MEDAN, PILAR MERDEKA – Dapurnya Desy tumbuh dari sebuah dapur rumah sederhana. Sejak sekitar 2012, Desy memilih membangun usaha kuliner setelah tidak lagi bekerja di dunia retail untuk mencari sumber pemasukan.
Tidak ada modal besar atau gerai megah dalam perjalanan tersebut. Produksi makanan Dapurnya Desy masih dilakukan di dapur rumah.
“Nama Dapurnya Desy dipilih karena sederhana dan mudah diingat. Seluruh proses pengolahan makanan memang dilakukan di dapur rumah,” ujar Desy kepada Pilar Merdeka.Com, Selasa (6/10) melalui WhatsApp.
Bagi Desy, makanan bukan hanya soal mengenyangkan perut. Kuliner menjadi cara untuk menjalani hidup dengan lebih santai sekaligus mengembalikan suasana hati yang sempat hilang.
Bolen Menu Andalan

Pada masa awal usaha, Dapurnya Desy memiliki sejumlah menu andalan atau best seller, salah satunya bolen dan currypuff. Selain itu, Desy juga membuat cookies untuk kebutuhan Lebaran.
Bolen yang dibuat cukup beragam. Ada bolen pisang cokelat keju, bolen tape, bolen ragout, hingga cokelat cheese rolls.
Sementara itu, currypuff terinspirasi dari currypuff Penang yang berlapis. Resepnya dipelajari dari YouTube, mulai dari teknik membuat kulit hingga isian, lalu dimodifikasi agar lebih sesuai dengan selera lidah Medan tanpa mengubah jauh cita rasa aslinya. “Currypuff bisa juga dipesan untuk stok frozen di rumah,” tambah Desy.
Seiring waktu, produk Dapurnya Desy berkembang. Desy mulai menyediakan berbagai jenis nasi, seperti nasi kuning, nasi liwet, nasi kebuli, nasi briyani, dan nasi bakar.
Resep yang digunakan tidak hanya berasal dari satu sumber. Sebagian resep dipelajari dari buku. Setelah itu, resep diuji coba, diperbaiki, dan dikembangkan melalui inovasi sendiri.
Dalam setiap proses produksi, Desy juga berusaha menjaga standar pengolahan makanan yang dipelajarinya saat kuliah. “Saya dulunya kuliah di BPLP sekarang dikenal dengan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Medan, Jurusan Food Production (FPR) angkatan ke-4, Tahun 1995,” jelas Desy.
Standar itu ia terapkan secara disiplin. Resep harus diikuti dengan takaran yang pas, dan kebersihan dijaga sejak pemilihan bahan hingga area kerja yang digunakan untuk mengolah makanan.
Harga produk Dapurnya Desy dibuat bervariasi. Kue basah dijual mulai sekitar Rp2.500, sedangkan produk berukuran lebih besar berada di kisaran Rp40 ribuan.
Target pasarnya terbuka untuk siapa saja.

Harga Bahan Baku jadi Tantangan
Perjalanan usaha kuliner tidak selalu mudah. Salah satu persoalan yang paling dirasakan Desy adalah harga bahan baku yang tidak stabil.
Ketika harga bahan meningkat, Desy harus kembali mempertimbangkan harga jual produknya.
Penyesuaian harga tersebut dapat berdampak pada jumlah pelanggan. Ketika harga produk naik, pelanggan bisa menjadi lebih sepi.
Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi Desy untuk mempertahankan usaha yang selama ini dijalankan dari rumah.
“Perjalanannya tidak selalu mudah. Harga bahan baku yang berubah-ubah membuat penentuan harga jual menjadi sulit. Ketika harga naik dan pelanggan berkurang, usaha harus kembali menyesuaikan diri,” kata Desy.
Meski menghadapi kondisi tersebut, Dapurnya Desy tetap berjalan.
WhatsApp dan Reseller

Tanpa outlet khusus, Desy memanfaatkan WhatsApp Story untuk memasarkan produknya.
Ia juga membuka kesempatan bagi reseller yang ingin menjual kembali produk Dapurnya Desy.
Cara tersebut menjadi salah satu pilihan untuk memperkenalkan produk kepada pelanggan tanpa harus mengeluarkan biaya untuk memiliki gerai khusus.
Dalam pengelolaan keuangan, modal usaha yang tersedia terus diputar untuk menjalankan kegiatan usaha.
Desy juga mengatakan dirinya hingga kini belum bergabung dengan kelompok UMKM yang dibentuk pemerintah.
Mendapat Bantuan Modal
Dalam perjalanan usahanya, Desy pernah menerima bantuan modal satu kali dari sebuah partai.
Namun, menurut Desy, nilai bantuan tersebut relatif kecil.
Untuk pelatihan UMKM, Desy mengaku belum pernah mendapatkannya. Ia juga belum pernah mengikuti pelatihan dari program UMKM pemerintah.

Karena itu, perjalanan Dapurnya Desy selama ini lebih banyak ditopang oleh modal yang terus diputar serta aktivitas produksi dari rumah.
Dibuat Setelah Pesanan Masuk
Ada satu pola produksi yang menjadi ciri Dapurnya Desy saat ini. Produk dibuat berdasarkan pesanan atau made by order.
Dengan sistem tersebut, Desy tidak menyimpan stok makanan. Produk baru dibuat ketika ada pesanan.
Cara ini membuat makanan diproduksi untuk memenuhi pesanan yang masuk sehingga pelanggan menerima produk dalam kondisi fresh.
Dari berbagai produk yang tersedia, nasi kuning dan nasi kebuli menjadi pesanan yang paling banyak diterima.
Bolen juga masih memiliki pelanggan tersendiri.
Lebih dari Satu Dekade

Lebih dari satu dekade sejak memulai usaha sekitar 2012, Dapurnya Desy masih bertahan dari dapur rumah.
Tidak ada outlet khusus yang menjadi pusat usahanya. Dari rumah, Desy terus memproduksi makanan berdasarkan pesanan pelanggan.
Resep dipelajari dari berbagai sumber, kemudian diuji dan diperbaiki. Kebersihan dijaga sejak pemilihan bahan hingga area kerja.
Perjalanan itu memperlihatkan bagaimana sebuah usaha kuliner dapat terus berjalan dengan sumber daya yang sederhana.
Desy tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan. Harga bahan baku yang berubah, penyesuaian harga jual, hingga kemungkinan berkurangnya pelanggan menjadi bagian dari perjalanan usahanya.
Namun, harapan Desy juga sederhana.
“Harapannya sederhana, usaha ini bisa terus berjalan dan memberi manfaat. Kalau pelanggan puas dan masih kembali, itu sudah cukup. Dari dapur rumah ini, saya ingin terus bisa berbagi rezeki dengan orang lain juga,” ujar Desy.
Dari dapur rumah yang sederhana, Dapurnya Desy terus berusaha mempertahankan produksi. Bagi Desy, keberlanjutan usaha dan pelanggan yang kembali memesan menjadi bagian penting dari perjalanan yang telah dimulainya sejak sekitar 2012.
Bagi pelanggan yang ingin memesan atau menjadi reseller, Desy dapat dihubungi melalui WhatsApp di 0852-9787-1311. (Monang Sitohang)

