BerandaInternasionalChrista Pike Minta Ditembak, Bukan Disuntik Mati: Eksekusi Perempuan Pertama yang Gemparkan...

Christa Pike Minta Ditembak, Bukan Disuntik Mati: Eksekusi Perempuan Pertama yang Gemparkan AS

PILAR MERDEKA— Christa Pike meminta sesuatu yang tidak biasa dari negara bagian Tennessee: jika hukuman matinya tetap dijalankan, ia ingin menghadapi regu tembak—bukan suntikan mati.

Pike, yang dijadwalkan menjadi perempuan pertama yang dieksekusi di Tennessee dalam lebih dari 200 tahun, seharusnya menghadapi eksekusi pada Rabu. Namun, beberapa jam sebelum hukuman itu dilaksanakan, sebuah pengadilan banding federal menangguhkannya.

Pike merupakan satu-satunya perempuan yang saat ini berada di “deretan terpidana mati” Tennessee. Media Amerika Serikat melaporkan bahwa Pengadilan Banding AS untuk Sirkuit Keenam melakukan intervensi pada saat-saat terakhir, setelah Mahkamah Agung AS sebelumnya menolak upaya untuk menghentikan eksekusi.

Perempuan berusia 50 tahun itu dijadwalkan menjalani hukuman mati melalui suntik mati di Lembaga Pemasyarakatan Keamanan Maksimum Riverbend di Nashville. Namun, menurut The New York Post, Pike justru meminta agar ia ditembak oleh regu tembak yang seluruh anggotanya adalah perempuan.

Permintaan tersebut menambah sorotan terhadap kasus yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade.

Screenshot 2026 10 01 015404
Foto: tangkap layar X

Setelah 200 Tahun, Pike Perempuan Pertama 

Para pakar hak asasi manusia mengecam keputusan untuk tetap melanjutkan eksekusi. Meski demikian, Mahkamah Agung masih dapat membatalkan penundaan tersebut.

Clive Stafford Smith, pengacara yang pernah mewakili banyak terpidana mati, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa eksekusi terhadap Pike akan menjadi peristiwa yang sangat jarang terjadi.

“Sangat sedikit perempuan yang dieksekusi, namun jumlahnya bahkan lebih sedikit lagi di Tennessee—sudah 200 tahun berlalu. Jadi, ini adalah langkah mundur ke masa sekitar tahun 1820.”

 

Lantas, mengapa Pike ingin menghindari suntik mati dan justru memilih regu tembak? Dan bagaimana sebenarnya Amerika Serikat melaksanakan hukuman mati?

Kasus Pike Terjadi 30 Tahun Lalu

BACA JUGA  IHC Goes to Community: Senyum Cerah Anak Down Syndrome di Perayaan Hari Down Syndrome Sedunia

Lebih dari 30 tahun lalu, Pike dinyatakan bersalah karena membunuh seorang perempuan muda yang ia anggap sebagai saingan dalam hubungan asmara.

Pada Januari 1995, Pike, kekasihnya yang saat itu berusia 17 tahun, Tadaryl Shipp, serta Shadolla Peterson, 18 tahun, memancing Colleen Slemmer, 19 tahun, ke sebuah kawasan hutan.

Di tempat tersebut, Slemmer disiksa dan kemudian dibunuh.

Keempatnya merupakan siswa di pusat pelatihan kejuruan Job Corps di Knoxville.

Kasus tersebut menarik perhatian publik secara luas, terutama setelah terungkap bahwa para pelaku telah mengukir simbol pentagram di dada Slemmer. Tindakan pengukiran itu kemudian diakui dilakukan oleh Shipp.

Pike juga menyimpan potongan tengkorak Slemmer.

Pike dan Shipp mengakui perbuatan mereka dan pada 1996 dinyatakan bersalah atas pembunuhan tingkat pertama. Pike dijatuhi hukuman mati, sementara Shipp dijatuhi hukuman seumur hidup dengan kemungkinan pembebasan bersyarat.

“Christa adalah perempuan berusia 50 tahun yang menyesali perbuatannya dan memahami tindakan yang telah ia lakukan,” tulis para pengacaranya.

Namun, keluarga korban memiliki pandangan berbeda. Ibu Slemmer, May Martinez, telah menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan eksekusi Pike.

Tim hukum Pike menyatakan, ia seharusnya tidak dieksekusi sama sekali.

Pada Rabu, hanya beberapa jam sebelum eksekusi dijadwalkan berlangsung, pengadilan banding Tennessee mengeluarkan perintah penundaan.

“Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Timur Tennessee memutuskan bahwa pengadilan tersebut tidak memiliki yurisdiksi atas permohonan Christa Pike—berdasarkan Aturan Prosedur Perdata Federal 60(b)(6)—untuk membuka kembali putusan yang menolak permohonan habeas corpus,” kata Pengadilan.

Pengadilan kemudian memerintahkan agar pelaksanaan hukuman mati terhadap Pike ditangguhkan sampai ada perintah lebih lanjut. Namun, menurut Stafford Smith kepada Al Jazeera, Mahkamah Agung masih dapat membatalkan perintah tersebut.

BACA JUGA  Anis Matta: Perang Hamas-Israel Bisa Jadi Momentum Bagi Indonesia Pilih Presiden yang Paham Geopolitik

“Belakangan ini, Mahkamah Agung kerap membatalkan penangguhan eksekusi,” katanya.

Screenshot 2026 10 01 015303
Christa Pike /Foto: tangkap layar X 8ABC

Sebelumnya, tim hukum Pike juga telah meminta gubernur Tennessee untuk mengubah hukumannya menjadi penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat.

Mereka menunjuk pada bukti bahwa ibu Pike mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar selama kehamilan. Menurut tim hukumnya, kondisi tersebut mengganggu perkembangan otak serta kemampuan Pike dalam mengendalikan impuls.

“Sosok gadis berusia 18 tahun yang menderita gangguan jiwa berat dan trauma yang melumpuhkan itu sudah tidak ada lagi,” tulis para pengacaranya.

Jika eksekusi tersebut terlaksana, Pike akan menjadi satu-satunya orang yang dieksekusi di Tennessee pada era modern karena kejahatan yang dilakukan ketika masih remaja.

Pengacaranya, Stephen Ferrell, mengatakan bahwa para ilmuwan kini memiliki pemahaman yang jauh lebih baik mengenai perkembangan otak remaja. Karena itu, menurutnya, kasus Pike merupakan kasus yang tidak lazim.

Gubernur Bill Lee telah menolak permohonan grasi Pike.

Sekelompok pakar hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga telah menyerukan agar hukuman Pike diringankan.

Mengutip Al Jazeera, Amerika Serikat hampir tidak pernah mengeksekusi perempuan.

Sejak Mahkamah Agung mengizinkan kembali pelaksanaan hukuman mati pada 1976, sebanyak 1.683 orang telah dieksekusi di Amerika Serikat.

Dari jumlah tersebut, hanya 18 orang yang merupakan perempuan—sedikit lebih dari 1 persen.

Di Tennessee, hingga Rabu, sebanyak 17 orang telah dieksekusi sejak periode tersebut dimulai. Pike merupakan satu-satunya perempuan yang berada dalam daftar tunggu eksekusi mati di negara bagian itu.

Jika eksekusi Pike terlaksana, ia akan menjadi perempuan pertama yang dieksekusi di Tennessee sejak 1820, menurut Death Penalty Information Center.

Dengan demikian, kasus Pike bukan hanya menyangkut satu terpidana mati. Eksekusi tersebut juga akan menandai kembalinya Tennessee pada sejarah eksekusi terhadap perempuan setelah jeda sekitar dua abad.

BACA JUGA  Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Berbagai Negara Dunia

Pike tidak Ingin Suntik Mati

Menurut tim hukum dan para pakar trauma yang mendukungnya, metode suntik mati dapat memicu kembali ingatan Pike terhadap kekerasan yang dialaminya semasa kecil.

Dokumen permohonan grasinya mencatat riwayat kekerasan, penelantaran, dan kekerasan seksual yang dialaminya ketika masih kecil.

Dokumen tersebut juga menyebut bahwa Pike diperkosa ketika berusia 11 tahun dan kembali mengalami pemerkosaan pada usia 17 tahun.

Selain itu, dokumen tersebut menyebut diagnosis gangguan bipolar dan gangguan stres pascatrauma atau PTSD yang diderita Pike.

Karena itu, permintaan Pike untuk menghadapi regu tembak alih-alih suntik mati menjadi salah satu aspek paling tidak biasa dalam kasusnya.

Di satu sisi, negara bagian mempertahankan hukuman mati atas pembunuhan yang dilakukannya pada 1995. Di sisi lain, tim hukumnya berpendapat bahwa usia Pike saat melakukan kejahatan, pengalaman traumatis masa kecil, serta pemahaman ilmiah mengenai perkembangan otak remaja harus menjadi pertimbangan dalam menentukan apakah hukuman mati tetap layak dijalankan.

Untuk saat ini, eksekusi Pike telah ditangguhkan.

Namun, perdebatan mengenai kasusnya jauh lebih besar daripada persoalan metode eksekusi. Kasus ini menyentuh pertanyaan mengenai hukuman mati, kejahatan yang dilakukan ketika seseorang masih remaja, trauma masa kecil, serta sejauh mana perubahan seseorang selama lebih dari tiga dekade seharusnya diperhitungkan dalam pelaksanaan hukuman mati. (Sumber: Al Jazeera)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH