MEDAN, PILAR MERDEKA – Kabar tentang Kodrat Wisnu Sugeng atau yang akrab disapa Babe membuat hati banyak alumni BPLP-Akpar-Poltekpar Medan terkejut. Dosen yang dikenal hangat dan dekat dengan mahasiswa itu kini terbaring lemah di ruang rawat inap Rumah Sakit Bunda Thamrin, Jalan Sei Batang Hari, Kota Medan.
Informasi itu pertama kali beredar di grup WhatsApp alumni Poltekpar Medan pada Sabtu malam, 16 Mei, Jam 23.06 WIB. Dalam pesan itu disebutkan Babe Kodrat sedang dirawat intensif.
Kodrat Wisnu Sugeng merupakan sosok dosen juga penyandang DAN III Internasional Taekwondo yang telah purna tugas sebagai ASN Kementerian Pariwisata dan mengabdi sebagai dosen di Politehnik Pariwisata (Poltekpar) Medan.
Bagi banyak alumni, ia bukan sekadar pengajar, tetapi juga sahabat, orang tua, bahkan tempat berbagi cerita kehidupan.
Kabar sakitnya Babe langsung menyatukan hati para alumni. Rodiah Siregar, Beby Purba, Jiah, May dari angkatan II, bersama Monang angkatan III sepakat menjenguk pada Senin pagi (18/5).

Sekitar Jam 11.00 WIB mereka tiba di ruang rawat inap 909 lantai 9 Rumah Sakit Bunda Thamrin. Di sana, Ronnie angkatan pertama ternyata sudah lebih dulu hadir bersama dua sahabat Babe dan Puput, putri sulung Babe.
Suasana mendadak hening saat pintu ruangan rawat inap dibuka.
Babe pemilik hobby sepeda itu terlihat terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit. Tangannya dipasangi infus. Selang NGT terpasang dari hidung menuju lambung untuk membantu pemberian nutrisi. Wajah pria yang dulu dikenal ceria dan gesit itu tampak tenang, namun tubuhnya menyimpan perjuangan panjang melawan sakit.
Para alumni berdiri mengelilingi tempat tidur. Tidak ada tawa. Tidak ada percakapan panjang. Yang terdengar hanya suara lirih penuh rasa hening.
Satu per satu para alumni mencoba menguatkan dengan memberi semangat. “Ayo be tetap semangat, biar cepat sembuh biar bisa kumpul-kumpul lagi be,” ujar salah seorang dari mereka.
“Bang Ron sampaikan lah tujuan dan maksud kedatangan kita selain menjenguk Babe,” ujar Beby pelan.
Ronnie kemudian berbicara di dekat Babe. “Insyaallah besok Pak Kodrat mau pulang. Pak Kodrat, ini yang datang dari alumni BPLP, Akpar, Poltekpar. Insyaallah mereka mendoakan penyembuhan yang terbaik, pengobatan lebih lancar,” ucapnya.
Ronnie juga menyerahkan tanda kasih dari para alumni yang tidak sempat hadir. “Ini ada titipan dari alumni yang turut mendoakan Pak Kodrat. Mohon diterima ya Pak,” katanya lagi.

Kalimat itu membuat Babe tak kuasa menahan air mata.
Ia memang sudah tidak mampu berbicara lagi. Namun matanya menjawab semua rasa rindu dan kasih sayang yang datang siang itu. Air mata mengalir perlahan dari sudut matanya. Ruangan kembali hening dan menahan haru.
“Papa gak bisa ngomong lagi. Tapi masih merespon apa yang kita bicarakan. Kalau kita melucu dia ikut ketawa,,” ujar Puput.
Puput mengatakan dokter juga sudah melarang ayahnya terlalu banyak bergerak dan menjadwalkan pulang ke rumah Selasa sore, 19 Mei. “Kalau om dan tante mau datang ke rumah, papa di rumah saya di Komplek TPI Ring Road Blok A Nomor 4,” katanya.
Di tengah suasana sedih itu, kenangan tentang Babe mulai mengalir satu per satu.
Jiah mengenang perjalanan bersama Babe pada tahun 1993-1994. Saat itu Babe bersama dua dosen dari Parapat menuju Siantar singgah di rumah Jiah dengan menggunakan VW Safari orange miliknya yang sangat terkenal di kalangan mahasiswa.
“Tahu gak saya saat itu numpang ke Medan bersama Babe tapi ada yang bikin saya kaget, sampai Lubuk Pakam Babe bilang sebenarnya mobil ini gak ada remnya,” cerita Jiah sambil tertawa.

Ia mengaku langsung panik karena saat itu hanya dirinya perempuan yang ikut di mobil tersebut. Namun kisah itu kini menjadi kenangan yang selalu membuatnya tersenyum.
Bagi Beby Purba, Babe adalah dosen yang santun dan penuh tanggung jawab.
Saat ada acara malam inaugurasi kampus, Babe selalu menunggu mahasiswa sampai dijemput orang tua mereka. “Beliau memastikan mahasiswanya dijemput orang tuanya masing-masing dan aman dulu baru pulang,” kenang Beby.
Ia juga mengingat pengalaman lucu saat itu camping sejumlah mahasiswa bersama Babe sebagian menggunakan VW Safari orange milik sang dosen. Mereka mandi di kawasan sungai bersama kerbau, banyak pacat dan nyamuk.
Sepulang camping, tubuh bentol-bentol digigit nyamuk. Namun Babe saat itu malah meminta maaf kepada orang tua saya karena merasa bertanggung jawab.
“Padahal orang tua saya bilang gak apa-apa, biar anaknya dapat pengalaman,” kata Beby sambil tertawa mengenang masa itu.
Ronnie angkatan pertama juga punya cerita yang tak terlupakan.
Ia mengaku menjadi mahasiswa yang paling sering meminjam mobil VW Safari orange milik Babe untuk kegiatan kampus yang saat itu berada di Jalan Perintis Kemerdekaan Medan. “Kalau ada mahasiswa sakit, saya pinjam mobil Babe untuk mengantar. Dan Babe selalu ngasih,” ujarnya.
Bagi Ronnie, Babe bukan hanya dosen. “Beliau itu bisa jadi kawan, sahabat sekaligus jadi orang tua. Babe sangat dekat dengan para mahasiswanya,” katanya.
Rodiah Siregar atau Oddie mengenang momen terakhir bersama Babe pada 17 Desember 2025. Saat itu Babe meminta dimasakkan rendang jengkol.
Rodiah dan Monang datang membawa makanan dan makan bersama di rumah Babe. Dalam pertemuan itu, Babe banyak memberi nasihat kehidupan seperti seorang ayah kepada anak-anaknya.
Sementara May mengenang sosok Babe sebagai dosen yang nyeleneh namun sangat bersahaja.
Di luar kampus, hubungan mereka seperti teman tanpa jarak. Mahasiswa sering diajak bepergian keluar kota menggunakan mobil kesayangan Babe.
Kenangan paling membekas bagi May terjadi pada Juli 2025. Saat itu ia mengunjungi Babe seorang diri di rumahnya.
Meski kondisi kesehatannya mulai menurun, Babe tetap semangat berbicara tentang hidup, hobby bersepeda, dan perjalanan hidupnya.
Malam itu hujan turun. Mereka duduk ditemani kopi hangat dan percakapan panjang penuh makna.
Ada satu kalimat Babe yang hingga kini terus diingat May. “Jalani hidup ini sesuai alur kehidupan. Jangan pernah takut terhadap apa pun. Hanya diriku, Tuhanku dan sepedaku.”
Menjelang Jam 23.00 WIB, hujan berhenti. May pamit pulang.
Layaknya seorang ayah, Babe mengantar sampai ke pintu pagar sambil berpesan agar berhati-hati di jalan.
Kini, sosok yang dulu selalu menguatkan mahasiswa itu terbaring lemah di ruang ICU. Namun cinta para alumni tidak pernah berubah.
Bagi mereka para alumni, Babe Kodrat bukan sekadar dosen. Ia adalah rumah pulang bagi banyak kenangan, tawa, nasihat, dan kasih sayang yang tak akan hilang dimakan waktu.
“Do’a kami senantiasa menyertai Sang Dosen Gaul-Babe Kodrat. Semoga segera pulih sediakala, amiinn…” (Monang Sitohang)

