BerandaOpiniJadilah Pemimpin Pandita Raja

Jadilah Pemimpin Pandita Raja

Oleh Wilmar Eliaser Simandjorang, Sianjur Mula-Mula, Lereng Dolok Pusuk Buhit, Samosir – 10 Oktober 2026
Saya menulis ini di usia 72 tahun. Bukan di Pulau Jawa, bukan di Borneo; bukan di Medan, tapi di rumah sederhana di Sianjur Mula-Mula, di lereng Dolok Pusuk Buhit. Saya sudah mulak tu Bona Pasogit.

Banyak yang bertanya, mengapa pulang?

Saya pulang karena saya teringat pesan Ompu saya: Jadilah Pemimpin Pandita Raja.

Siapa Pandita Raja Itu?

Orang sering mengira Raja Batak itu hanya soal kekuasaan. Padahal tidak.

Dalam tatanan kehidupan sosial-religiusnya, suku Batak Toba percaya dengan adanya Sahala Harajaon yang diperoleh dari Tuhan pencipta.

Yang perlu saya tekankan di sini: Bahwa sahala diberikan kepada 2 garis keturunan Si Raja Batak baik kepada anak sulung maupun anak bungsu, masing-masing keturunan sahala diberikan kepada anak sulung yaitu Toga Sinaga dan Borbor, dan diberikan Podang Halasan ke Palti Raja keturunan Toga Sinaga. Dan ke anak bungsu diberikan Podang Gaja Dompak kepada Raja Sisingamangaraja.

Dari pembagian sahala itulah lahir tiga gelar Pandita Raja yang kita kenal: Ompu Palti Raja dari kelompok Lontung/Toga Sinaga pemegang Podang Halasan, Jonggi Manaor dari kelompok Borbor, dan Sisingamangaraja dari kelompok Sumba/Naiambaton pemegang Podang Gaja Dompak.

Mereka bukan raja yang duduk di singgasana. Mereka adalah imam tinggi. Ketika kemarau panjang melanda, merekalah yang memimpin ritual Hoda Somba, mempersembahkan kuda kepada Debata Mulajadi Nabolon.

Dan di antara ketiga nama itu, satu adalah darah penulis sendiri: Ompu Palti Raja Sinaga.

Asal-Usul Kita: Toga Sinaga dan Boru Malau

Marga Sinaga menurut masyarakat Batak Toba merupakan keturunan dari Toga Sinaga, anak sulung dari Raja Lontung dan berasal dari Urat, Samosir.

BACA JUGA  Pemerintah Perlu Berikan Perhatian Khusus terhadap Kampung Nelayan Terdampak Kerusakan Lingkungan

Garisnya jelas: Si Raja Batak, Guru Tatea Bulan, Tuan Saribu Raja, Si Raja Lontung, Toga Sinaga.

Di buku-buku umum tertulis istri Toga Sinaga adalah Boru Limbong. Namun di Sianjur Mula-Mula, di mana saya tinggal sekarang, tetua-tetua menyebut istri Toga Sinaga adalah Boru Malau. Ini yang hidup di Bona Pasogit. Malau adalah tetangga Sinaga di lereng Pusuk Buhit. Hubungan Bona Tulang kita.

Untuk literasi ini saya memakai versi Bona Pasogit: Toga Sinaga dan Boru Malau.

Dari Toga Sinaga dan Boru Malau lahir tiga putra: Raja Bonor, Raja Ompu Ratus, dan Raja Hasagian.

Raja Bonor memiliki tiga putra: Raja Pande, Raja Tiang Ditonga, Raja Suhut Ni Huta.

Raja Ompu Ratus memiliki tiga putra: Raja Ratus Nagodang, Raja Sitinggi, Raja Siongko.

Raja Hasagian memiliki tiga putra: Raja Guru Hatahutan, Raja Barita Raja, Raja Datu Hurung.

Tiga kakek, sembilan bapak. Itulah yang disebut _si tolu ompu _si sia ama -. Monumen persatuan kita berdiri di Desa Urat 2, Palipi, Samosir. Organisasi kita, PPTSB, Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dohot Boru, sudah ada sejak 1940 di Medan, berawal dari panitia yang diketuai Renatus Sinaga.

Dari Garis Mana Ompu Palti Raja?

W. Hutagalung pada 1961 mencatat: Sinaga Bonor mempunyai 3 orang anak Pande, Tiang Ditonga, dan Suhut Ni Huta, dari Pande lah lahir Ompu Palti Raja.

Jadi Ompu Palti Raja adalah cucu dari Raja Bonor, pomparan Toga Sinaga dan Boru Malau. Beliau adalah Pandita Raja dari kelompok Lontung.

Palti Raja dan Jonggi Manaor berdomisili di Samosir dan Sisingamangaraja bertempat di Bakkara. Kedudukan mereka sama tinggi secara spiritual.

Pelajaran Sejarah : Ketika Pandita Raja Tidak Bersatu

Sejarah mencatat, Palti Raja praktis menjadi saingan Sisingamangaraja selain Jonggi Manaor.

BACA JUGA  AWAL, Akhirnya Tiba

Guru Besar UNIMED, Bungaran Antonius Simanjuntak, pernah menulis sebuah kalimat yang terus saya ingat: “Barangkali sejarah Batak akan lain bila Raja Sisingamangaraja XII, Ompu Palti Raja, Jonggi Manaor bersama Raja Sijorat-Baligeraja bersatu padu melawan penjajahan Belanda.”

Mereka kalah bukan karena Belanda lebih hebat. Mereka kalah karena tidak bersatu. Belanda masuk dengan politik pecah belah.

Itulah pelajaran pertama: Sahala Harajaon tanpa persatuan adalah sia-sia.

Lalu Apa Tugas Kita Hari Ini?

Saya melihat pomparan kita hari ini. Ada yang di Bandung, ada yang di Tano Deli, Medan, ada yang di Jakarta. Kita semua adalah Si Tolu Ompu Sisia Ama. Mau dari Bonor, mau dari Ompu Ratus, mau dari Hasagian, kita sama.

Jika dulu Ompu Palti Raja memimpin ritual Hoda Somba ketika kemarau, maka hari ini tugas kita sebagai Pemimpin Pandita Raja adalah memimpin ketika ada kemarau rohani: ketika keluarga lupa berdoa, ketika punguan lupa tarombo, ketika anak cucu lupa jalan pulang ke Bona Pasogit.

Saya tidak menulis ini untuk meninggikan satu cabang di atas cabang lain. Saya menulis ini untuk mengingatkan: Jadilah Pemimpin Pandita Raja di rumahmu masing-masing.

  • Jadilah pemimpin yang mendoakan, bukan hanya yang memerintah.
  • Jadilah pemimpin yang merapatkan, bukan yang memecah.
  • Jadilah pemimpin yang pulang, yang menjaga Urat dan Sianjur Mula-Mula, supaya cucu-cucu kita tahu dari mana mereka berasal.

Saya di usia 72 tahun, sudah mulak tu Bona Pasogit. Saya sudah tidak mencari apa-apa lagi.

Saya hanya ingin, ketika saya dipanggil Tuhan nanti, masih ada yang melanjutkan: menjadi Pemimpin Pandita Raja untuk kemuliaan Tuhan saja.

Horas ma di hita Pomparan Si Raja Batak!

Wilmar Eliaser Simandjorang
Sianjur Mula-Mula, Samosir

BACA JUGA  Yuk! Liburan Nataru di Danau Toba, Pesona Alamnya Selalu Buat Kangen

Google

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

- Advertisment -

DAERAH