BOGOR, PILAR MERDEKA – Ada benda-benda yang lebih besar maknanya daripada bentuk fisiknya. Ia menyimpan ingatan, pengetahuan, estetika, sejarah, dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dalam konteks kebudayaan Nusantara, golok merupakan salah satu pusaka yang memiliki lapisan makna semacam itu.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan cara generasi muda memandang warisan leluhur, Gatut Susanta memilih untuk mengambil bagian dalam upaya merawat ingatan tersebut. Dari Bogor, ia bersama komunitas Golok Pedang dari berbagi daerah membangun gerakan yang kemudian dikenal dengan gagasan “Golok Road to UNESCO”. Kata semangat “Golok Road to UNESCO” di hasilkan setelah Gatut datang ke Library Unesco di Paris tahun 2024 lalu.
Perjuangan tersebut tidak semata-mata tentang bagaimana sebuah benda tradisional mendapatkan pengakuan internasional. Lebih jauh, ia merupakan ikhtiar untuk mendokumentasikan sejarah, menggali filosofi, memperkuat penelitian, membangun jejaring kebudayaan, serta memperkenalkan kembali golok kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya. Sebuah maha karya bisa diakui UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, paling tidak memiliki 4 unsur yaitu Hasil karya olah Logam yang luar biasa, mempunyai nilai filosofi spriritual dan simbolisme, Nilai sejarah dan jejang panjangnya, Nilai Tradisi yang terus hidup.
Merawat Pusaka Melalui Dokumentasi

Salah satu tonggak penting dalam kiprah Gatut adalah lahirnya buku pertamanya Golok antara Pesona dan Legenda kemudian buku keduanya menyusul Pesona Golok Pasundan yang diluncurkan di Kota Bogor. Buku setebal 250 dan 315 halaman tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan sejarah, keberagaman, dan filosofi golok Pasundan.
Menurut Gatut, penyusunan buku tersebut dilakukan melalui silaturahmi dan blusukan mengumpulkan informasi yang panjang. Ia menyebut keterlibatan sembilan profesor dari tiga wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten yang meng-endors bukunya. Gatut berharap buku dan lagu Pesona Golok Pasundan dapat menjadi referensi dalam mendukung pengusulan golok sebagai warisan budaya takbenda UNESCO, selain kegiatan sosialisasi berupa pameran, ke sekolah juga ke kampus .
Dalam proses tersebut, Gatut juga menggambarkan pentingnya mendatangi kampung-kampung dan bertemu para sepuh untuk menggali pengetahuan yang hidup di masyarakat.
“Kami berkunjung ke kampung-kampung, bertemu para sepuh untuk menggali filosofi di balik golok Pasundan yang berbeda-beda.” kata Gatut Susanta, yang dikutip dari BarayaNews.co.id dalam pemberitaan peluncuran Buku Pesona Golok Pasundan.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa pelestarian kebudayaan tidak cukup dilakukan melalui benda yang disimpan. Pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat juga perlu dicatat sebelum hilang bersama perubahan zaman.
Mengubah Cara Pandang Terhadap Golok

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Gatut adalah cara masyarakat memandang golok. Dalam kehidupan sehari-hari, golok sering kali hanya dipahami dari fungsi praktisnya. Padahal, dalam perspektif kebudayaan, perjalanan sejarahnya jauh lebih kompleks.
Dalam kegiatan Mahakarya Pusaka Nusantara Kota Bogor pada Agustus 2025 di Botani Square, Gatut menjelaskan bahwa salah satu tujuan kegiatan adalah memperkenalkan golok kepada generasi muda.
“Jadi kalau orang denger golok apa yang ada di otak kita? Itu pasti hanya alat potong pemecah kelapa, daging.”
Ia kemudian menekankan pentingnya memahami sejarah dan nilai yang melekat pada pusaka tersebut.
Dengan demikian, Golok Road to UNESCO dapat dibaca sebagai usaha mengubah cara pandang: dari sekadar melihat bentuk benda menuju pemahaman mengenai sejarah, pengetahuan tradisional, seni, simbol, dan identitas budaya yang menyertainya.
Dari Komunitas Nenuju Jejaring Kebudayaan
Perjuangan Gatut juga memperlihatkan bahwa pelestarian kebudayaan tidak mungkin dilakukan seorang diri. Ia membutuhkan jaringan komunitas, pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Dalam Mahakarya Pusaka Nusantara, misalnya, berbagai komunitas pencinta pusaka turut dilibatkan. Gatut menyebut komunitas tosan aji dari berbagai pusaka ikut mendukung perjuangan memperoleh pengakuan UNESCO. Ia juga menjelaskan bahwa upaya tersebut melibatkan daerah lain, khususnya DKI Jakarta dan Banten, sementara proses penguatan di Jawa Barat masih terus dilakukan.
Gagasan kolaborasi tiga wilayah tersebut kemudian semakin jelas dalam berbagai kegiatan berikutnya. Pemerintah Kota Bogor mencatat bahwa Gatut mendorong kerja sama Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta sebagai kekuatan bersama dalam memperjuangkan golok.
Bagi Gatut, persoalannya bukan sekadar siapa yang memiliki atau mewakili golok, melainkan bagaimana berbagai wilayah yang mempunyai hubungan sejarah dan kebudayaan dapat menyatukan narasi pelestarian.
Golok Goes Campus: membawa pusaka ke ruang akademik
Langkah penting lainnya adalah membawa pembicaraan mengenai golok ke lingkungan pendidikan tinggi.
Pada November 2025 menjalin kerjasama dengan Universitas Taman Siswa Jogjakarta dan Januari 2026 menjalin sinergi dengan Universitas Pakuan Bogor melalui program Golok Goes Campus. Program tersebut melibatkan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya untuk memperkuat kajian dan edukasi mengenai golok sebagai warisan budaya.
Kegiatan tersebut kemudian diwujudkan dalam Munggahan dan Sarasehan Pelestari Golok pada 14 Februari 2026. Sekitar 300 koleksi golok dari berbagai periode sejarah dipamerkan dalam kegiatan tersebut. Gatut menjelaskan bahwa koleksi tersebut menunjukkan panjangnya perjalanan sejarah golok di Nusantara.
Di sini terlihat bahwa gerakan Road to UNESCO tidak hanya bergerak melalui pameran, tetapi juga berusaha membangun literasi budaya dan penelitian akademik.
Kampus menjadi ruang penting karena warisan budaya membutuhkan kajian yang dapat memperkuat dokumentasi, sejarah, dan pengetahuan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dari Bogor menuju Kementerian Kebudayaan
Perjalanan tersebut kemudian dibawa ke tingkat yang lebih luas.
Pada 28 Januari 2026, Ki Gatut Susanta bersama para pelestari Golok mempresentasikan program Golok Road to UNESCO kepada Kementerian Kebudayaan. Dalam pertemuan itu dibahas berbagai langkah yang telah dirintis, mulai dari koordinasi lintas institusi hingga sosialisasi kepada komunitas budaya di Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta.
Program Golok Goes to Campus juga menjadi bagian dari strategi tersebut, dengan melibatkan antara lain Universitas Taman Siswa Yogyakarta dan Universitas Pakuan Bogor.
Pada akhir pemaparannya, Gatut mengeluarkan sebuah kalimat yang mungkin paling kuat untuk menggambarkan watak perjuangan tersebut:
“Pejuang tidak tahu kapan akan merdeka, tapi yang jelas perjuangan sudah mulai dan ada titik awalnya bukan hanya bermimpi.”
— Gatut Susanta, Radar Bogor, 28 Januari 2026.
Kalimat itu menunjukkan bahwa Road to UNESCO dipahami sebagai sebuah proses panjang. Ada tahapan, ada pekerjaan yang harus dilakukan, dan ada kemungkinan perjalanan yang tidak singkat. Tetapi sebuah perjuangan kebudayaan harus dimulai dengan tindakan nyata.
Menyatukan Tiga Wilayah Kebudayaan

Pada Juni 2026 pada momen Hari Jadi Bogor dibuat Temu Rasa Pelestari Golok, dalam kegiatan Mahakarya Pesona Pusaka Nusantara di Pasar Gembrong yang diikuti para pelestari Tosan Aji 9 Provinsi, Gatut mengungkapkan salah satu persoalan penting dalam perjalanan menuju UNESCO, yaitu perlunya penguatan pengakuan nasional, Jenis-jenis Golok
Ia menyatakan: “Saat ini merasa tenang karena golok yang telah di sahkan secara nasional Banten 4 jenis Golok, Jawa Barat 2 jenis Golok dan Betawi 1 jenis Golok”
Karena itu, ia berharap tiga provinsi dapat menjadi kekuatan bersama: “Semoga dengan modal golok dari 3 provinsi ini bisa menjadi kekuatan kita untuk mendorong golok bisa segera diusulkan ke UNESCO dan bisa segera disahkan.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Road to UNESCO yang dimulai dari agenda Kota Bogor kini telah berkembang menjadi agenda kebudayaan lintas wilayah karena bersosialisasi ke luar dr tiga provinsi tadi dan telah ke Jogjakarta dan Jawa Timur November ini.
Dari Alat Kehidupan Jadi Pusaka Budaya
Dalam pameran di berbagai tempat, Gatut juga menjelaskan perjalanan fungsi golok dari perspektif sejarah dan kebudayaan: dari bagian kehidupan sehari-hari, kemudian memiliki fungsi pertahanan, dan akhirnya semakin kuat dipahami sebagai pusaka budaya.
Dalam pemberitaan mengenai pameran tersebut, Gatut mengatakan: “Golok dulu menjadi alat ketahanan pangan, kemudian alat pertahanan, dan sekarang menjadi pusaka.”
Pernyataan ini penting karena menunjukkan bahwa nilai sebuah benda budaya dapat berubah dan berkembang seiring perjalanan masyarakat. Pusaka tidak harus dipahami hanya berdasarkan fungsi masa lalunya. Ia juga dapat menjadi simbol identitas, pengetahuan, dan ingatan budaya pada masa kini.
Membawa perjuangan kepada generasi muda
Bagi Gatut, salah satu tujuan penting dari berbagai pameran, sarasehan, penerbitan buku, dan program kampus adalah generasi muda.
Warisan budaya tidak akan bertahan jika hanya dikenang oleh generasi yang lebih tua. Ia harus diperkenalkan kepada anak-anak muda melalui cara yang relevan: pendidikan, penelitian, pameran, seni, literasi, dan ruang dialog bahkan Festival Seni kreasi silat Golok dan Fashion show Golok.
Dalam konteks itu, kegiatan Golok Road to UNESCO menjadi lebih dari sekadar kampanye menuju pengakuan internasional. Ia menjadi gerakan pendidikan kebudayaan.
Pemerintah Kota Bogor juga melihat pentingnya dimensi tersebut. Dalam kegiatan Lebaran Golok di Setu Babakan Kampung Betawi bertema “Golok Road to UNESCO” pada April 2026, Wali Kota Bogor sebagai Penasehat golok Dedie A. Rachim menekankan bahwa golok memiliki akar sejarah yang panjang dan mengandung nilai filosofis, historis, dan estetika. Ia juga menekankan pentingnya literasi budaya agar warisan tersebut tidak hanya dilestarikan, tetapi dipahami oleh generasi penerus.
Memperjuangkan Pengakuan, Menjaga Makna
Perjalanan menuju UNESCO pada akhirnya bukan hanya persoalan memperoleh sebuah pengakuan internasional. UNESCO menjadi salah satu tujuan dari proses yang lebih panjang: mendokumentasikan, meneliti, melestarikan, menghidupkan kembali, dan mewariskan pengetahuan budaya.
Kota Bogor sendiri telah memberikan dukungan terhadap gerakan tersebut. Dalam kegiatan pameran dan sarasehan di Universitas Pakuan, Botani Square, BCC, Blof Trade Center, Lippo Mall dan pemerintah kota mencatat bahwa perjalanan golok menuju UNESCO telah ditopang dokumentasi, literasi, penelitian, dan keterlibatan perguruan tinggi.
Gatut menyebut berbagai kelengkapan dokumen dan administrasi telah diserahkan dan presentasi telah dilakukan. Ia menegaskan bahwa perjuangan itu perlu terus dilakukan agar golok dipahami bukan hanya berdasarkan fungsi praktisnya, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah dan kebudayaan.
Dengan demikian, yang diperjuangkan sesungguhnya bukan sekadar sebuah benda.
Yang diperjuangkan adalah ingatan.
Ingatan tentang para pembuatnya.
Ingatan tentang para sepuh yang mewariskan pengetahuan.
Ingatan tentang masyarakat yang hidup bersama tradisi tersebut.
Ingatan tentang estetika dan filosofi yang berkembang di dalamnya.
Dan yang tidak kalah penting, ingatan tentang siapa kita sebagai bangsa.
Dari Bogor Untuk Dunia
Kiprah Gatut Susanta memperlihatkan bahwa gerakan kebudayaan sering kali dimulai dari kegelisahan sederhana: jangan sampai sesuatu yang menjadi bagian dari sejarah kita justru tidak lagi dikenal oleh anak cucu.
Dari kegelisahan itu lahir dokumentasi. Dari dokumentasi lahir buku. Dari buku lahir diskusi. Dari diskusi tumbuh jejaring. Dari jejaring lahir kerja sama dengan kampus, pemerintah, komunitas, dan lembaga kebudayaan. Dari rangkaian proses itulah kemudian muncul sebuah cita-cita yang lebih besar: Golok Road to UNESCO.
Dedie Rachim bahkan menyebut Gatut sebagai tokoh Bogor yang menggagas gerakan tersebut dan secara konsisten menyuarakan pentingnya pelestarian budaya lokal.
“Beliau punya keinginan yang gigih dan tulus dengan segala daya upaya. Insyaallah Pemkot Bogor akan membersamai beliau sampai ke UNESCO, dari Bogor untuk Indonesia dan dari Bogor untuk dunia.”
Kalimat tersebut sekaligus menjadi gambaran tentang makna gerakan ini.
Sebab pada akhirnya, perjuangan melestarikan budaya tidak berhenti pada apakah sebuah benda memperoleh label dunia atau tidak. Ukuran keberhasilannya adalah apakah masyarakat masih mengenali sejarahnya, apakah pengetahuannya masih diwariskan, apakah generasi muda masih merasa memiliki, dan apakah nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih hidup.
Gatut Susanta telah memilih untuk berjalan di jalan itu. Jalannya mungkin panjang. Tahapannya mungkin tidak sederhana. Namun sebagaimana ia katakan sendiri:
“Pejuang tidak tahu kapan akan merdeka, tapi yang jelas perjuangan sudah mulai dan ada titik awalnya bukan hanya bermimpi.”
Maka Golok Road to UNESCO bukan sekadar perjalanan sebuah pusaka menuju pengakuan dunia.
Ia adalah perjalanan masyarakat untuk kembali mengenali, memahami, dan merawat warisan budayanya sendiri.
Dari Bogor untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia. (Heri Cokro)

