BerandaFeatureRumah Makan Mandailing di Sei Deli Pertahankan Cita Rasa

Rumah Makan Mandailing di Sei Deli Pertahankan Cita Rasa

MEDAN, PILAR MERDEKA — Sebuah rumah makan yang menggambarkan kesederhanaan, tak ada kesan mewah, justru kayak warung jadul dan sekilas enggan untuk singgah. Bangunan penyanggah kayu, beratapkan seng dan berdinding kawat. Warga Kota Medan biasa menyebutnya Rumah Makan Mandailing, berlokasi di Jalan Sei Deli, Kelurahan Silalas, Kecamatan Medan Barat.

Rumah Makan Mandailing itu menyimpan cerita panjang bak sinetron berseri, terutama tentang rasa, ketekunan dan warisan turun-temurun keluarga. Masakan yang beraroma khas rempah-rempah adalah salah satu daya tarik dan membuat penasaran, jenis makanan apakah gerangan, kira-kira begitu tanya dalam hati, akhirnya singgah untuk mencicipi.

Lantainya dari semen polos, dengan lima meja kayu panjang dan bangku sederhana. Di bagian depan, terdapat etalase minuman jus, sementara di belakangnya berdiri etalase cat biru yang memajang aneka lauk-pauk khas Mandailing. Di sisi samping, ruang terbuka disediakan bagi pengunjung yang ingin menyantap hidangan sambil menikmati semilir angin dan suasana alam sekitar.

Selasa siang (11/11) sekitar pukul 12.27 WIB, suasana rumah makan ini terasa tenang. Hanya ada dua orang pembeli di dalam dan dua di luar. Tak lama, pelayan menyapa ramah, menanyakan, “Makannya mau dihidangkan semua atau memilih lauk?” Dengan senyum, salah satu pengunjung menjawab, “Langsung dihidangkan saja semua, Kak.”

Beberapa menit kemudian, hidangan demi hidangan tersaji di meja panjang luar ruangan. Aroma rempah menggoda dari ikan saleh, rendang ayam kampung, rendang belut, ikan mas arsik, gulai patin, telur bebek gulai, sambal asam khas Mandailing, daun ubi tumbuk, hingga sayur rebusan berupa terong, sawi putih, wortel, dan buncis dibuat dalam satu piring. Semua disajikan lengkap dengan nasi hangat dan tambahan satu piring nasi putih.

BACA JUGA  Oleh-Oleh Khas Medan, Wajib Dicoba dan Dibawa Pulang

“Hmmm… melihat aneka sajian ini, selera makan langsung bangkit,” ujar Nina, salah satu pengunjung, sambil tersenyum.

Rumah
Belut rendang salah satu pesanan awak media Pilar Merdeka.Com saat makan di Rumah Makan Mandailing Sei Deli. (Foto. Pilar Merdeka)

Cita Rasa Bersahabat di Lidah dan Kantong

Santapan pun dimulai. Dengan lahap, Nina dan suaminya menikmati setiap suapan. “Rasanya bersahabat di lidah, pedasnya pas, ikan salehnya lembut, rendang ayam kampungnya juga empuk,” ungkap Nina.

Ia melanjutkan, “Belut rendangnya gurih, telur bebek gulainya juga mantap. Harga makan di sini pun ramah di kantong. Semua itu kami bayar hanya Rp100 ribu, sudah lengkap dengan lauk, satu potong rendang ayam kampung, ikan saleh gulai satu ekor, rendang belut satu porsi, satu butir telur bebek gulai, sayur rebusan, sambal, nasi dua piring plus satu piring nasi tambah, dan keripik.”

Tak lama kemudian, meja-meja yang semula kosong mulai dipenuhi pelanggan. Enam orang duduk di sisi kiri, sementara di depan pintu tampak sepasang suami istri dan sepasang turis muda asal Belanda yang tampak menikmati suasana.

Nina bahkan sempat berfoto bersama pasangan turis Belanda itu, yang tadi memesan rendang ayam kampung dua potong, telur bebek gulai tiga butir, nasi, dan jus jeruk. Mereka tersenyum sambil berkata, “Delicious! Very tasty!”

Rumah
Usai bersantap makan Nina bersama sepasang turis Belanda, Hj. Afrida Harahap. (Foto. Istimewa)

Warisan Cita Rasa Sejak 1969

Dibalik kelezatan ini, ada sosok perempuan tangguh – Hj. Afrida Harahap, akrab disapa Afni, putri dari pendiri rumah makan tersebut. Ia mengenang awal mula berdirinya rumah makan ini pada tahun 1969. Almarhum Ayah asal Padang Bolak sedangkan Oma asal Kotanopan.

“Dulu kawasan ini masih tempat penyimpanan bus antar daerah dari Mandailing dan daerah lainya. Oma mulai berjualan lontong untuk para sopir, kenek dan pekerja doorsmear. Lama-lama, permintaan nasi meningkat karena orang Mandailing kalau makan lontong saja kurang kenyang,” tutur Hj. Afni sambil tersenyum mengenang masa lalu.

BACA JUGA  Eco Enzim Berpeluang Dijadikan Tenaga Listrik Masa Depan

Menu pertama yang dijual kala itu adalah ikan saleh dan daun ubi tumbuk, dua hidangan yang kini menjadi identitas kuat rumah makan ini. Seiring waktu, bus-bus tak lagi diizinkan masuk kota, namun Rumah Makan Mandailing tetap bertahan—setia melayani pelanggan yang mencintai cita rasa kampung halaman.

Tanpa Penyedap, Hanya Bumbu Asli

Hj. Afni menegaskan, sejak dulu hingga kini, rumah makannya tidak pernah menggunakan penyedap rasa buatan. Semua masakan mengandalkan kekuatan bumbu rempah khas Mandailing.

“Belut rendang, misalnya, kami masak dengan cara di-sale terlebih dahulu, baru direndang. Jadi daging dan tulangnya lembut, mudah dimakan. Ikan mas di arsik tapi bukan arsik Toba tapi Mandailing. Dan ikan mas nya pun kami beli yang masih hidup agar segar,” jelasnya penuh semangat.

Cita rasa autentik ini membuat Rumah Makan Mandailing Sei Deli itu menjadi langganan banyak tokoh penting. Beberapa waktu lalu, Wakil Gubernur Sumatera Utara, H. Surya, sempat singgah menikmati hidangan di Rumah Makan Mandailing itu. .

Hal senada disampaikan Otti Batubara, warga Medan yang sudah berkali-kali makan di tempat itu. “Rumah makan ini disebut rumah makan ‘raja-raja’. Dari Gubernur almarhum Syamsul Arifin sampai Edy Rahmayadi, semua pernah makan di sini,” ujarnya saat itu.

Bagi banyak pelanggan, Rumah Makan Mandailing Sei Deli bukan sekadar tempat makan. Ia adalah warisan rasa, kenangan masa lalu, dan bukti bahwa kesederhanaan bisa membawa kelezatan sejati.

Di antara aroma gulai dan rendang yang menggoda, terselip kisah perjuangan dan dedikasi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan bagi siapa pun yang datang ke Medan, singgah di rumah makan ini. Di tengah hiruk pikuk Kota Medan, warung beratap seng ini tetap berdiri tegak—mewariskan cita rasa Mandailing yang tak lekang oleh waktu. (Monang Sitohang)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH