BerandaDaerahWali Kota Medan Tegaskan Kolaborasi Jadi Kunci Tanggap Bencana

Wali Kota Medan Tegaskan Kolaborasi Jadi Kunci Tanggap Bencana

MEDAN, PILAR MERDEKA – Suasana pagi di Lapangan Benteng Medan terasa khidmat dan penuh semangat. Di bawah langit yang mendung, ratusan personel dari TNI, Polri, BPBD, Dishub, Satpol PP, hingga Pramuka berdiri tegak mengikuti Apel Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi yang digelar Polrestabes Medan.

Dalam momen yang sarat makna itu, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menegaskan bahwa penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara terpisah. Ia menekankan pentingnya koordinasi menyeluruh antar-stakeholder, mulai dari aparat keamanan hingga sektor kesehatan.

“Penanganan bencana harus dilakukan bersama, melalui koordinasi lintas sektor. Inilah bentuk nyata dari komitmen bersama menghadapi situasi darurat,” ujar Rico Waas dengan nada tegas namun penuh empati.

Apresiasi untuk Sinergi Bersama

Usai apel, Rico meninjau deretan peralatan tanggap bencana yang berjajar di sisi kiri, kanan, dan tengah lapangan. Di sana, ia berbincang langsung dengan Kapolrestabes Medan, Kombes Jean Calvijn Simanjuntak, membahas kesiapan peralatan dan personel yang dimiliki Pemko Medan.

Rico menjelaskan, seluruh perlengkapan dan sumber daya Pemko Medan dapat digunakan secara bersama apabila terjadi bencana. Sikap terbuka itu menunjukkan bahwa sinergi antarinstansi bukan sekadar wacana, tetapi tindakan nyata di lapangan.

“Saya sangat mengapresiasi pelaksanaan apel ini. Ini adalah wujud komitmen bersama untuk memperkuat kesiapsiagaan kita semua,” katanya dengan nada haru dan bangga.

Sebelumnya, Kapolrestabes Medan Jean Calvijn Simanjuntak yang bertindak sebagai pemimpin apel, membacakan amanat tertulis dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dalam amanat itu disebutkan bahwa apel ini bertujuan untuk membangun kesadaran, kesiapsiagaan, serta kemampuan menghadapi keadaan darurat.

Calvijn memaparkan data yang menggugah kesadaran. Berdasarkan catatan BNPB hingga 19 Oktober 2025, Indonesia telah mengalami 2.606 bencana alam. Dari jumlah itu, terdapat 1.289 banjir, 544 cuaca ekstrem, 511 kebakaran hutan dan lahan, 189 tanah longsor, 22 gempa bumi, dan 4 erupsi gunung berapi.

BACA JUGA  Ketua DPRD Sumut Terima Kunjungan KPID Sumut

“Bencana tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi, tetapi juga meninggalkan luka psikologis dan mengganggu kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya dengan nada prihatin.

Dalam suasana yang penuh keharuan, Calvijn menegaskan bahwa kecepatan dan ketepatan respons menjadi faktor utama dalam menyelamatkan nyawa manusia saat bencana terjadi. Karena itu, ia mengajak semua pihak — TNI-Polri, pemerintah daerah, BPBD, Basarnas, PMI, hingga BMKG — untuk memperkuat koordinasi.

“Sinergi dan kolaborasi yang terintegrasi akan memaksimalkan upaya mitigasi. Hanya dengan kebersamaan, kita dapat menurunkan risiko bencana dan melindungi masyarakat,” tegasnya.

Makna Apel

Apel tanggap darurat kali ini bukan sekadar seremoni. Di tengah ancaman bencana hidrometeorologi yang kian meningkat akibat perubahan iklim, kegiatan ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dan kepedulian sosial.

Semangat yang terpancar di wajah setiap peserta apel menggambarkan tekad yang sama — melindungi masyarakat, menyelamatkan nyawa, dan membangun kota yang tangguh menghadapi bencana. (Mons)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH