Oleh Wilmar Eliaser Simandjorang
Di hampir setiap rapat marga, musyawarah adat, atau pertemuan perkumpulan, ada satu pemandangan yang terus berulang: sebelum acara dimulai, beberapa orang sudah lebih dulu menempati barisan depan. Kursi-kursi yang dianggap strategis segera terisi, seolah terdapat keyakinan tidak tertulis bahwa posisi tersebut memang layak diduduki.
Dalam tradisi Batak, gejala ini dikenal dengan istilah marsiadu tujolo. Marsiadu berarti saling mendahului, sedangkan tujolo berarti ke depan. Istilah ini bukan sekadar menggambarkan perpindahan tempat duduk, melainkan kecenderungan sosial untuk selalu berada di posisi paling depan dalam ruang kebersamaan.
Sekilas, hal itu tampak sederhana. Namun dalam kebudayaan, posisi tidak pernah benar-benar netral. Ruang selalu mengandung simbol. Yang berada di depan lebih mudah terlihat, lebih cepat dikenali, dan sering kali dianggap memiliki bobot sosial yang lebih besar. Karena itu, keinginan untuk berada di depan sesungguhnya bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga soal pengakuan.
Di titik inilah makna marsiadu tujolo menjadi menarik dibaca sebagai refleksi budaya. Ia memperlihatkan bagaimana manusia, bahkan dalam ruang persaudaraan sekalipun, tetap memiliki dorongan untuk memperoleh legitimasi sosial. Kehadiran ingin diakui, posisi ingin diperhatikan, dan eksistensi ingin dipastikan tetap terlihat dalam lingkaran bersama.
Masalah mulai muncul ketika simbol perlahan mengambil alih makna kebersamaan. Ruang musyawarah yang semestinya menjadi tempat berpikir bersama berubah menjadi ruang penataan posisi sosial. Yang dicari bukan lagi kontribusi, melainkan keterlihatan. Energi kolektif terserap bukan untuk menyelesaikan persoalan, tetapi untuk memastikan siapa berada di depan dan siapa berada di belakang.
Fenomena ini sesungguhnya memperlihatkan perubahan halus dalam cara pandang terhadap kehormatan. Kehormatan tidak lagi dipahami sebagai buah dari keteladanan dan tanggung jawab, melainkan sebagai sesuatu yang harus tampak secara visual. Kursi depan kemudian menjadi bahasa diam tentang status sosial.
Padahal, dalam pandangan hidup Batak, kebersamaan dibangun di atas keseimbangan relasi. Falsafah dalihan na tolu mengajarkan bahwa setiap orang memiliki posisi dan peran yang saling melengkapi. Tidak ada kehormatan yang berdiri sendiri tanpa penghormatan kepada yang lain. Karena itu, tata hubungan sosial tidak pernah dimaksudkan sebagai arena saling mendahului.
Hal tersebut terlihat jelas dalam tata ruang adat Batak. Dalam pertemuan adat di atas amak nabolak atau hamparan tikar, posisi duduk diatur berdasarkan relasi sosial dan tanggung jawab adat. Hasuhuton menempati jabu bona, dongan tubu berada di jabu suhat, dongan sahuta bersama ale-ale berada di jabu tampiring, sementara hula-hula menempati posisi terhormat di jabu soding. Unsur lainnya berada sesuai peran masing-masing.
Susunan itu menunjukkan bahwa posisi bukan ditentukan oleh siapa yang paling cepat datang atau paling ingin terlihat, melainkan oleh keteraturan sosial yang diwariskan lintas generasi. Dengan demikian, tata ruang adat sesungguhnya mengandung pelajaran tentang etika: bahwa setiap tempat memiliki makna dan setiap peran memiliki kehormatan.
Nenek moyang Batak meninggalkan pesan yang sederhana namun mendalam: “Hundul marsiadopan, rap marsipaidaan”—duduk saling berhadapan agar dapat saling melihat. Yang ditekankan bukan siapa yang paling depan, melainkan bagaimana setiap orang tetap hadir dalam kebersamaan yang setara.
Pesan ini sejalan dengan ajaran dalam Lukas 14:7–11 ketika Yesus menegur orang-orang yang memilih tempat terhormat dalam suatu perjamuan. Ia mengajarkan agar seseorang tidak tergesa-gesa mengambil tempat paling depan, sebab kehormatan sejati bukanlah sesuatu yang direbut, melainkan sesuatu yang diberikan melalui kerendahan hati. “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Dalam makna yang lebih luas, ajaran ini bukan sekadar tentang posisi duduk, tetapi tentang etika menempatkan diri dalam kehidupan bersama.
Dalam kehidupan modern, pesan itu terasa semakin relevan. Banyak ruang kebersamaan hari ini perlahan berubah menjadi ruang pencitraan. Orang lebih sibuk memastikan dirinya terlihat daripada memastikan pekerjaannya memberi manfaat. Kehadiran sering diukur dari posisi, bukan dari kontribusi.
Padahal, kebudayaan Batak sejak awal tidak dibangun untuk memuliakan posisi, melainkan untuk menjaga keseimbangan dan saling menghormati. Karena itu, menarik membayangkan sebuah pertemuan tanpa kursi kehormatan, tanpa barisan paling depan, di mana semua duduk melingkar sebagai sesama. Dalam ruang seperti itu, yang terlihat bukan siapa yang paling ingin diperhatikan, melainkan siapa yang benar-benar datang untuk bekerja dan memberi manfaat.
Pada akhirnya, marsiadu tujolo bukan sekadar istilah tentang saling mendahului. Ia adalah cermin tentang bagaimana manusia memaknai kehormatan dalam ruang sosial. Kebudayaan mengingatkan bahwa kehormatan sejati tidak lahir dari posisi, melainkan dari sikap, ketulusan, dan tanggung jawab.
Kursi pada waktunya akan kosong. Jabatan akan berganti. Foto-foto akan memudar. Namun jejak keteladanan akan tetap hidup dalam ingatan bersama.
Karena itu, yang paling penting bukanlah siapa yang duduk paling depan, melainkan siapa yang tetap berdiri paling teguh dalam kerja, pengabdian, dan tanggung jawab terhadap sesama.

