MEDAN, PILAR MERDEKA – Pajak atau pasar Penglam pernah menjadi bagian penting dari kehidupan warga di sekitar kompleks perumahan PAM Tirtanadi. Bagi Uden, tempat itu bukan sekadar lokasi bertemunya penjual dan pembeli.
Pajak Penglam menyimpan kenangan masa remaja, persahabatan, canda, serta kehidupan sederhana yang kini hanya tersisa dalam ingatan.
Kenangan itu membawa Uden kembali ke tahun 1984 dan 1985. Saat itu, Uden masih pelajar SMP.
Pada Sabtu sore, ketika suasana Pajak Penglam mulai sepi, Uden kerap duduk seorang diri di pagar pipa besi bulat yang berada di teras rumah Kak Ani Doer, di kompleks perumahan PAM Tirtanadi.
Dari tempat itu, Uden dapat melihat aktivitas warga di sekitarnya. Salah satu pemandangan yang sering terlihat adalah kegiatan tiga gadis remaja, Yul, Berta, dan Erna.
Ketiganya tinggal di sekitar kawasan Jalan Laubeng Klewang dan belakang rel. Mereka menjalani rutinitas sederhana yang dilakukan dengan tekun, yaitu mencuci pakaian dan mengambil air bersih.
Di samping rumah Kak Ani Doer terdapat lantai semen dengan sebuah kran selang air. Air terus mengalir dari kran tersebut.
Yul, Berta, dan Erna mencuci pakaian di lantai semen itu. Setelah seluruh pakaian selesai dicuci, mereka membawa ember berisi pakaian pulang ke rumah masing-masing untuk dijemur.
Yul pernah tinggal di Jalan Brigjen Katamso Gang Pardamean, di belakang rel. Sementara Berta dan Erna tinggal di Jalan Laubeng Klewang, dekat Pajak Penglam.
Setelah mengantar pakaian, ketiganya kembali membawa ember kosong. Kali ini, ember itu digunakan untuk menampung air.
Mereka mengisi ember dengan air bersih dari kran. Setelah penuh, ember dibawa pulang ke rumah masing-masing.
Air tersebut kemungkinan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk dimasak atau direbus sebelum diminum. Bagi mereka, membawa ember berisi air merupakan bagian dari rutinitas kehidupan sehari-hari.
Persahabatan Sejak Sekolah Dasar
Yul, Berta, dan Erna bukan orang asing bagi Uden.
Ketiganya sudah dikenal Uden sejak masih anak-anak. Mereka pernah berteman dan sama-sama mengaji di Musholla Kompleks PAM Tirtanadi setelah salat Magrib.
Saat itu, mereka belajar mengaji kepada Pak Ustadz Darman dan Bang Edi.
Yul bahkan merupakan teman sekolah Uden ketika masih SD. Keduanya bersekolah di SD Kesatria, Jalan H.M. Joni, kawasan Pasar Merah.
Hampir setiap hari, Uden dan Yul pergi serta pulang sekolah dengan berjalan kaki.
Namun, keduanya tidak pernah berjalan berdampingan.
Yul biasanya berjalan di belakang Uden dengan jarak sekitar enam meter.
Jarak itu justru sering menjadi kesempatan bagi Uden untuk bercanda.
Suatu ketika, Uden sengaja berhenti berjalan. Yul yang berada di belakangnya ikut berhenti.
“Hei Uden. Cepatlah jalan. Ngapain berhenti-henti,” tegur Yul.
“Suka kulah, Yul. Aku mau berhenti. Aku mau jalan,” jawab Uden.
“Cepat Uden. Cepat jalannya,” pinta Yul.
“Iyalah jidat. Nih, aku jalan cepat,” kata Uden.
“Hohohhh… Uden, Uden,” jawab Yul dengan wajah cemberut.
Panggilan “Yul jidat” memang sering membuat Yul kesal. Kening Yul sedikit menonjol sehingga Uden menjadikannya bahan candaan.
Meski cemberut dan kesal, Yul tidak menyimpan dendam.
Berta juga pernah mengalami hal serupa. Kening Berta sedikit menonjol sehingga ketika dipanggil “Berta jidat”, ia biasanya langsung menunjukkan wajah cemberut dan sorotan mata tajam.
Namun, seperti Yul, Berta tidak menyimpan dendam.
Itulah bentuk persahabatan mereka ketika masih remaja. Candaan sederhana dapat membuat kesal sesaat, tetapi tidak sampai merusak pertemanan.
Candaan di Sore Hari
Kenangan lain muncul pada suatu Minggu sore.
Uden kembali duduk di pagar pipa besi bulat di teras rumah Kak Ani Doer. Dari sana, ia melihat Yul berjalan membawa ember berisi air.
Rambut Yul saat itu terurai panjang, keriting lebat, dan mencapai sebahu.
Ketika mata Uden dan Yul bertemu, Uden segera menyapa.
“Hai Yul. Rambutmu indah sekali. Pakai sampo apa ya? Jangan pakai sampo sabun cap telepon, Yul,” celetuk Uden.
Mendengar candaan itu, Yul langsung melotot tajam ke arah Uden.
“Huuhhh… Uden, Uden. Dasarlah kau Uden,” ketus Yul.
Beberapa menit kemudian, Berta berjalan di depan Uden sambil membawa ember berisi air.
Berta memiliki rambut keriting yang sedikit kribo.
Uden kembali melontarkan candaan.
“Berta, Berta. Rambutmu pirang sekali. Mirip kayak orang bule. Sering pakai sampo lidah buaya dan sampo urang-aring, ya?” tanya Uden.
“Uden, Uden. Hari begini masih cerita sampo. Masih cerita rambut bule lagi. Huhhh… huhhh Uden, Uden,” jawab Berta.
Tak lama kemudian, Erna muncul dari tempat mencuci pakaian di samping rumah Kak Ani Doer. Ia berjalan membawa ember berisi air dengan rambut terurai sebahu.
Uden kembali menyapa.
“Erna, Erna. Rambutmu indah sekali. Pakai sampo Sunsilk, ya? Semerbak harumnya mewangi?” canda Uden.
“Uden, Uden. Gombal, gombal ajalah kau Uden. Aku pun kau gombal-gombal jugalah Uden,” kritik Erna sebelum berlalu.
Candaan-candaan itu terdengar sederhana. Namun, bagi Uden, semuanya menjadi potongan kecil dari masa remaja yang sulit dilupakan.
Malam Minggu
Sepekan kemudian, malam Minggu tiba.
Uden kembali duduk di tempat yang sama, di pagar pipa besi bulat di teras rumah Kak Ani Doer. Ia duduk sendiri menghadap ke arah Pajak Penglam.
Tidak lama kemudian, Uden melihat Yul, Berta, dan Erna.
Ketiganya tampak berdandan rapi dengan gaya remaja pada masa itu. Mereka berjalan bersama dan kemudian duduk-duduk di pagar pipa besi bulat di teras rumah Kak Ani Doer yang menghadap Jalan Laubeng Klewang.
Malam itu mereka tampak akur dan kompak.
Mereka makan sate Padang bersama.
Setelah selesai makan sate, Yul, Berta, dan Erna menikmati kerupuk udang berwarna putih. Mereka kemudian berpindah tempat dan duduk di atas meja warung Kak Ani Doer.
Di sela-sela makan kerupuk, Berta beberapa kali menyanyikan lagu “I Just Called to Say I Love You” dari Stevie Wonder, yang disebut dalam kenangan Uden sebagai lagu yang hits pada 1984.
Berta menyanyikannya dengan penuh keceriaan.
Suasana malam itu terasa hidup. Ada tawa, makanan, nyanyian, dan persahabatan yang sederhana.
Namun, malam terus berjalan.
Yul kemudian mengingatkan kedua temannya bahwa waktu sudah menunjukkan sekitar pukul setengah sepuluh malam.
“Woii… sudah jam setengah sepuluh malam. Pulanglah aku,” ucap Yul.
“Iyalah. Pulanglah kita, sudah malam,” kata Berta.
“Yok, yok, yok. Pulanglah kita,” ucap Erna.
Ketiganya kemudian melangkahkan kaki bersama menuju Jalan Laubeng Klewang sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Malam Minggu itu pun berakhir.
Bagi mereka mungkin hanya sebuah malam biasa. Namun, bertahun-tahun kemudian, bagi Uden, peristiwa sederhana tersebut berubah menjadi kenangan yang sangat berharga.
Air Bersih Jadi Perjuangan
Kenangan tentang Yul, Berta, dan Erna membawa Uden mengingat kembali kehidupannya sendiri ketika sudah berumah tangga dan anak-anaknya masih kecil.
Sekitar tahun 2003, Uden pernah tinggal di kawasan Jalan Kolam, Medan Estate, Kecamatan Percut Sei Tuan, dekat ujung tol Bandar Selamat.
Saat musim kemarau dan sumur mengering, Uden harus membawa ember untuk membeli air dari tetangga yang memiliki air leding.
Air itu dibawa pulang menggunakan ember untuk kebutuhan minum sehari-hari setelah dimasak atau direbus.
Ketika air sumur menjadi kotor, Uden juga harus membuat saringan air agar mendapatkan air yang lebih bersih dan dapat digunakan.
Pengalaman tersebut membuat Uden kembali teringat pada Yul, Berta, dan Erna yang dahulu harus bolak-balik membawa ember berisi air bersih dari kran di samping rumah Kak Ani Doer.
Kini, keadaan telah berubah.
Dahulu, menurut kenangan Uden, belum ada pengusaha air minum isi ulang seperti yang banyak ditemui sekarang. Warga yang membutuhkan air bersih harus mencari sumber air dan membawanya sendiri.
Kini, air minum isi ulang mudah ditemukan. Warga cukup membawa galon untuk mendapatkan air yang siap dibawa pulang.
Perubahan itu membuat pengalaman membawa ember air pada masa lalu terasa semakin jauh.
Kisah Pet Umum
Uden juga mengingat cerita dari orangtuanya tentang kehidupan pada era 1950-an hingga 1970-an.
Menurut cerita tersebut, setiap kelurahan dahulu memiliki kamar mandi umum atau pet umum.
Warga datang ke tempat itu untuk mandi dan mencuci pakaian.
Mereka membawa ember kecil yang berisi sabun dan handuk. Di tempat tersebut, warga mandi dan mencuci bersama-sama sebelum kembali ke rumah.
Kamar mandi umum juga dijaga bersama. Warga kompak menjaga kebersihannya agar tetap dapat digunakan.
Kini, pemandangan seperti itu semakin jarang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu alasan yang disebut dalam kenangan tersebut adalah karena warga sudah memiliki kamar mandi sendiri di dalam rumah.
Pet umum akhirnya perlahan menjadi bagian dari cerita masa lalu.
Pajak Penglam dalam Ingatan
Begitu pula dengan Pajak Penglam.
Dahulu, Pajak Penglam dikenal sebagai tempat bertemunya pembeli dan penjual. Kawasan itu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Di tempat yang sama, Uden pernah duduk berlama-lama di pagar pipa besi bulat di teras rumah Kak Ani Doer.
Dari sana, ia melihat Yul, Berta, dan Erna membawa ember, mencuci pakaian, mengambil air, bercanda, makan sate Padang, menikmati kerupuk, dan menyanyikan lagu.
Kini, semua itu telah berlalu.
Pajak Penglam yang dahulu menjadi tempat bertemunya pembeli dan penjual tidak lagi hadir seperti dalam kenangan Uden.
Pet umum juga tinggal cerita.
Rutinitas membawa ember air, mencuci bersama, dan berjalan pulang pada malam hari menjadi gambaran kehidupan yang semakin jauh dari keseharian sekarang.
Namun, kenangan tidak ikut hilang.
Bagi Uden, masa itu tetap hidup melalui cerita tentang tiga sahabat masa kecilnya: Yul, Berta, dan Erna.
Ada canda tentang “jidat”. Ada rambut keriting yang menjadi bahan lelucon. Ada ember berisi air yang dibawa pulang. Ada sate Padang, kerupuk udang, dan lagu Stevie Wonder yang dinyanyikan dengan riang.
Semua terlihat sederhana.
Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya begitu berharga.
Ketika waktu terus berjalan dan tempat-tempat lama menghilang, yang tersisa hanyalah ingatan.
Dan di dalam ingatan Uden, Pajak Penglam bukan sekadar nama sebuah tempat, melainkan potongan kehidupan masa remaja yang pernah begitu dekat, hangat, dan nyata. (Fajaruddin Adam Batubara)

