TELUK NIBUNG, PILAR MERDEKA – Pelabuhan Teluk Nibung menjadi saksi harapan, tawa, dan air mata yang bercampur dalam satu pagi. Di pelataran food court Terminal Penumpang Internasional Teluk Nibung, Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara, suasana haru terasa kuat menjelang keberangkatan kapal ferry menuju Port Dickson, Malaysia.
Pelabuhan Teluk Nibung bukan sekadar tempat singgah. Di sinilah para penumpang melepas keluarga, memanjatkan dan memohon doa, dan menguatkan hati. Wajah-wajah sumringah terlihat, namun di balik senyum tersimpan kerinduan panjang karena perpisahan yang akan berlangsung berbulan-bulan.
Bangunan terminal dengan arsitektur modern menyerupai siput itu menjadi batas awal jarak. Setelah memasuki gedung, komunikasi dengan orang tercinta hanya bisa dilakukan melalui layar ponsel hingga waktu pertemuan berikutnya tiba.
Di sisi dermaga, deretan kantin sederhana menjadi tempat terakhir mengisi perut dan hati. Tidak ada papan nama atau merek besar. Penanda utama kantin-kantin ini adalah ramah tamah pramusaji yang dengan tulus menyapa dan mengundang pengunjung untuk singgah.

Salah satu pramusaji itu adalah Eka (45). Sejak Jam 02.00 WIB dini hari, Sabtu, (24/1), ia sudah berada di lokasi, menanak nasi, memasak air, dan menyiapkan hidangan untuk penumpang yang mulai berdatangan.
Menu yang disajikan sederhana namun hangat. Nasi dengan aneka lauk ikan laut segar, makanan ringan, teh manis panas atau dingin, kopi, dan susu tersedia untuk para penumpang dan pengantar.
Eka ibu tiga anak itu telah bekerja di kantin Pelabuhan Teluk Nibung selama dua tahun. Ia membantu ekonomi keluarga buat bantu-bantu cari biaya anak-anak karena sang suami bekerja sebagai nelayan yang melaut hingga enam sampai delapan hari sebelum kembali ke rumah dengan penghasilan sekitar Rp350.000.
Di Pelabuhan Teluk Nibung terdapat tujuh lapak kantin yang beroperasi menyesuaikan jadwal kapal ferry rute Teluk Nibung, Indonesia – Port Dickson, Malaysia. Aktivitas kantin dimulai Jam 02.30 dan berakhir sekitar 06.30 WIB, menjelang keberangkatan kapal Jam 07.00 WIB.
Eka tidak bekerja sendiri. Ia dibantu dua rekannya yang telah memahami tugas masing-masing. Salah satunya adalah Annisa (19), mahasiswi Universitas Sumatera Utara (USU) Fakultas Ekonomi Pembangunan semester IV.
Annisa bekerja selama libur semester. Ia memanfaatkan waktu luang untuk mencari uang tambahan. Penghasilannya digunakan untuk uang jajan dan kebutuhan hidup di Kota Medan.
Kehadiran Annisa di kantin hanya sementara. Pada siang hari, pekerja lain akan menggantikannya karena kantin hanya buka saat kapal akan berangkat atau saat penumpang tiba dari Malaysia.
Eka dan Annisa adalah potret perempuan gigih Pelabuhan Teluk Nibung. Mereka berdiri di balik hiruk pikuk keberangkatan, melayani dengan senyum, dan menjadi bagian dari cerita panjang para pencari rezeki ke negeri seberang.
Di pelabuhan ini, harapan tidak hanya berlayar bersama kapal. Harapan juga tinggal di dapur-dapur kecil, di balik panci nasi hangat, dan di tangan perempuan-perempuan kuat yang bekerja dalam diam. (Budi Sudarman)

