BerandaPendidikanHardiknas 2026, Lenggak-Lenggok di Pentas SDN Cibubur 01

Hardiknas 2026, Lenggak-Lenggok di Pentas SDN Cibubur 01

Catatan Nasrul Sitohang
Setidaknya, sudah dua tahun berturut-turut, SDN Cibubur 01 selenggarakan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 dan 2026, terlihat lebih semarak dari tahun-tahun sebelumnya. Seremonial peringatan Hardiknas dua tahun belakangan ini, tampak dikemas bernuansa budaya, kemilau ragam pakaian adat sebagai gambaran budaya nusantara.

Pagi itu, Senin (04/05), Jam 06.00 WIB, satu per satu siswa-wi yang sebagian didampingi masing-masing orang tua memasuki halaman sekolah, sebagian ada berpakaian adat, mengenakan sadariah (pakaian ala muslim) dan sebagian lagi berpaikan putih (non muslim). Para guru pun terlihat berpenampilan rapi, berdiri sambil memperhatikan kedatangan anak-anak didiknya. Persis di depan ruang Kepala Sekolah, berdiri pentas yang telah didekorasi sedemikian rupa.

Tepat Jam 07.00 WIB, kegiatan dimulai dengan Upacara Bendera Hardiknas, sambutan Pembina Upacara, penampilan marawis pertanda dimulai acara, dan dilanjutkan pembukaan acara oleh MC. Melengkapi rangkaian acara, ditampilkan atraksi seni beladiri (silat) serta sejumlah perlombaan yang bersifat edukatif.

Fashion Show menjadi ajang penampilan terdepan dan meriah. Tiap peserta tampil berpasangan, berpakaian adat, bergaya sambil melenggak-lenggok di atas kanvas berkelas layaknya model profesional. Ajang Fashion Show itu, diikuti siswa-wi mulai jenjang kelas 1 sampai kelas 6.

Hardiknas
Atraksi Pencak Silat, salah satu rangkaian kegiatan peringatan Hardiknas 2026. (Foto. Pilar Merdeka)

Kelihatannya, para peserta Fashion Show (model dadakan) terkesan menikmati dan menghayati penampilannya di atas papan pentas, sedangkan sebagian siswa-wi lainnya dan para orang tua murid yang hadir terfokus serius ke arah Fashion Show. Tampil bergantian mengenakan pakaian atau busana adat, antara lain pakaian adat Papua, Kalimantan-Dayak, Jawa, Lampung, Palembang, Minang, Batak-Mandailing, Aceh dan pakaian Betawi.

Usai penampilan Fashion Show, berlanjut perlombaan baca puisi, bernyanyi, berdongeng dan pantomin. Kurang dari Jam 09.00 WIB, seluruh rangkaian perlombaan selesai. Setelah diumumkan, hari itu juga sang pemenang 1-3 tiap perlombaan naik ke atas panggung untuk menerima hadiah. Penutupan acara disertai pembacaan do’a oleh H. Zaenudin, S.Pd.

BACA JUGA  Kemajuan Pendidikan di Sumut Nyata, Butuh Komitmen Perbaiki Kualitas

Peringatan Hardiknas di SDN. Cibubur 01, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, dalam dua tahun terakhir patut untuk dicatatkan sebagai bentuk apresiasi kepada pihak sekolah selaku penyelenggara. Apresiasi itu bukan atas terselenggara dan meriahnya acara peringatan Hardiknas tersebut, tetapi di balik itu adalah tak terlepas dari peran, partisipasi dan/atau kerjasama orang tua para murid.

Hardiknas
Peserta Fashion Show didaulat foto bersama. (Foto. Pilar Merdeka)

Satu hal yang tak terbantahkan, persiapan pakaian/busana adat butuh biaya, dan biaya sendiri-sendiri. Hampir semua pakaian adat yang dikenakan adalah dipinjam berbayar (sewa). Sebagian lagi, si murid kebetulan sudah punya, dan beberapa murid bersedia membeli untuk menambah kelengkapan pakaian adat tersebut.

Seminggu sebelum peringatan Hardiknas, para orang tua sudah kasak-kusuk saling tanya dan tukar informasi penyewaan pakaian adat. Disamping mencari harga sewa pakaian lebih ringan, tidak dikenakan jaminan (saling percaya saja), dan para orang tua juga saling sumbang saran untuk penyesuaian keragaman agar tidak terfokus terhadap satu jenis pakaian adat saja. Biaya sewa bervariasi, antara Rp 65 ribu-70 rb per pakaian adat.

Septia Ningsih, orang tua dari Aruna (Kelas 2A) dan Rafa (Kelas 4D), menuturkan bahwa kebetulan anak-anaknya mau mengenakan pakaian adat saat peringatan Hardiknas. “Sebagai orang tua, saya tentulah menyokong anak-anak saya,”ujar Septia, seorang Anggota Korlas 2A.

Lanjutnya, kalau berhitung uang sewa pakaian adat, seperti sewa pakaian Betawi Rp.70 rb, pastinya uang sebesar itu bisa digunakan untuk keperluan lain. Tapi Septia tidak keberatan merogoh dompet untuk sewa pakain Betawi. “Saya anggap partisipasi demi memeriahkan Hardiknas,”imbuhnya.

Hardiknas
Septia Ningsih dan Ria bersama 2 orang tua murid lainnya. (Foto. Pilar Merdeka)

Sementara Ria, orang tua Tama Sitohang, Kelas 2A, mengatakan ia sangat mendukung selagi anaknya mau mengenakan pakaian adat, dan dipilih pakaian adat Aceh. Apalagi itu pakaian lengkap dengan topi yang menyerupai pakaian kebesaran Teuku Umar, seorang Pahlawan Nasional Nangroe Aceh Darussalam.

BACA JUGA  Sumur Bor Diresmikan, Siswa Triwijaya Ciadeg Kini Tak Kesulitan Air

Septia dan Ria sependapat bahwa kemeriahan dan lebih “waaooo-nya” peringatan Hardiknas di SDN Cibubur 01, tak lain Fashion Show yang mengenakan pakaian adat adalah termasuk salah satu pentolan dari rangkaian acaranya.

Sebagai penonton, berharap agar interaksi dua arah antara guru dengan orang tua murid tetap terjalin dan berkesinambungan di masa mendatang. Terlebih guna merawat partisipasi dan toleransi dalam rangka memeriahkan hari-hari besar nasional. Di pihak lain, pemerintah dalam hal ini Pemda DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikan, juga diharapkan supaya lebih peduli dan perhatian ketika penyelenggaraan peringatan Hardiknas, khususnya bagi tingkat sekolah dasar.

Kita tunggu Hardiknas 2027, di atas panggung SDN Cibubur 01, pentas lenggak-lenggok Fashion Show ragam pakaian/busana adat nusantara.(Penulis, Wartawan Pilar Merdeka.Com)

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH