan lagu saat latihan, tetapi juga berani menunjukkan kemampuan ketika berada di hadapan penonton.

BACA JUGA  Lestarikan Jamu Tradisional, Pasutri Ini Jualan Jawara di CFD Kesawan

Menurut Andi, kemampuan bermusik perlu dibarengi kesiapan mental. Sebab, memainkan alat musik di ruang publik memiliki tantangan tersendiri dibandingkan berlatih sendiri.

Mengikuti Selera Pendengar

Dalam memainkan biola di jalanan, Andi memiliki strategi tersendiri untuk menarik perhatian pengunjung.

Ia berusaha membawakan lagu-lagu yang sedang populer atau viral agar lebih mudah dikenali oleh orang yang mendengarnya.

Baginya, memainkan lagu sesuai keinginan pribadi belum tentu membuat orang lain tertarik. Karena itu, seorang pemain musik jalanan perlu memahami selera pendengar.
“Lagu pertama yang saya mainkan saat sudah bisa bermain biola Asmalibrasi, Sepanjang Kenangan,” ungkapnya.

Ia juga memiliki prinsip untuk tidak terlalu mengutamakan ego dalam memilih lagu.

“Buang egonya, jadi ikutin update lagu terbaru,” kata Andi.

Prinsip tersebut menjadi salah satu cara agar permainan biolanya tetap dekat dengan masyarakat. Lagu yang dikenal pendengar dapat membuat mereka berhenti sejenak, menikmati alunan musik, bahkan memberikan uang sebagai bentuk apresiasi.

Dinamika Buat Biola Memiliki Jiwa

Bagi Andi, keindahan permainan biola tidak hanya terletak pada ketepatan nada. Ada unsur penting yang membuat sebuah lagu terdengar hidup, yakni dinamika.

Dinamika merupakan perubahan keras dan lembutnya suara dalam permainan musik. Unsur ini memberikan warna, rasa, dan emosi sehingga alunan biola tidak terdengar datar.

Andi mengibaratkannya seperti seseorang yang sedang bernyanyi. Suara tidak selalu berada pada tingkat yang sama, tetapi dapat berubah dari lembut menjadi tinggi dengan tambahan vibrasi.

“Jadi kalau lempang saja tidak ada rasanya, sama seperti nyanyi. Misalkan nada suara dipelankan ke tinggi, dikasih vibras sedikit,” tuturnya.

Menurutnya, kemampuan memberikan dinamika dan penghayatan membuat permainan biola memiliki karakter tersendiri.
Tarikan panjang, perubahan tekanan, serta pengaturan suara dapat menghasilkan kesan emosional yang mendalam.

Ia bahkan menilai karakter permainan biola memiliki kemiripan dengan saksofon dalam hal kemampuan menghasilkan ekspresi musik.

Belajar Biola

Di balik alunan indah yang dihasilkan, biola ternyata menyimpan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

Andi menjelaskan bahwa memainkan biola membutuhkan posisi tubuh yang tepat. Pemain harus menjaga posisi biola agar tetap stabil ketika dimainkan.

Kesalahan dalam posisi tubuh, termasuk mengangkat bahu terlalu tinggi untuk menahan biola, dapat membuat otot leher dan bahu cepat tegang.

Selain itu, penentuan posisi jari menjadi tantangan besar bagi pemula.

Berbeda dengan gitar yang memiliki pembatas pada papan jarinya, fingerboard biola tidak memiliki penanda pembatas nada. Pemain harus mengandalkan pendengaran, ketepatan posisi jari, dan ingatan otot untuk menghasilkan nada yang benar.

BACA JUGA  Delica Delipark Medan, Spot Nongkrong Estetik Bikin Lupa Waktu

Kondisi tersebut membuat proses belajar membutuhkan ketelitian dan latihan berulang.

Andi mengungkapkan, tidak sedikit orang yang akhirnya berhenti ketika mulai menghadapi kesulitan tersebut.

Menurut pengalamannya, dari sekitar 50 orang yang belajar, hanya dua orang yang akhirnya mampu menguasai permainan biola.

“Belajar biola susah, siapapun yang pernah belajar biola pasti jawabnya susah,” ungkapnya.

Ia menilai kemampuan menangkap materi, konsentrasi, dan kepekaan pendengaran turut berpengaruh terhadap perkembangan seseorang dalam belajar biola.

Menguasai Satu Lagu

Perjalanan Andi hingga mampu mengajar biola tidak berlangsung singkat.

Ia mengaku pernah membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk mempelajari satu lagu. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga baginya dalam memahami kesulitan yang dialami seorang pemula.

Kini, setelah memiliki pengalaman dan metode pembelajaran sendiri, ia mampu membimbing murid untuk mempelajari satu lagu dalam waktu sekitar dua bulan.

Perbedaan tersebut terjadi karena Andi sudah menyusun cara belajar yang lebih terarah.

Ia menerapkan tiga metode pembelajaran, yaitu membaca notasi, improvisasi, dan permainan solo.

Murid dapat memilih metode sesuai kemampuan dan kebutuhannya. Jika belum mampu memainkan lagu secara solo, mereka dapat memulai dengan membaca notasi.

Ada pula murid yang mampu mengenali nada melalui pendengaran, tetapi kesulitan menerjemahkannya menjadi gerakan jari. Dalam kondisi seperti itu, membaca notasi dapat membantu proses belajar.

Andi ingin pengalaman sulit yang pernah dialaminya tidak harus terulang dengan cara yang sama oleh murid-muridnya.

Belajar dari Komunitas Musik

Andi tidak mempelajari biola sepenuhnya secara otodidak. Ia pernah bergabung dengan komunitas musik yang berkumpul di Taman Ahmad Yani, Medan.

Komunitas tersebut diisi sejumlah orang yang berasal dari lingkungan kampus, termasuk mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed) dan Universitas Sumatera Utara (USU).

Di tempat itulah Andi mendapatkan banyak pengetahuan mengenai teori dan teknik bermain biola.

Anggota komunitas berbagi ilmu yang mereka peroleh dari pembelajaran di kampus. Materi tersebut kemudian dipelajari bersama oleh anggota lainnya.

“Dulu kami belajar di komunitas, di Taman Ahmad Yani. Isinya anak Unimed, USU, jadi ngumpul. Saya dulunya pekerja. Mereka yang mengajari, mereka bawa teori dari kampus, dibagi sama kita. Jadi saya tidak belajar otodidak. Saya punya silabus, saya punya teori,” ceritanya.

Pengalaman belajar bersama komunitas menjadi salah satu bekal penting bagi Andi hingga akhirnya mampu mengembangkan metode pengajaran sendiri.

BACA JUGA  Pak Is 69 Tahun, Tukang Pangkas 3 Dekade Bertahan di Bawah Pohon Medan

Penasaran terhadap Biola

Sebelum mengenal biola lebih jauh, Andi ternyata sudah menyukai musik sejak lama. Ia mengawali perjalanan bermusiknya sebagai pemain gitar, khususnya gitar melodi.

Setelah keluar dari band, ia mulai mencari alat musik lain karena merasa bosan memainkan instrumen yang sama.

Pilihan itu akhirnya jatuh pada biola.

Menariknya, ketika pertama kali membeli biola di kawasan Kesawan, Andi sebenarnya tidak memiliki target untuk menjadi pemain profesional. Ia hanya penasaran bagaimana alat musik tersebut dapat menghasilkan suara yang begitu indah melalui gesekan.

“Saya beli biolanya di Kesawan ini. Saya beli biola ini tidak ada tujuan untuk bisa bermain, tapi lebih ke penasaran. Kenapa bisa bunyi, kenapa digesek kok bisa bunyi? Kok enak bunyinya? Jadi penasaran,” kenangnya.

Baginya, biola dahulu merupakan alat musik yang terkesan mewah. Ia bahkan tidak pernah membayangkan akan mampu menguasai alat musik tersebut.

Namun, rasa penasaran itu justru menjadi awal dari perjalanan panjang yang mengubah kehidupannya.

Andi menyebutkan, harga biola yang dimilikinya saat ini berada di kisaran Rp1 juta. Ia juga memiliki pandangan bahwa biola yang semakin sering dimainkan akan terasa semakin enak digunakan.

Kecintaan Terhadap Musik

Saat ini, kegiatan Andi tidak hanya terbatas pada mengamen dan mengajar privat. Ia juga menerima undangan untuk bermain musik dalam berbagai acara, seperti ulang tahun dan pernikahan.

Berbagai kegiatan tersebut menjadi kesempatan baginya untuk terus mengembangkan kemampuan sekaligus memperoleh penghasilan dari musik.

Sebagai ayah dari dua anak, Andi menjalani profesinya dengan memanfaatkan kemampuan yang telah dibangunnya melalui proses belajar bertahun-tahun.

Di persimpangan Kesawan, setiap gesekan busurnya menjadi bagian dari perjuangan tersebut. Ada pengunjung yang sekadar berhenti untuk mendengarkan, ada yang memberikan uang ke dalam kotak biola, dan ada pula murid yang mencoba memainkan lagu di hadapan orang banyak.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya pemandangan seorang pengamen yang memainkan biola di tengah keramaian kota.

Namun, bagi Andi, setiap penampilan merupakan kesempatan untuk bekerja, mengajar, dan terus mengembangkan kecintaannya terhadap musik.

Sebuah perjalanan yang bermula dari rasa penasaran terhadap suara biola, kini berkembang menjadi keterampilan yang menghidupi keluarga sekaligus membuka jalan bagi orang lain untuk belajar memainkan alat musik tersebut. (Monang Sitohang)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH