MEDAN, PILAR MERDEKA – Lintas generasi adalah menembus batas peradaban generasi terdahulu, dan bukti proses lika liku kehidupan setiap insan tak terbantahkan pasti dilalui. Kakek/nenek, anak dan cucu punya dan mengalami fase yang berbeda di zamannya. Apakah setiap fase lintas generasi itu ‘terukir’, tergantung pelakunya.
Sebagaimana Dwikora Guyub membuktikan, dalam simpul dan ruang mungil di Cafe Ungu Pulo Brayan, Kota Medan, Dwikora Guyub menjembati silaturahmi lintas generasi tiga zaman, kisah sekitar 40-50 tahun silam di Jalan Dwikora, Medan Perjuangan (dahulu Medan Timur).
Kalau tidak salah, Jalan Dwikora diapit dua jalan, yakni Jalan Pasar 2 dengan Jalan Maphilindo serta berada diantara Gang Mesjid diujung barat, Gang Sepakat, Mangga, Setia, Nangka, Sekolah, ABC dan Gang Rukun Damai di ujung timur. Lokasi itu masuk Wilayah Kelurahan Tegal Rejo, Kecamatan Medan Perjuangan. Pemukiman penduduk di seputar Jalan Dwikora, sudah dihuni sejak ratusan tahun lampau. Terdiri dari beragam suku, dan agama.
Kilas balik ke 50 tahun lalu, warga yang berdomisili diantara Jalan Pasar 2, Jalan Maphilindo, Gang Mesjid hingga Gang Rukun Damai, mayoritas bersuku Jawa, diikuti Batak, Minang, Aceh dan Melayu. Sementara, agama mayoritas Islam, Protestan, Katholik dan bahkan masih ada beraliran Kejawen.

Pada masa itu, tak sedikit orang tua bersuku Jawa berumur diatas 75 tahun, bahkan berumur 100 tahun lebih, diantaranya Mbah Salim dan Mbah Keling 90 tahunan. Tak terhindarkan, terjadi perkawinan silang antar suku, Suku Jawa dengan Batak, Aceh, Minang, Melayu, Batak dengan Aceh, Minang, Melayu dan sebaliknya. Secara spesifik, hingga kini anak, cucu, cicid, buyut kedua lansia yang telah tiada itu, dan sejumlah warga bersuku Jawa lainnya, masih mendominasi jumlah penduduk di Jalan Dwikora sekitarnya.
Siapa saja warga Daikora yang masih ingat dan merasakan kehidupan bertetangga di tahun 70-an sampai tahun 1980 , tak ada batas perbedaan suku dan agama dalam menjalin pertemanan. Terkesan, pergaulan mengalir tanpa sekat perbedaan. Sederhananya, tak pernah terjadi konplik atau permasalahan karena faktor perbedaan tersebut. Hidup bergotong-royong baik dalam suka maupun duka adalah cermin warga Jalan Dwikora.
Contoh, jika seorang warga kemalangan/berduka cita, warga lainnya tidak melihat agama dan sukunya, pasti menampakkan diri turut berkabung, dan ringan tangan untuk membantu minimal tenaga. Begitu juga bila seorang warga sedang bersukaria seperti acara pernikahan/perkawinan, muda-mudi hingga orang tua di Dwikora, kerap berpartisipasi mengulurkan tangan.
Gambaran secara umum, harmoni, toleransi dan rasa kekeluargaan di tengah warga Dwikora tersebut, terlihat begitu mengakar pada masanya. Terbukti, harmoni, rasa kekeluargaan dan toleransi itu masih membekas, dan tegur sapa-silaturahmi berlangsung hingga sekarang, meskipun tidak mutlak sediakala.
Terjalin kembali

Tak terbantahkan, dewasa ini, kecanggihan teknologi komunikasi melalui sinyal alat komunikasi handphone-android mampu menjelajah ke pelosok negeri, bahkan hingga ke lima benua. Karenanya, jarak tak lagi penghambat untuk berkomunikasi, tak bisa bertatap muka secara langsung, tapi mampu tergantikan lewat video call.
Tak sedikit generasi, mulai generasi kedua sampai ketiga dari warga Dwikora telah migrasi ke sejumlah propinsi di luar Sumatera Utara. Seperti Propinsi NAD, Riau, DKI Jakarta, Jawa Timur sampai Propinsi Kalimantan Timur. Kini, teman semasa kanak-kanak dan remaja bisa terkoneksi satu sama lain meskipun sudah puluhan tak bersua.
Sekarang, komunikasi sudah aktif sesama teman lama. Walaupun saat ini sebagian teman belum bisa berjabat tangan, tapi paling tidak sudah bisa mendengar suara para perantau nan jauh di sebarang pulau, dan saling bertatap wajah via video call. Terimakasih buat Dwikora Guyub yang telah mewadahi perkumpulan bagi “anak-anak” Dwikora dalam grup WhatsApp. Sehingga komunikasi dua arah semasa teman puluhan tahun silan bisa terjalin kembali.
Terselip di Hati
Sejenak duduk diatas kursi yang tidak begitu empuk, merenung sambil menghembuskan asap berkali-kali, terusik ingatan, perlahan ditarik mundur ke masa-masa masih berumur 5-18 tahun di Lingkungan I Dwikora. Satu per satupun muncul kisah-kisah dalam bayangan, ada kisah lucu dan bercampur kisah yang membuat hati jadi terenyuh. Seyum sendiri sembari mata berkaca-kaca mengingat masa anak-anak hingga remaja tersebut. Tak mungkin itu terulang kembali dan tak tergantikan oleh apapun.
Diantara teman-teman, kemungkinan ada yang punya cerita serta kisah serupa dan sebaliknya ada yang berbeda. Kala itu, cerita atau kisah serupa dalam permainan seperti bermain ‘yeye’, menggunakan karet gelang yang sudah dirajut menjadi panjang. Dua ujung karet dipegang dua orang, lalu diputar-putar serta satu orang lainnya melompat-lompat semampunya. Permainan yeye, cenderung oleh para anak cewek yang berumur 6-14 tahun.

Selain permainan yeye, tak ketinggalan juga bermain kuaci, gambar mainan, kelereng/guli, alip cendong, alip batu tin (batu bata yg terbelah dua dan disusun hingga 1/2 meter tingginya). Permainan alip cendong dan alip batu tin mirip main petak umpet. Mainan natural anak “jadul” tersebut bukan permainan musiman, kapan mau bisa dimainkan. Kecuali layangan, tergantung angin dan tidak hujan.
Disamping mainan anak-anak di era antara tahun 70-90-an tersebut, terkenang beberapa kisah masih membekas dalam ingatan, apa itu, numpang nonton televisi (TV) di rumah tetangga. Terkadang, anak-anak rebutan dan tak jarang berdesakan nonton TV lewat jendela. Terpaksa nonton lewat jendela itu, biasanya kalau ada pertandingan sepak bola, badminton dan tinju. Waktu itu, warga masih jarang punya TV dan penerangan listrik, sebagian menyalakan TV menggunakan Batteray Aki 12 volt. Sedangkan penerangan rumah, kebanyakan masih lampu petromax dan sentir.
Biisa dihitung jari tangan sebelah pemilik TV di Jalan Dwikora antara Gang Mesjid dengan Gang Mangga, yakni keluarga Asnidar Matondang, Asmini Fitriani Nasution, Bambang Dongoran, Ratna Siagian, dan di Gang Sepakat hanya keluarga Ega yang punya TV, tetapi masih menggunkan Batteray Aki 12 volt.
“Arisan Kue”
Lebaran Idul Fitri dan Tahun Baru dirayakan satu kali dalam setahun oleh masing-masing pemeluk agamanya. Moment perayaan itu merupakan suasana penuh rasa haru biru, bergembira ria dan berbahagia. Kerap kali, kesempatan tersebut dijadikan ajang silaturahmi paling akbar sesama keluarga yang bernuansa religi.
Pada konteks idul fitri di Dwikora zaman 70-80-an, sebagian anak-anak yang masih berumur 5-13 tahun punya rasa bahagia tersendiri, karena para anak akan dapat ‘salam tempel’. Salam tempel pertama dari sanak keluarga, dan salam tempel kedua dari tetangga non muslim.
Biasanya usai Sholat Idul Fitri, sebagian anak-anak tampak cekatan membawa aneka kue lebaran yang sudah dikemas di dalam piring keramik dan/atau rantang untuk diantar ke rumah tetangga non muslim terdekat jaraknya. Sekembali mengantar, si anak pasti tersenyum mendapatkan satu-dua lembar uang pecahan Rp.100,- di dalam piring dan/atau rantang. Rata-rata tetangga non muslim itu pasti memberikan uang bagi si anak pengantar kue lebaran.
Si anak bisa mendapatkan uang Rp.1.000-2.500 dari mengantarkan kue lebaran ke tetangga non muslim. Namun, kisah masa-masa kecil di Dwikora itu hanya dialami sebagian anak-anak saja, saat ini kebanyakan dari mereka sudah berusia 50-an.
Sebaliknya, di saat Tahun Baru, tetangga non muslim balik mengantarkan aneka kue ke sejumlah tetangga muslim, terutama ke tetangga muslim yang pernah mengantarkan kue kepada si non muslim ketika lebaran. Kayak “arisan kue” sekali satu tahun. Dan saling antaran kue sesama tetangga di Dwikora itu berlangsung pada tahunn70-an hingga pertengahan 80-an.
Kini, warisan saling hantaran kue Lebaran Idul Fitri-Tahun Baru sekali satu tahun itu, sudah tertinggalkan atau sudah tidak ada sama sekali. Semua telah berlalu, waktu terus berjalan maju tak bisa dibeli mundur. Bagaikan mentari terbit dan terbenam mengikuti ritme kodratnya.
Merawat Zaman

Meskipun cerita atau kisah masa-masa dahulu di Dwikora tak mungkin kembali, namun sesama teman-teman kecil di masa lampau yang saat ini sebagian sudah menjadi bapak-ibu dan kakek-nenek, senantiasa terjalin silaturahmi sediakala, dan kalau bisa diwariskan bagi generasi mendatang.
Bukan sedarah/sekandung, tidak sama keyakinan, tak satu suku, dan jenjang sosial ekonomi pun berjarak, semua itu merupakan potret perbedaan diantara sesama teman/kawan-kawan di Dwikora. Tapi nuansa perbedaan itu, tak dijadikan tembok atau jarak pemisah pertemanan-persahabatan , dan hingga saat ini masih terlihat jalinan silaturahmi sesama teman bagaikan air mengalir di wadahnya.
Kata orang-orang bijak terdahulu,”peradaban manusia berkembang mengikuti zamannya”. Asmini Fitriani atau biasa disapa Fitri berkata, biarkan saja zaman berkembang dan semakin canggih, tapi “anak jiwa” kita ciptaan Sang Maha Agung, jangan sampai diperjualbelikan karena kemajuan zaman. Memang, setiap zaman ada masanya, dan setiap masa ada zamannya. Siapa yang merawat zaman pada masanya, niscaya akan terwariskan kepada generasi mendatang.
Cafe Ungu di Pulo Brayan, Kota Medan menjadi sarana dan sekaligus saksi bisu pertemuan dua puluhan orang sesama tetangga warga Dwikora yang telah puluh tahun tak bersua. Beragam cerita/kisah masa lalu dilepaskan, sambil mencicipi hidangan ala Cafe Ungu, sembari beberapa orang bergantian melantunkan sejumlah lagu, mulai alunan dangdut, nostalgia dan lagu Batak berirama syahdu.
“We are an Extended Family of Dwikora Street.” (Laloenk Sitohang)

