MEDAN, PILAR MERDEKA – Kerap melempar senyum kepada para pembeli dan/atau calon pembeli, ia menyebut dirinya, Misna, biasa disapa Bu Misna. Bagi pelanggan setianya, perempuan 61 tahun itu merupakan sosok yang ramah dan mudah akrab. Misna adalah salah satu pedagang kaki lima (K5) yang berjualan aneka makanan.
Ibu tiga anak itu, sudah berjualan selama 10 tahun. Seorang putrinya telah meninggal dunia, kini dua anaknya yang masih ada cewek dan cowok. Si cewek mengenyam pendidikan sebatas SMA dan telah menikah. Sedangkan si cowok, menamatkan pendidikan jenjang D3 jurusan komputer di Universitas Gunadarma dan masih lajang.
Bu Misna juga seorang nenek dengan dua cucu. Setiap hari, ia menjajakan makanan di kaki lima di Jalan Karya Wisata, Medan Johor tepatnya di samping Swalayan Diamond, depan Bank Sumut, di bawah rindangnya pohon mangga.
Bu Misna berjualan dengan sepeda motor yang telah dimodifikasi. Bagian belakang kendaraan itu dibuat kotak berbahan aluminium untuk menyimpan dan meletakkan aneka makanan. Semua makanan disusun rapi dan tampak bersih. Ia juga membawa tenda berbentuk payung untuk melindungi diri, makanan dari terik matahari.

“Saya berjualan setiap hari, kecuali hari Senin. Mulai membuka lapak sekitar Jam 13.00 hingga 17.00 WIB. Terkadang, dagangannya sudah habis sebelum waktu tutup,” ujar Bu Misna kepada Pilar Merdeka.Com, Selasa siang (21/4).
Lapak Bu Misna tak pernah sepi. Interaksinya dengan pelanggan membuat suasana selalu hidup. Silih berganti pembeli datang, diapit pedagang buah dan ketoprak di sebelahnya.
“Bu, lepatnya Rp5.000 ya,” sapa seorang pelanggan pria siang itu. “Bu, mie kuning satu bungkus, pakai risol dan bawang,” timpal yang lain. Semua dilayani Bu Misna dengan senyum ramah.
Bu Misna selalu menjaga kebersihan saat menyajikan dagangannya. Tangannya dilapisi plastik saat menyajikan makanan. Ia juga memakai alat potong yang bersih untuk gorengan. Kebersihan itu yang bikin pelanggan nyaman dan percaya.
Bu Misna mulai menyiapkan dagangannya sejak Jam 7.00 WIB. Ia berbelanja bahan-bahan di Jalan Karya Kasih, Medan Johor tidak jauh dari rumahnya di Jalan Karya Bakti. Semua bahan disiapkan untuk memastikan dagangannya lengkap.
Di rumah Bu Misna dibantu oleh suaminya. Sang suami kini sudah tidak bekerja, sebelumnya adalah pekerja bangunan. Ia membantu menyiapkan bumbu pecal dengan cara menggiling kacang tanah, gula merah, dan bahan lain hingga halus.
Bu Misna menjual beragam makanan sederhana. Di antaranya mie kuning, bihun, pecal, serta gorengan seperti risol, bakwan, dan tempe. Ia juga menjual kue tradisional seperti ongol-ongol dan lepat.
Harga makanan Bu Misna sangat terjangkau. Satu porsi mie atau pecal dijual Rp7.000. Gorengan tiga Rp5.000. Sementara kue ongol-ongol dan lepat dijual empat seharga Rp5.000.
“Dalam sehari itu tidak tentu, kadang bisa habis cepat, kadang tidak. Tetapi kalau habis semua bisa meraih pendapatan sekitar Rp700.000,” ungakapnya.
Bu Misna memilih tetap berjualan di satu tempat. Ia tidak berpindah-pindah lokasi. Pada pagi hari, adiknya yang berjualan, lalu siang hari giliran dirinya. Ia sempat berhenti berjualan karena menjalankan ibadah umroh pada tahun 2024.
Bu Misna adalah simbol keteguhan dan keikhlasan. Di bawah terik matahari, ia terus berdiri, melayani, dan tersenyum. Kisahnya sederhana, tetapi penuh makna tentang perjuangan, keluarga, dan harapan yang tak pernah padam. (Monang Sitohang)

