BOGOR, PILAR MERDEKA – Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Merdeka Bogor tampil memukau dalam kegiatan Babakti Tugu Kujang yang mengusung tema “Babakti Ka Lemah Cai, Rumawat Budaya Bangsa” di pelataran Tugu Kujang, Kota Bogor, Minggu (7/6/2026).
Kegiatan Babakti yang menjadi simbol komitmen menjaga dan merawat warisan leluhur tersebut diawali dengan pelepasan Kirab Pusaka Kujang oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, dari rumah dinas wali kota. Kirab kemudian bergerak menuju kawasan Tugu Kujang dengan diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai komunitas budaya dan masyarakat.
Setibanya di lokasi acara, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi penyerahan Kujang Pusaka Sanghyang Raksa Buana dari Kepala Bidang Kebudayaan kepada Ketua Panitia, Ki Tjetjep Toriq. Prosesi tersebut diteruskan dengan ritual penuangan air dari tiga sumber mata air yang diiringi doa bersama sebagai simbol penghormatan terhadap alam dan leluhur.
Suasana semakin semarak dengan penampilan beragam komunitas seni budaya yang menampilkan tari tradisional, pencak silat, rampak sekar, paduan suara, musik tradisi hingga debus. Di antara sejumlah penampil, KPJ Merdeka Bogor menjadi salah satu kelompok yang berhasil menyedot perhatian pengunjung meskipun tampil pada rangkaian akhir acara.
Dipimpin oleh vokalisnya, Tohir Kulikulo, KPJ membawakan lagu legendaris Pakuan Padjajaran, karya mendiang Hany Merdeka. Lagu tersebut menggambarkan perjalanan panjang sejarah Kota Bogor, mulai dari masa prasejarah, kejayaan Kerajaan Pakuan Pajajaran hingga era kolonial, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai penanda jati diri masyarakat Sunda.
Penampilan kemudian dilanjutkan dengan lagu Ciliwung, karya cipta Tohir Kulikulo. Dengan balutan melodi Sunda yang rancak, lagu tersebut mengangkat keindahan Sungai Ciliwung sekaligus menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi sungai yang kini menghadapi berbagai persoalan pencemaran akibat sampah dan limbah.
Menurut Tohir, kondisi sejumlah situs sejarah yang kurang terawat serta kerusakan lingkungan menjadi cerminan menurunnya kepedulian terhadap warisan leluhur dan alam. Ia mengingatkan bahwa situs budaya yang terbengkalai dan lingkungan yang tidak dikelola dengan baik dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan masyarakat.
“Situs budaya yang tidak dirawat dengan baik dan lingkungan alam yang tidak dikelola dengan sungguh-sungguh dapat menjadi sumber masalah bahkan bencana. Karena itu, sebelum terlambat, mari bersama-sama membenahi dan merawatnya agar Kota Bogor tetap asri, indah, serta memiliki nilai sejarah yang tinggi sebagai kota pusaka urang Sunda,” ujarnya.
Dalam penampilan tersebut, KPJ Merdeka Bogor menghadirkan sejumlah personel yang sehari-hari berjuang sebagai musisi jalanan. Mereka terdiri atas Royes (melodi), Keling (jimbe), Putra (gitar), Panca (celempung), Uyung (karinding), Dugong (ukulele), serta Tohir Kulikulo sebagai vokalis.
Penampilan KPJ kali ini semakin istimewa dengan kehadiran Ketua KPJ Bekasi, Remon, yang turut menyuguhkan musikalisasi puisi bertema pusaka Nusantara.
Kehadirannya menambah semarak suasana sekaligus memperkuat pesan pelestarian budaya dan lingkungan yang menjadi ruh utama kegiatan Babakti Tugu Kujang tahun ini. (Agus Oyenk )

