BerandaPeristiwaPadat Merayap di Titi Sewa, Warga Turun Tangan

Padat Merayap di Titi Sewa, Warga Turun Tangan

MEDAN, PILAR MERDEKA – Kemacetan kembali terjadi, kendaraan “padat merayap” di Titi Sewa, perbatasan Kota Medan-Deli Serdang, tepat pada Sabtu malam (21/03). Terlihat, wajah-wajah pengendara menunjukkan kelelahan, ada juga emosi tak terarah, seakan kondisi itu membuat situasi memanas, klakson yang saling bersahutan.

Macet Titi Sewa bukan sekadar persoalan padatnya kendaraan. Di tengah situasi yang kian semrawut, sejumlah pemuda setempat berdiri di persimpangan, berusaha mengurai kemacetan dengan tangan kosong dan tanpa imbalan.

“Biar sajalah itu, payah kali diatur orang-orang ini. Semua mau cepat, tidak ada yang mau mengalah,” ujarnya dengan nada kesal, namun tetap bertahan di sisi para kendaraan yang tak terkendali.

Salah seorang diantara mereka menegaskan, kehadirannya bukan untuk mencari uang. “Aku mengatur jalan ini bukan karena uang, bukan minta uang, tapi karena rasa peduli saja,” katanya kepada Pilar Merdeka.Com.

Titi
Tampak seorang pemuda sedang mengatur kemacetan lalu lintas di Simpang Titi Sewa. (Foto. Pilar Merdeka)

Menurutnya macet di Titi Sewa mulai terasa sejak selepas Salat Maghrib hingga menjelang Isya. Arus kendaraan dari Jalan Letda Sujono, Medan Tembung menuju Jalan Besar Desa Tembung padat merayap. Begitu pula sebaliknya, kendaraan dari arah Desa Tembung menuju Jalan Letda Sujono tersendat di titik yang sama.

Kemacetan semakin parah ketika arus dari Jalan Benteng Hulu dan Benteng Hilir ikut bertemu di simpang tersebut. Semua arah seolah bertabrakan dalam satu ruang sempit yang tak lagi mampu menampung volume kendaraan.

“Macetnya sebelum Salat Isya, Bang. Pengendaranya saling mendahului, akibatnya macet lah,” ungkap seorang warga setempat.

Hal yang sama juga disampaikan seorang pedagang ayam penyet di sekitar Simpang Benteng Hulu, Ia menyebutkan kemacetan tadi terjadi selepas Maghrib, sebelum salat Isya.

Macet Titi Sewa hingga Jam 21.10 WIB belum juga terurai. Para pemuda yang membantu mengatur lalu lintas terlihat mulai kelelahan dan kesal karena banyak pengendara tidak mematuhi arahan.

BACA JUGA  Pohon Tumbang di Eks Medan Club Sisakan Bongkahan Akar
Titi
Kendaraan datang dari Jalan Letda Sujono menuju Jalan Besar Desa Tembung tampak padat merayap. (Foto. Pilar Merdeka)

“Sudah begitu kita coba mau mengatur pun marah pula itu,” katanya, menggambarkan betapa sulitnya mengendalikan emosi para pengendara.

Bagi warga sekitar, kondisi ini bukan hal baru. Kemacetan di kawasan tersebut sudah sering terjadi, terutama pada jam-jam sibuk. Ketidakdisiplinan pengendara disebut sebagai faktor utama yang memperparah keadaan.

Fenomena ini mencerminkan persoalan yang lebih luas. Kemacetan terjadi ketika jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Namun, kondisi menjadi semakin buruk ketika pengendara tidak tertib.

Saling serobot jalur, menutup sisi kiri jalan, hingga berhenti sembarangan di pinggir jalan menjadi kebiasaan yang memperparah kemacetan. Setiap pengendara ingin lebih dulu, tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain.

Tidak ada satu pihak yang mau disalahkan. Namun, ketika diajak mencari solusi, sering kali tanggung jawab justru saling dilempar.

Padahal, disiplin berlalu lintas adalah kunci utama untuk mencegah kemacetan. Cara seseorang berkendara mencerminkan sikap dan kesadarannya sebagai pengguna jalan.

Macet Titi Sewa akhirnya bukan hanya soal jalan yang sempit atau kendaraan yang banyak. Ini tentang bagaimana setiap pengendara memilih untuk bersikap di tengah kepadatan.

Di tengah kekacauan itu, seorang pemuda tetap berdiri di persimpangan. Tanpa bayaran, tanpa perlindungan, hanya dengan satu tujuan: agar jalan kembali bergerak, meski perlahan. (Mons)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH