MEDAN, PILAR MERDEKA – Di tengah ramainya aktivitas warga Kota Medan, sosok badut penjaja balon bernama Rio (38) menjadi pemandangan yang tidak asing. Dengan kostum badut dan balon warna-warni di tangannya, ia berkeliling menghadirkan senyum bagi anak-anak.
Badut penjaja balon Rio memulai harinya sejak pagi. Warga Pulo Brayan, Medan, itu berangkat dari rumah sekitar Jam 09.30 WIB menggunakan angkutan kota (angkot). Sebelum mulai bekerja, ia terlebih dahulu menumpang di rumah keluarga untuk berganti pakaian.
Setelah mengenakan kostumnya, Rio mulai berkeliling menjajakan balon warna-warni dengan berbagai motif. Kawasan yang biasa menjadi tempatnya mencari rezeki antara lain di kawasan Taman Beringin, Taman Ahmad Yani, sekolah dan sejumlah lokasi ramai lainnya di Kota Medan.
Pada akhir pekan Sabtu – Minggu, Rio memilih kawasan Sun Plaza Medan sebagai lokasi berjualan. Di tempat itu, ia menawarkan balon kepada keluarga yang sedang berlibur atau berjalan-jalan bersama anak-anak mereka.
Perjuangan badut penjaja balon Rio tidak dimulai dari profesi yang dijalaninya sekarang. Sebelum menjadi penjual balon keliling, ia pernah berdagang buah-buahan dan ikan teri di pasar.
Namun, pandemi Covid-19 mengubah kehidupannya. Usaha yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga mengalami keterpurukan. Kondisi itu memaksanya mencari jalan lain untuk bertahan hidup.
Saat usahanya tidak lagi berjalan, Rio merantau ke Jakarta dan coba jualan kerupuk. Tak lama bertahan. Ia lalu ke Pekanbaru jualan balon mengenakan kostum badut. Namun pekerjaan itu pun sama, tidak berlangsung lama.
Cobaan kembali datang ketika orang tuanya meninggal dunia pada sekitar tahun 2022. Setelah kehilangan orang yang dicintainya, Rio memutuskan pulang dari Pekanbaru dan kembali menetap di Medan.
Dari titik itulah ia memulai lembaran baru sebagai penjaja balon keliling berjalan kaki dengan mengenakan kostum badut.
Badut penjaja balon Rio mengaku kostum yang digunakannya menjadi bagian penting dalam pekerjaannya. Saat masih berada di Jakarta, ia pernah membeli kostum badut di Tanah Abang.
Kini, kostum yang dikenakannya dibeli secara online. Harga baju badut yang digunakannya sekitar Rp300.000. Sementara rambut dan topeng badut dibeli dalam satu paket dengan harga sekitar Rp65.000.
Tidak hanya berjualan balon di jalanan, Rio juga kerap menerima panggilan untuk menghibur di acara ulang tahun dan tahun baru. Dengan kostum dan balon warna-warni, ia berusaha menghadirkan keceriaan bagi anak-anak yang menjadi penontonnya.
Menurut Rio, ia tidak punya patokan harga khusus saat menghibur di acara ulang tahun ataupun acara lainnya. Balon tetap dijual seharga Rp2000 perbalon. Baginya, yang penting dagangan laku dan bisa bawa pulang hasil untuk keluarga.
“Pernah dipesan di acara seorang dokter atupun orang kaya. Lumayan, saat itu saya dikasih Rp 800.000,” ujarnya, di kawasn Sun Plaza Medan, Jalan KH. Zainul Arifin, Minggu sore (31/5).
Selain menggunakan kostum badut, terkadang ia juga mengenakan karakter lain seperti Boboiboy dan Doraemon saat bekerja, termasuk kostum yang menyerupai tokoh kartun favorit anak-anak.
Keluarga menjadi alasan utama Rio tetap bertahan menjalani pekerjaannya. Ia merupakan ayah dari tiga anak laki-laki.
Anak sulungnya saat ini duduk di kelas tiga sekolah dasar. Anak kedua masih kelas dua sekolah dasar. Sementara anak bungsunya akan mulai masuk sekolah dasar pada tahun ini.
Sebagai kepala keluarga, Rio menyadari bahwa pekerjaannya mungkin terlihat berbeda dari kebanyakan orang. Namun ia tidak pernah merasa malu karena pekerjaan tersebut dilakukan dengan cara yang halal.
Anak sulungnya bahkan sudah mengetahui bahwa sang ayah bekerja sebagai penjaja balon dengan mengenakan kostum badut.
Salah satu kalimat yang paling membekas di hati Rio datang dari anaknya sendiri. Dengan polos, sang anak mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dipermalukan dari pekerjaan ayahnya.
“Ayah kan tidak minta-minta. Ayah kan usaha, kenapa malu,” kata anaknya, sebagaimana ditirukan Rio.
Kalimat sederhana itu menjadi penguat bagi Rio dalam menjalani hari-harinya di jalanan.
Kepada anak-anaknya, Rio selalu menanamkan pemahaman bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan jujur dan halal adalah sesuatu yang harus dibanggakan.
Ia menjelaskan kepada mereka bahwa dirinya bekerja untuk mencari nafkah, bukan melakukan tindakan kriminal ataupun meminta-minta kepada orang lain. Semua dilakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Sementara itu, istrinya juga ikut membantu perekonomian rumah tangga dengan berjualan di pasar.
Di balik kostum badut dan balon warna-warni yang membawa tawa bagi anak-anak, tersimpan kisah perjuangan seorang ayah yang terus bekerja tanpa menyerah. Bagi Rio, setiap balon yang terjual bukan sekadar mainan, melainkan harapan untuk masa depan keluarganya. (Monang Sitohang)

