MEDAN, PILAR MERDEKA – Simarudan-udan bukan sekadar air terjun. Melainkan kejutan sunyi yang tersembunyi di Desa Sambosar Raya, Kecamatan Raya Kahean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Keindahannya muncul tanpa banyak promosi, namun mampu menggetarkan hati siapa pun yang datang.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kabar tentang Air Terjun Simarudan-udan justru muncul sederhana. Berawal dari unggahan media sosial Instagram milik Thomas Ginting Soeka, keindahan alam ini perlahan menarik perhatian, sehingga Pilar Merdeka.Com melakukan komunikasi, Selasa (20/1) melalui sosial media.
Thomas Ginting merupakan influencer pariwisata asal Langkat yang telah aktif sejak tahun 2020. Ia mengaku mengetahui Simarudan-udan dari unggahan beberapa media sosial, lalu mengatur perjalanan bersama rekan-rekannya. Informasi itu ia pastikan langsung dengan melihat sendiri ke lokasi.
Perjalanan menuju Simarudan-udan ditempuh menggunakan sepeda motor selama sekitar 2,5 hingga 3 jam dari Kota Medan. Rutenya melewati Tebing Tinggi, masuk ke kawasan Perkebunan Pabatu, lalu belok menuju Desa Sipispis hingga tiba di Desa Sambosar Raya.

Dari desa tersebut, perjalanan dilanjutkan dengan belokan ke kiri hingga mencapai area parkir. Biaya parkir hanya Rp5.000 tanpa pungutan lain. Dari titik ini, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 15 menit melewati jalur yang sedikit terjal.
Di sepanjang jalan menuju air terjun, suasana alam terasa kuat. Pepohonan rindang, tanaman sawit, dan udara segar menemani langkah. Meski jalurnya menantang, rasa lelah perlahan terbayar.
Setibanya di lokasi, Air Terjun Simarudan-udan berdiri megah seperti tirai sebab air terjunnya banyak. Airnya jernih dan dingin, jatuh dari ketinggian sekitar 5 hingga 8 meter. Tebing tinggi yang hijau dipenuhi tanaman alami menambah kesan estetik dan alami.
Thomas mengaku takjub saat pertama melihatnya. Menurutnya, Simarudan-udan adalah hidden gem yang masih alami. Namun ia juga menyimpan kekhawatiran, karena kawasan sekitarnya telah banyak ditanami sawit yang berpotensi memengaruhi debit air di masa depan.
Keheningan, suara gemuruh air, dan kesejukan alam menciptakan suasana haru. Air terjun ini bukan hanya indah dipandang, tetapi juga memberi ruang untuk merenung dan merasakan kedekatan dengan alam.

Bagi Thomas, perjalanan ke Simarudan-udan adalah bagian dari kecintaannya pada alam. Ia memilih menjelajah, merekam, lalu membagikan informasi agar keindahan Sumatera Utara dikenal lebih luas.
Sejak 2020, Thomas serius menekuni dunia influencer pariwisata. Melalui akun Instagram, TikTok, dan Facebook atas nama Thomas Ginting Soeka, ia konsisten membagikan destinasi wisata alam.
Perjalanan terjauhnya adalah ke Nusa Tenggara Timur. Dari dunia ini, Thomas merasakan sisi unik: berjalan-jalan sambil menghasilkan uang. Ia pernah di endorse atau bekerja sama dengan maskapai seperti Air Asia dan Garuda Indonesia, serta mendapatkan fasilitas penginapan gratis melalui kolaborasi hotel.
Ia juga sering bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumatera Utara serta Dinas Pariwisata Kabupaten Langkat. Bahkan, Thomas kerap diundang sebagai narasumber dan menerima bayaran.
Namun di balik semua itu, kelelahan fisik adalah harga yang harus dibayar. Menjelajah alam membutuhkan tenaga dan kesiapan tubuh. Meski demikian, semua terbayar lunas oleh keindahan yang ditemui.
Simarudan-udan kini menjadi saksi bahwa keindahan sejati tidak selalu berada di tempat populer. Terkadang tersembunyi, menunggu untuk ditemukan, dirawat, dan dijaga agar tetap hidup untuk generasi berikutnya. (Monang Sitohang)

