MEDAN, PILAR MERDEKA – Terminal Sambu Kota Medan menjadi bagian dari keseharian Uden ketika masih duduk di kelas III SMP pada tahun 1985. Setiap hari, terminal itu menjadi tempat yang akrab baginya karena perjalanan pergi dan pulang sekolah menggunakan angkutan umum.
Pada masa itu, angkutan tersebut dikenal sebagai Sudaco, singkatan dari Suzuki, Daihatsu, dan Colt. Kini, istilah yang lebih umum digunakan adalah angkutan kota atau angkot.
Terminal Sambu pada masa itu selalu ramai. Orang-orang datang dan pergi untuk melanjutkan perjalanan menuju berbagai tujuan dengan sudaco. Kendaraan hilir mudik keluar masuk terminal sepanjang hari.
Bagi Uden, suasana Terminal Sambu bukan sesuatu yang asing. Namun, sebuah perjalanan pada Sabtu siang meninggalkan kenangan yang tidak mudah dilupakan.
Di Terminal Sambu
Cuaca Sabtu siang itu terasa agak terik. Setelah pulang sekolah, Uden berjalan melewati Terminal Sambu dengan satu keinginan sederhana: segera sampai di rumah.
Di dalam hati, ia sempat bimbang.
“Naik sudaco atau naik bus POVRI. Naik bus POVRI atau naik sudaco. Ah, naik bus POVRI ajalah,” gumamnya.
Keraguan itu akhirnya hilang. Uden memilih bus POVRI dan melangkah cepat menaiki kendaraan tersebut.
Pada era 1980-an hingga 1990-an, bus POVRI cukup sering digunakan pelajar SMP dan SMA untuk pergi dan pulang sekolah.
Di kalangan pelajar saat itu, bus POVRI bahkan memiliki sebutan khusus. Mereka menyebutnya bus Apollo.
Sebutan tersebut sangat populer di kalangan pelajar SMP dan SMA yang tinggal di kawasan Kampung Baru, Titi Kuning, Kedai Durian, dan sekitarnya.
Bus POVRI memiliki rute Terminal Sambu-Titi Kuning-Kedai Durian-Deli Tua.
Tidak diketahui secara pasti mengapa bus tersebut disebut bus Apollo. Namun, dalam cerita yang berkembang di kalangan pelajar, sebutan itu dikaitkan dengan cara bus melaju.
Bus POVRI bisa bergerak cepat ketika pengemudi menekan gas. Setelah itu, kecepatannya dapat berubah menjadi pelan. Pola perjalanan seperti itu kemudian diidentikkan dengan Apollo, pesawat penjelajah ruang angkasa.
Berdiri dan Bergantungan
Ada satu hal lain yang membuat perjalanan dengan bus POVRI menjadi pengalaman tersendiri bagi para pelajar.
Penumpangnya selalu ramai. Ongkosnya juga relatif murah.
Ketika seluruh tempat duduk sudah terisi, penumpang yang tidak mendapatkan kursi harus berdiri. Sebagian berdiri sambil memegang tiang besi di dalam bus.
Ada pula yang berdiri di sisi pintu bus.
Uden mengalami keadaan itu pada perjalanan pulang sekolah tersebut.
“Waduh, ramai juga penumpang bus POVRI ini. Gantunglah aku di dekat pintu,” pikirnya.
Di tengah keramaian itu, suara kenek terdengar memanggil penumpang.
“Ayo, ayo. Titi Kuning, Kedai Durian, Deli Tua. Berangkat kita. Ayo, ayo, berangkat kita. Ayo majuuuu.”
Bus POVRI kemudian meninggalkan Terminal Sambu.
Suara mesin terdengar bising ketika bus bergerak cepat menuju Jalan Irian Barat.
Memasuki Jalan Cirebon, bus kembali melaju kencang. Setelah itu, kecepatannya berkurang di ujung Jalan Cirebon sebelum berbelok ke kanan menuju Jalan Pandu.
Di Jalan Pandu, bus kembali melaju.
Ketika tiba di ujung Jalan Pandu, pengemudi terlihat berhati-hati saat berbelok ke kiri menuju Jalan Brigjen Katamso.
Setelah memasuki Jalan Brigjen Katamso, bus kembali bergerak cepat menuju arah Titi Kuning dan Kedai Durian.
Meskipun sebagian penumpang harus berdiri dan bergantungan, perjalanan tetap berlangsung dengan suasana yang tampak menyenangkan bagi para penumpang.
“Pinggir Bang Supir”
Bus POVRI terus melaju melewati kawasan Istana Maimun di Jalan Brigjen Katamso.
Ketika sampai di depan Gang Perdamaian, Uden segera bersiap turun.
“Pinggir, Bang supir. Pinggir,” teriaknya.
Bus berhenti.
Uden kemudian membayar ongkos kepada kenek. Nilainya seratus rupiah.
Ia turun dari bus dalam posisi sebelumnya berdiri bergantungan di pintu belakang.
Dalam ingatan Uden, ongkos itu kemudian dikenal sebagai “cepek gantung”.
Setelah turun, Uden berjalan cepat memasuki Gang Perdamaian.
Ia melewati rel, masuk ke gang kecil yang tembus ke Pajak Penglam, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jalan Mahkamah.
Dari sana, ia berbelok ke Jalan Rumah Sumbul hingga akhirnya tiba di rumah.
Sesampainya di rumah, Uden mengganti pakaian sekolah dengan pakaian rumah. Ia kemudian beristirahat sejenak setelah perjalanan pulang sekolah.
Perjalanan itu sebenarnya sederhana.
Namun, tanpa disadari, perjalanan dengan bus POVRI tersebut kelak menjadi bagian dari sebuah kenangan yang jauh lebih berkesan.
Pertanyaan Berta
Malam harinya, suasana berubah.
Malam Minggu menjadi waktu bagi Uden untuk keluar rumah dan bersantai.
Ia mengenakan celana panjang Lea, kaos, dan sepatu Puma.
Uden kemudian berjalan kaki menuju Pajak Penglam.
Di sana, ia biasa bersantai dan duduk di atas pipa besi bulat di teras rumah Kak Ani Doer, dekat Pajak Penglam, kompleks PAM Tirtanadi.
Tidak lama kemudian, datang seorang gadis remaja bernama Berta.
Berta tinggal di Jalan Laubeng Klewang, dekat Pajak Penglam.
Ia merupakan kawan Uden sejak mereka masih kecil. Keduanya pernah mengaji bersama di musholla kompleks PAM Tirtanadi.
Kini, Berta telah beranjak menjadi gadis remaja.
Ketika melihat Uden, Berta langsung menyapanya.
“Uden, Uden. Tadi siang ku lihat kau naik bus POVRI. Turun di depan Gg Perdamaian. Dari mana kau, Uden?”
Uden menjawab singkat.
“Dari Terminal Sambu. Pulang sekolah.”
Jawaban itu justru membuat Berta semakin penasaran.
“Dari Terminal Sambu, turun di Gg Perdamaian. Naik bus POVRI. Berapa ongkosnya, Uden?”
Uden sempat berpikir.
“Ongkosnya berapa ya?”
Lalu ia menjawab.
“Ongkosnya cepek gantung.”
Berta tidak langsung memahami istilah tersebut.
“Berapa itu, cepek gantung?”
Uden kemudian menjelaskan.
“Berta, Berta. Ongkosnya cepek gantung. Artinya bayar seratus rupiah karena berdiri, tak dapat tempat duduk. Bayar seratus rupiah karena bergantungan di pintu belakang bus POVRI.”
Berta terkejut.
“Haah! Tak dapat tempat duduk kau, Uden? Bergantungan kau, Uden, di bus POVRI?”
“Ya, iyalah, Berta,” jawab Uden singkat.
Namun, percakapan itu belum selesai.
Berta kemudian melontarkan candaan yang tidak disangka-sangka Uden.
“Uden, Uden. Anak kompleks PAM Tirtanadi masih mau bergantungan naik bus POVRI. Kalau tak mau bergantungan naik bus POVRI, naik mobil ayahmu aja, Uden.”
Berta kemudian tertawa.
“Haahh… haahhh. Haahh… haahhh. Hahaha. Uden, Uden. Kasihan deh. Kasihan deh lo.”
Setelah melontarkan candaan itu, Berta segera berlalu dari hadapan Uden.
Candaan Menjadi Kenangan
Bagi Berta, ucapan tersebut mungkin hanya candaan malam Minggu.
Namun, bagi Uden, kata-kata itu terasa berbeda.
Candaan Berta, tawanya, dan perkataannya membuat Uden hanya bisa diam.
Ia tidak mampu membalas.
Uden hanya terduduk.
Wajahnya tersipu-sipu karena mendengar celoteh dan candaan Berta.
Ia bahkan terus menggaruk-garuk kepala karena salah tingkah.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada kemarahan.
Hanya ada seorang remaja yang mendadak kehilangan kata-kata setelah menjadi bahan candaan seorang kawan lama.
Perjalanan pulang sekolah dengan bus POVRI yang awalnya biasa saja akhirnya memiliki cerita tersendiri.
Ada Terminal Sambu.
Ada bus POVRI yang disebut bus Apollo.
Ada penumpang yang berdiri dan bergantungan.
Ada ongkos seratus rupiah yang kemudian disebut “cepek gantung”.
Ada Gang Perdamaian, Pajak Penglam, kompleks PAM Tirtanadi, dan malam Minggu.
Dan ada Berta, kawan masa kecil yang dengan candaan sederhananya berhasil membuat Uden tersipu dan salah tingkah. (Fajaruddin Adam Batubara)

